Pilihan CEO Tampan

Pilihan CEO Tampan
Pengakuan Tim


__ADS_3

Jogja


Tiffany senang karena pekerjaannya bisa dilakukan sambil healing. Tim mengurus klien nya hanya 3 jam saja, setelah itu mereka pergi jalan-jalan di kota Jogja. Tiff belum pernah ke kota ini seumur hidupnya, jadi dia begitu senang berjalan-jalan di sini. Tim menyewa motor sehingga mereka bisa berjalan-jalan ke lokasi yang jauh.


Saat ini mereka sedang menuju ke pantai selatan, karena Tim begitu menyukai pantai.


Jo sejak tadi mengikuti mereka dengan jarak yang aman. Dia juga menyewa sopir pribadi supaya bisa tetap memberikan laporan ke Juna sekaligus menangani para rekan bisnis Juna yang selalu mengejarnya.


Baru saja di kirim Video Tim dan Tiffany boncengan, Juna sudah menelepon.


“Kenapa mereka naik motor?” Bentak Juna.


Jo terpaksa menjauhkan ponselnya supaya telinganya tidak rusak.


“Mana gue tau. Mungkin Tiffany sukanya naik motor.”


“Itu bahaya jalannya, Jo.”


“Ya terus aku harus gimana?” Tanya Jo bingung.


“Aku telepon Tiffany sekarang.”


“O..ke.” Jo tidak sempat menyelesaikan kata-katanya karena Juna sudah menutup telepon seperti biasa.


Belum sampai 5 menit, ponsel Jo berdering lagi. Juna calling..


“Jo, dia reject telepon gue.”


Seketika Jo tertawa geli. Baru pertama kali bosnya terlihat lugu dan bodoh. Jo sempat berpikir mungkin ini adalah hasil dari tuaian Juna. Dia selalu saja mereject telepon Marsha, sekarang Teleponnya yang di reject oleh Tiff.


“Sudah lah, Tim juga jago naik motornya. Lo urus aja kerjaan lo yang ga akan pernah kelar.” Kata Jo menghibur sekaligus menyindir Juna.


“Jo kamu aku pecat?"


“Oke,,oke,, jangan bahas itu. Lagian bapak Juga sih... pacar pergi sama cowo lain di oke in aja. Sekarang bingung kan..”


'Tut.. tut...' untuk ke seribu kalinya, Juna menutup telepon Jo secara sepihak.


Jo menarik nafas panjang supaya dia bisa sabar menghadapi bos yang tidak punya akhlak itu.


***


Tim dan Tiffany bermain sampai sore di pantai. Sebagai detektif, Tim dengan mudah bisa menyadari keberadaan Jo, tapi dia tidak memberitahukan hal itu pada Tiffany.

__ADS_1


"Seru banget kan..." Tim memulai sandiwaranya. Dia dan Tiff duduk di sebuah bangku yang menghadap ke pantai sambil meminum kelapa muda.


"Ya,sudah lama aku tidak liburan."


Tim tertawa. Dia memberikan sedotan kelapa muda untuk Tiffany. Tiffany langsung meminum kelapanya karena dia begitu haus.


"Tiff,, boleh aku bilang sesuatu?" Tim memegang satu tangan Tiffany. Tiffany cukup terkejut dengan Tim. Dia berusaha melepaskan tangan Tim. Entah kenapa kata 'aku bilang sesuatu' itu begitu horor. Dan Tiffany mempunyai firasat yang buruk.


"Bilang apa Tim?"


"Sejak ketemu kamu, aku sudah suka sama kamu Tiff."


Deg. Apa yang ditakutkan Tiff terjadi. Tim memang jauh berbeda dengan Juna. Dia bisa melakukan hal yang tidak bisa Juna lakukan. Tim bisa naik motor, Tim bisa membuatnya tertawa lepas, Tim juga mengajaknya jalan-jalan. Tapi, Tiff tidak dapat melepaskan pikirannya dari Juna. Saat ini pun Tiff sedang mengkhawatirkan pria itu.


***


Jo hampir saja terjatuh dari kursinya mendengar ucapan Tim ke Tiffany. Juna harus tau ini. Dia menelepon Juna, tapi ponsel nya tidak aktif.


"Haduh, bisa perang Dunia nih. Ke mana sih tuh si bos kejam itu?" omel Jo sambil terus berusaha menelepon Juna.


"Apa yang perang Dunia? Siapa yang kejam?"


