
"Hallllooooooo Oliver.. Javier.. " Tiffany berteriak senang ketika Megan muncul di rumah nya.
Dia mengambil Oliver dari babysitternya, lalu menggendong sambil menggoyang-goyangkannya.
"Welcome home sister.." Juna muncul dari dalam kamar.
Ya, satu bulan setelah kejadian kemarin, Juna mengadakan konfrensi pers jika Megan adalah saudara kembarnya. Dia juga menyuruh mereka tinggal di rumah Juna.
Rumah yang begitu sepi akhirnya kini di huni oleh 4 orang dewasa dan 2 bayi. Juna cukup senang karena hari-harinya tidak akan kesepian seperti dulu.
"Jun, coba gendong.." Tiffany meminta Juna menggendong Oliver yang menangis.
"Aku ga bisa, Tiff.." Tolak Juna. Tapi, karena Tiff terus menyodorkan, akhirnya Juna mau juga menggendong baby Olie. Dan ajaibnya, Olie berhenti menangis.
"Wah, jadi kalau menangis, aku bawa saja ke kamar kalian." seru Megan senang.
"Awas saja kalau berani." jawab Juna cepat.
"Kalian bikin lah sendiri.." Bobby yang baru masuk segera menginterupsi obrolan mereka.
"Kalian ingin rumah ini jadi taman kanak-kanak?" protes Juna.
Dia bukannya tidak ingin memiliki anak, tapi dia tidak sanggup untuk membagi pikirannya pada Tiffany dan anaknya. Menjaga satu Tiffany saja sudah merepotkan, apalagi di tambah satu anak.
"Kalian istirahat dulu saja..kamar kalian di lantai 3." Tiffany membantu Juna untuk memberikan Baby Olie kepada nanny nya.
"Jun, aku pergi dulu." Megan memeluk Juna sebelum pergi ke lift.
Juna mengangguk. Dia merangkul pinggang Tiffany yang berdiri didekatnya. Dia merasa harus mengatakan hal ini pada Tiffany.
"Tiff, apakah kamu suka Oliver dan Javier?" tanya Juna. Dia memutar badan Tiffany supaya menghadapnya.
"Ya.. apakah kamu juga ingin anak kembar?"
"Itu masalahnya, Tiff. Aku berubah pikiran." Juna mengajak Tiff untuk duduk di sofa. "Aku tidak ingin punya anak."
"Juuun.. kenapa kamu bilang hal yang tidak masuk akal?" kata Tiff setengah berteriak. Dia terkejut karena Juna tiba- tiba membicarakan hal ini. Wanita mana yang tidak ingin memiliki anak?
"Aku tidak siap untuk menjaga mereka."
"Tapi.." Tiff sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Dia meninggalkan Juna yang masih terdiam di sofa.
__ADS_1
*
*
*
"Pak Juna, anda tidak apa-apa?" Pembantu Juna menghampiri majikannya yang kini sedang tertidur di sofa.
Juna mengulet. Kepalanya pusing dan lemas. Juna bahkan tidak sadar jika dia ketiduran di kursi.
"Mana Tiffany?"
"Sejak tadi nyonya tidak keluar kamar."
Juna melenggang masuk ke dalam kamar. Tiff yang menyadari ada seseorang yang masuk, hanya melirik sesaat, lalu kembali sibuk nonton drama Korea.
"Tiff... kamu masih marah?" Juna merebahkan badannya pada paha Tiffany.
"Hmm.."
"Aku sepertinya sakit."
Tiffany mengecek dahi Juna. Badannya sangat panas. Wajah Juna juga terlihat pucat sekali.
Juna menahan tangan Tiffany. Dia bangun, lalu memeluk Tiffany dengan erat. "Tidak perlu dokter,, kamu jangan ke mana-mana."
"Oke, Oke.. aku di sini." kata Tiff bingung. Tidak biasanya Juna manja seperti ini. Apa Juna salah makan?
"Tiff.. aku mual." Tanpa banyak bicara lagi, Juna pergi ke kamar mandi, lalu memuntahkan semua isinya di closet.
Tiffany berlari cepat ke kamar mandi. Dia mengambil minyak angin di lemari obat dan mengusapkannya pada leher Juna.
Dia juga memberi pesan pada Dokter Andre untuk datang, tanpa sepengetahuan Juna.
"Apakah sudah?"
Juna mengangguk. Tiff memapah Juna kembali ke ranjang. Dia memijit lengan suaminya sambil berpikir apa yang sudah Juna makan tadi. Mereka hanya sarapan susu dan sereal. Tapi jika Juna sakit, seharusnya Tiffany juga sakit.
Setelah menunggu 1 jam, Dokter Andre akhirnya datang. Juna sudah tidak bisa protes karena badannya begitu tidak enak dan kepalanya pusing.
"Sejak kapan dia terlihat sakit?" tanya Dokter Andre setelah melepas stetoskop nya.
__ADS_1
"Baru saja.Tapi akhir-akhir ini dia sulit tidur." jelas Tiffany.
"Apa dia banyak makan?"
"Ya, dia makan lebih banyak dari biasanya."
Dokter Andre tersenyum. "Selamat Tuan dan Nyonya Liem."
Juna dan Tiffany saling berpandangan. Mereka tidak mengerti apa yang dokter itu bicarakan. Apakah ini maksudnya?
"Kemungkinan Anda sedang hamil." lanjut Dokter Andre.
"Astaga." Tiff menutup mulutnya. Dia sampai lupa sesuatu yang sangat penting. Tiffany belum datang bulan.
"Tapi, aku yang sakit, bukan dia." Juna tampak bingung dengan pernyataan Dokter Andre.
Dokter Andre tertawa. "Silakan dicoba." Dokter itu memberikan testpack pada Tiffany.
Tiffany memandang Juna. Juna memberi kode supaya Tiffany mengeceknya.
"Kenapa kamu seperti tidak senang?" tanya Dokter Andre saat Tiffany sudah masuk ke dalam.
"Anda sungguh ingin tau urusan orang muda." kata Juna sambil kembali memejamkan mata.
"Junaaaaaaaaaa" Tiffany berteriak dari kamar mandi. Dia muncul dengan hasil testpack di tangan.
Juna mengambil testpack dari tangan istrinya dan dia melihat 2 garis merah.
"Kamu hamil?"
"Bagaimana ini?" Tiffany tampak bingung mengungkapkan perasaannya. Di satu sisi dia sangat senang, tapi Juna baru saja berkata jika dia tidak ingin memiliki anak.
"Saya pergi dulu,, segera bawa Tiffany ke dokter." Dokter Andre menepuk pundak Juna.
"Tiff, kenapa menangis?" Juna menangkap wajah Tiffany dengan tangannya.
"Aku punya anak. Tapi kamu tidak mau." ucap Tiff lirih. Dia bahkan tidak berani memandang wajah Juna.
Juna tertawa. Dia mencium dahi Tiffany. "Sayang, kalau sudah terjadi kita harus Terima ini.. Kita harus jaga dia." "Meskipun tidak mudah, aku akan berusaha untuk besarkan dia dengan baik."
hibur Juna.
__ADS_1
"Terima kasih Juna."
Juna tersenyum. Dia menghapus air mata Tiffany. Dia tidak tau apa yang akan terjadi ke depannya, tapi satu hal yang Juna harus lakukan sekarang adalah belajar menjadi orang tua yang baik supaya kelak anaknya tidak mengalami hal yang sama seperti dirinya dulu.