
"Jess..ternyata kamu sangat berbakat." Juna tampak bercakap-cakap sambil berjalan keluar pintu ruangan.
"Ah, biasa saja.. ini bukan soal besar." Wanita dengan rambut merah itu menepuk pelan lengan Juna. Wajahnya juga bersemu merah mendengar pujian dari Juna.
"Apa kamu ingin makan dulu?" tawar Juna.
Jo yang berada di dekat Juna merasakan ada yang mengamati mereka. Jo menengok ke kanan kiri untuk memastikan. Pandangan matanya berhenti ketika dia melihat bayangan seseorang yang sepertinya sedang bersembunyi di belakang tembok.
Jo perlahan berjalan ke depan. Dugaannya tepat. Ada seseorang yang memata-matai mereka. Dia menyergap kedua tangan orang itu, lalu menariknya keluar dari tempat persembunyiannya.
"Jun.." Jo membawa orang yang menggunakan pakaian serba hitam itu ke hadapan Juna.
Juna mengamati orang yang bertubuh kecil itu. Dia menggunakan topi hitam dan masker hitam.
Orang itu tampak melengos ketika Juna mendekat.
Jo melepas paksa topi orang itu dengan satu tangannya.
"Tiffany!" teriak Jo terkejut.
Jo segera melepaskan tangan Tiffany karena takut jika Juna akan menghajarnya.
Tiffany meringis dengan wajah tanpa dosa. Sedangkan Juna sudah bersedekap meminta penjelasan dari istrinya itu.
"Supriseeee..." ucap Tiffany sambil merentangkan kedua tangannya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Juna tegas.
"Aku kangen sama kamu, sayaaang..." Tiff bergerak memeluk Juna di depan Jo dan juga Jessica.
"Terus kenapa kamu gunakan pakaian seperti ini ke kantor suami mu?"
Tiff menengok ke arah Jessica tanpa melepaskan Juna. Dia seolah sedang menunjukan jika Juna adalah miliknya.
"Tentu saja karena aku harus menjaga suami ku dari para gadis-gadis genit." Tiff memicingkan matanya pada Jessica sampai Wanita itu merasa risih.
"Maksudnya dia?" Juna jelas paham dengan maksud Tiffany.
"Nyonya Liem yang pintar, dia itu adik dari Boy. Dia sedang mengurus proyek perumahan Pak Juna yang baru." jelas Jo sambil menekankan kata pintar, supaya Tiffany sadar.
__ADS_1
Tiffany melonggarkan pelukannya. Dia merasa sangat malu dan bersalah karena sudah menuduh Jessica gadis genit.
"Jess, kenalin ini istri ku, Tiffany." "Tiff, ini Jessica, rekan kerja ku." Juna memperkenalkan status masing-masing.
"Wah, Boy tidak kasih tau kalau kamu sudah menikah." ucap Jessica sambil menjabat tangan Tiffany.
"Kami baru saja menikah kemarin, jadi wajar kalau istriku ini cemburu." jelas Juna sambil tertawa.
"Siapa bilang cemburu?" kata Tiffany lirih.
"Sikap anda terlihat jelas sekali, nyonya Liem." sindir Jo.
"Ya, itu wajar. Kalau aku punya suami tampan seperti Juna, aku akan ikat dia di kamar." sambung Jessica yang juga tertawa geli.
Tiffany hanya dapat bersembunyi di ketiak Juna. Dia menempel begitu dekat dengan Juna untuk mencari perlindungan.
"Sudah lah.. kita makan saja.." ajak Juna akhirnya.
*
*
*
Tiffany masih saja cemberut karena sepanjang perjalanan tadi, dia menjadi bahan bully an Jo dan Juna.
"Kamu mau pesan apa sayang?" tanya Juna sambil menyodorkan menu.
"Kamu saja yang pesan, aku tidak bisa baca menu nya."
"Steak di sini recomended sih.. kamu bisa coba Tiff.." saran Jessica.
"Ya, itu saja." kata Tiff cepat. Dia tidak mau ambil pusing karena nafsu makannya sudah hilang.
"Baiklah,, aku penasaran, bagaimana kalian bisa bertemu?" tanya Jessica setelah urusan pilih memilih menu selesai.
"Di pesta pernikahan Megan. Waktu itu aku menumpahkan whiskey ke bajunya. Dan celananya sobek." cerocos Tiff.
"Really?" Jessica menutup mulutnya yang sudah melongo karena tidak percaya jika pertemuan mereka ternyata begitu memalukan.
__ADS_1
"Bukan. Kami bertemu di restoran. Dia menabrak aku di depan pintu." "Tiff selalu membuatku kesal sejak pertama bertemu." kata Juna santai.
Tiff menengok. Dia tidak ingat pernah bertemu Juna di restoran.
"Waktu itu kamu bertemu dengan Megan di sana." jelas Juna dengan kesal karena Tiffany melupakan moment pertama pertemuan mereka.
"Ya, aku menabrak seseorang. Tapi aku tidak tau itu kamu." aku Tiff dengan sedih.
"Tapi itu bukan masalah, karena yang terpenting adalah sekarang aku bisa mendapatkan istri yang begitu unik." Juna melingkarkan tangannya pada pundak Tiffany.
"Kalau kamu bagaimana Jess? Kamu sudah lama bekerja sama dengan Juna?" Tiff balik bertanya pada Jessica.
"No. Ini pertama kali aku bekerja sama dengan orang lain. Dad tidak mengijinkan aku untuk kerja mandiri. Aku hanya disuruh bermain di kantor Boy. Tapi, Juna begitu baik untuk percayakan desain interior propertinya pada ku." cerita Jessica dengan riang.
"Jessica lulusan terbaik di kampusnya. Sayang sekali kalau bakatnya tidak digunakan." Juna menimpali cerita Jessica.
Makanan mereka datang sehingga mereka berhenti bercakap-cakap.
Semua makan dalam diam. Tapi, Tiffany sesekali memandang Jessica yang duduk di depannya. Jessica memiliki wajah keturunan Korea, seperti Marsha. Dia juga tampak menarik dan terlihat sangat berpendidikan. Jika dibandingkan dengan Jessica, Tiffany jelas kalah dari setiap segi. Dia hanya lulusan SMA dengan nilai pas-pas an, keluarga Tiffany juga broken home dan miskin. Selain itu, Tiff bahkan tidak dapat membedakan contour dengan eyeshadow.
"Kalau cuma diliat aja, makanan nya ga akan habis." sindir Juna.
Tiffany tersadar. Dia menusukan pisau nya dengan kencang dan..
PRANG
Pisau Tiff terlempar ke bawah. Saus steak di piring juga terciprat ke kaosnya.
"Astaga, ceroboh sekali." Juna mengambil napkin nya dan membantu mengelap kaos Tiff yang kotor.
"Kamu tidak apa-apa Tiff?" tanya Jessica panik.
Mendengar itu, Tiffany malah menangis sesenggukan.
"Aku ingin pulang, Jun." Tiffany menarik kemeja Juna.
"Kami pergi dulu Jess..Aku akan minta Jo untuk antar kamu." Juna membantu Tiffany berdiri dari bangku nya. Dia juga memapah Tiffany yang masih menangis.
Jessica memandang kerpegian mereka dengan perasaan tidak enak. Tidak lama Jo masuk ke dalam dan menemui Jessica yang masih bengong.
__ADS_1
"Sepertinya aku mengganggu pasangan baru itu." ucap Jessica lirih.
"Tidak apa-apa.. Aku jamin mereka akan baikan dalam waktu kurang dari 1 jam." Jo hanya senyum-senyum sendiri membayangkan pasutri itu.