Pilihan CEO Tampan

Pilihan CEO Tampan
Bukan sakit jantung


__ADS_3

Rumah Sakit Husada


Juna dapat dengan mudah masuk ke ruangan spesialis jantung tanpa melalui proses pendaftaran. Seorang perawat berlari mengikuti dia karena sembarangan saja masuk ke ruang dokter.


"Hey, tuan muda sebastian." Ucap Juna kasar.


"Maaf dokter.. Orang ini memaksa masuk." Ucap perawat itu yang kelelahan berlari.


"Sudah sus.. Biarkan saja, dia temen saya."


Sam melepaskan kacamatanya. Dia menatap Juna dengan pandangan heran. Juna Liem adalah makhluk yang tidak pernah pergi ke rumah sakit karena dia punya dokter pribadi yang selalu siap melayaninya. Bahkan jika perlu rumah sakit pun dia pindah ke rumahnya.


"Ada perlu apa tuan muda yang sombong?"


Juna duduk di depan Sam."Jantung ku bermasalah. Coba periksa."


Sam mencoba mencerna kata-kata Juna.


Setau nya, dari silsilah keluarga Juna, tidak ada yang memiliki riwayat sakit jantung.


"Yang detail. Jadi gimana rasanya?"


"Jadi, Sejak tadi tiba-tiba jantung ini berdetak cepat. Kira-kira kenapa?"


"Apa yang baru saja kamu lakukan?"


"Lari." jawab Juna singkat.


"Okey.. terus?"


"Apa harus di jelaskan semua?" omel nya.


Sam melihat celana Juna yang basah. Dia bisa mencium bau anyir di ruangan ini. Sam memberi kode supaya Juna tidur di kasur prakteknya.

__ADS_1


Juna mau tidak mau mengikuti arahan Sam. Dia tidur di sana dengan hati-hati.


Sam dengan cekatan menggulung celana Juna dan membersihkan luka Juna dengan kapas."Ini sobek.. biar aku jahit."


"Sam, gue konsultasi jantung kenapa jadi ngurusin kaki gue?" Juna mulai mengomel lagi.


Sam menghela nafas panjang. Kalau dalam sehari dia harus melayani 5 pasien seperti Juna, dia lebih baik kembali bekerja dengan Boy. Dia tidak menggubris Juna dan mulai menjahit setelah memberikan anestesi.


"Lo lari di kejar anjing?" pancing Sam. Juna adalah si paling anti berkelahi. Meskipun badan Juna punya roti sobek karena rutin gym, tapi dia tidak mau mengambil resiko terjadi sesuatu dengan tubuhnya ketika memukul orang, seperti sekarang ini. Juna lebih suka menyuruh orang yang melakukannya, sedangkan dia menonton saja. Juna adalah definisi kejam dan sombong sesungguhnya.


"Ini jatuh ke semak waktu lari dengan.." Juna tidak jadi melanjutkan ucapannya.


"Cewe atau cowo." Ucap Sam tidak sabar.


"Cewe."


Sam tertawa cekikikan. "Oke, gue tau penyebab jantung lo bermasalah."


"Jadi kenapa?" Tanya Juna yang merasa kesal karena Sam tidak berhenti tertawa juga.


Sam masi memegangi perutnya yang sakit. Dia sampai lupa dengan jahitan Juna yang belum selesai.


"Kenapa?"


"Aduh, ganteng-ganteng kok bodoh. Kamu lagi deket sama siapa?" Pancing Sam.


Juna terdiam. Ingatan nya kembali ketika dia menemukan Tiffany di tempat parkir. Tanpa berpikir panjang, Juna segera menendang orang itu. Sayangnya Juna tidak membawa Jo. Kalau ada Jo, dia bisa menyuruh asisten nya itu untuk menghajar orang yang ingin mencelakai Tiffany. Jadi, karena tidak punya pilihan, Juna hanya lari. Tapi, Juna malah berakhir di sini.


"Kamu jatuh cinta sama siapa? Malang sekali nasibnya."


"Sialan." Umpat Juna.


Sam tau yang di maksud Juna bukan Marsha. Sekali lihat pun dia tau kalau Juna tidak tertarik dengan Marsha. Sam heran juga kanapa Juna masih bertahan dengan Marsha.

__ADS_1


"Jadi setelah ini kamu akan ketemu Ericka untuk konsultasi?" Goda Sam lagi.


"Cih.. harusnya kamu yang konsultasi ke dia. Tanya bagaimana cara untuk bisa dapat kekasih." ejek Juna.


“Aku sudah punya kekasih Jun..”


“Ku pikir kamu itu ga normal.” Dasar si Juna, dia masih saja menjawab Sam dan tidak mau kalah darinya. Jika Sam terus memancing, maka pembicaraan mereka akan berakhir di jam 2 pagi.


Juna memang tipe yang dominan. Didikan keras ayahnya juga membentuk Juna menjadi sosok yang tidak akan menyerah.


“Sudah lah Jun,,sana pulang.” Usir Sam. Sembari berdebat dengan Juna, dia dengan cekatan menyelesaikan pekerjaannya. Sam sudah menutup jahitan Juna dengan perban.


Juna bangkit dari ranjang pasien. Dia juga tidak ingin berlama-lama di rumah sakit karena masih ada hal penting yang harus dia lakukan, yaitu mencari siapa orang yang mencelakai Tiffany. Juna pikir yang mengawasi nya adalah Marsha, tapi sepertinya bukan.


Ya, kejadian seperti ini bukan pertama kali terjadi. Marsha sering di buntuti oleh orang yang entah suruhan siapa. Tapi karena ada Ken yang selalu siap di samping Marsha, Marsha bisa aman selama satu tahun ini.


"Ini merepotkan sekali." Juna menghela nafas berat. "Sudahlah.. kenapa aku harus peduli pada Tiffany."


Ponsel Juna berdering. Kali ini Jo yang menelepon.


"Bos, Sam bilang kamu terluka. Bagaimana bisa?" tanya Jo panik.


"Jo, kita perlu sewa orang di sekitar EO Gold."


"Kenapa di sana?"


"Ya, ada tikus di sana. 3 pengawal saja cukup. Awasi orang yang bernama Tiffany."


Juna menyebut musuh-musuhnya dengan tikus. Ini karena Juna sulit menebak siapa saja musuhnya, jadi dia membuat istilah yang mudah disebut.


"Siapa sih Tiffany? Kenapa dia incar Tiffany?"


"Itu karena kamu Jo. Kenapa kamu kirim bunga ke dia?"

__ADS_1


"Kan anda yang suruh." protes Jo.


"Sudah lah.. cepat lakukan jangan banyak tanya." Juna mematikan telepon sepihak sebelum Jo bertanya lebih panjang.


__ADS_2