"Ya Juna..kalau dia lihat ini, bisa habis.." Ucap Jo sambil menengok ke suara di belakangnya.


"Lo di sini?" Tanya Jo setengah berteriak.


"Kurang ajar dia." Juna sejak tadi melihat Tim memegang tangan Tiffany. Dia sudah menggulung lengan kemejanya dengan pandangan membunuh.


"Tenang dulu Jun.. Kita liat Tiffany akan seperti apa." Saran Jo.


Dia sebenarnya hanya ingin Juna supaya sabar dan tidak gegabah.


Kembali kepada Tim dan Tiffany yang masih bingung dengan pria di depannya.


"Sorry Tim.. Aku sudah punya pacar." Tolak Tiff.


"Siapa?"


"Juna Liem."


Juna sedikit mendapat angin segar ketika Tiff mengaku pada Timothy. Sedangkan Tim tampak sedikit kecewa, tapi dia bisa menguasai perasaannya. Meskipun ini hanya sandiwara, tapi dia betul menyukai Tiffany. Kepribadian Tiffany sangat baik dan dia orang yang tulus. Sulit menemukan orang seperti Tiffany di jaman sekarang. 1 juta banding 1. Tim hanya menemukan 2 selama hidupnya. Satu adalah Tiffany dan satu lagi masa lalunya.


"Kamu yakin sama dia?"

__ADS_1


"Entahlah.. Aku masih bingung soal Megan.." Ucap Tiff sedih. Dia tidak tau hubungan macam apa yang sekarang Juna jalani dengan Megan. Di tambah perkataan Marsha di bandara tadi pagi.


"Tolong lepaskan tangan anda." Juna berdiri di belakang Tiff. Tiff menarik tangannya, dan, segera bangun dari kursinya. Dia menatap Jo dan Juna bergantian.


"Kenapa di sini?" Tanya Tiffany terbata. Dia takut Juna akan menghajar Tim atau marah padanya karena salah paham.


Juna mengambil tisu di saku celananya, lalu mengelap tangan Tiffany. Cukup satu kali saja Tim memegang tangan Tiffany.


"Kamu sibuk kerja kan?" Tanya Tiff lagi.


"Aku tidak akan biarkan serigala ini dekatin pacar aku.” Juna mencium tangan Tiffany yang sudah dia lap di depan Tim dan Jo.


“Nah itu bisa.” Ucap Jo lirih tapi suara nya bisa terdengar jelas di telinga Juna.


“Apakah pekerjaan kalian di sini sudah selesai?” Tanya Juna sambil terus memegang tangan Tiff.


“Ya,, sampai ketemu besok di Jakarta nona..” Tim tersenyum pada Tiffany. Tim memutuskan untuk pergi lebih dulu meninggalkan pasangan kekasih dan obat nyamuk yang selalu menyertainya.


“Ayo kita pulang.” Juna begitu senang menggandeng tangan Tiffany. Tapi baru beberapa langkah Tiffany berhenti dan tidak mau jalan lagi.


“Pulang?” tanya Tiff heran.


“Iya pulang.”


Tiffany diam saja. Dia tidak mengerti otak Juna terbuat dari apa. Apa Juna tidak pernah pergi berkencan saat bersama Marsha?


Juna sedikit bingung dengan Tiffany karena tampak nya dia keberatan untuk pulang. Sampai di mobil, sopir, Juna, Jo dan Tiff hanya diam dengan pikiran masing-masing.


"Jun, kita langsung pulang?" Tanya Jo memulai pembicaraan. "Maskudnya lo sama Tiff ga mau jalan-jalan dulu?" Pancing Jo.


Juna menaikan alis nya. Dia lalu menengok ke Tiffany yang sejak tadi terus memandang keluar jendela.


"Oke, kita jalan-jalan.." Kata Juna akhirnya.


Tiff langsung menengok senang sambil memandang Juna. "Serius?"


"Iya, kita ke mall."


Sorot mata Tiff berubah seketika. Mall bukan tempat yang menarik untuk Tiffany.


"Ehem, lo ga tanya ke Tiff dia mau ke mana?" Potong Jo yang menyadari situasinya.


"Astaga...Kamu mau ke mana, Tiff?" Tanya Juna akhirnya.

__ADS_1


Tiff membisikan sesuatu di telinga Juna. Juna melepaskan tangan nya yang sejak tadi menggenggam Tiff, lalu mengendorkan dasinya yang terasa mencekik.


__ADS_2