
Seorang pegawai hotel berdiri di depan pintu dengan menggunakan masker. Tiffany memberikan keranjang yang ada di tangannya.
"Tolong secepatnya." pinta Tiffany.
"Jangan pergii.." tiba-tiba seseorang memeluk nya dari belakang.
Tiffany begitu terkejut ketika pria di dalam tadi memeluknya erat.
"Hey, astaga.." Tiffany berbalik, lalu menahan badan Juna yang limbung. Dia tampak bingung kenapa Juna seperti orang yang mabuk, padahal dia baru saja pergi sebentar untuk membuka pintu.
Karena kemanusiaan Tiffany cukup besar, Tiffany memapah Juna masuk ke dalam. Dia sampai lupa menutup pintu dan membiarkan pegawai hotel tadi menyaksikan pemandangan di mana Tiffany kerepotan mengurus Juna. Dia melihat Tiffany membawa Juna ke sofa. Juna yang masih tidak sadar, menarik tangan Tiffany sehingga membuat Tiffany terjatuh di dadanya.
"Tolong tutup pintu nya. " Tiffany setengah berteriak karena sekarang Juna sudah mengunci nya dan dia kesulitan melepaskan diri dari Juna. Akhirnya pegawai hotel itu menutup pintunya.
"Untung aja ga kenal. Bisa hancur reputasi gue." Tiffany tidak dapat membayangkan apa yang ada dalam pikiran orang tadi ketika melihat mereka berdua. Yang satu hanya memakai boxer dan yang satu memakai bathrobe.
"Lepasin gue." Dia menarik rambut Juna, dan usaha nya tidak sia-sia.
Juna berteriak kesakitan dan melepaskan Tiffany. Tapi selanjutnya Juna tertawa. Entah apa yang dia pikirkan.
Tiffany bernafas lega. Dia melihat kaleng bir yang dibawanya sudah kosong. Pasti karena ini Juna mabuk. Tapi pria seperti Juna bisa mabuk karena sekaleng Bir yang kandungan alkoholnya tidak sampai 30%? Bagaimana kalau dia sampai minum whiskey tadi? Bisa-bisa Juna menghancurkan acara Megan.
"Heh, kamu siapa sih? Daritadi bikin repot aja." omel Tiff. Dia tidak bisa melakukan apapun di sini sebelum baju nya selesai di laundry.
Tiffany kembali ke pantry untuk mengambil beberapa botol air mineral. Juna harus disadarkan sebelum kejadian tadi terulang lagi. Sebentar lagi pasti makanan mereka datang.
"Apa hubungan kamu sama Megan?" tanya Tiffany penasaran. Dia menyodorkan air mineral untuk Juna.
__ADS_1
"Megan?" Juna nampak mengingat sesuatu.
"Ya, kenapa anda mau menggagalkan pernikahan Megan?"
"Dia itu..." Juna kembali tertawa. "Megan.."
Tiffany menghindar tepat saat Juna akan kembali memeluknya. Juna berdiri dengan sempoyongan, lalu mengejar Tiffany.
BRUK. Mereka berdua jatuh ke lantai dengan posisi seperti mereka jatuh tadi.
"Dasar gila." Umpat Tiffany. Dia mencekik Juna dengan kesal. Dia mengubah posisinya sehingga Juna terlentang di bawah.
"Kamu yang gila." ucap Juna sambil terbatuk.
Mereka berdua hanya saling mengumpat sampai bel berbunyi lagi.
Juna menurut. Dia sudah mendapatkan kesadaran nya kembali karena cekikan dari Tiffany.
Tiffany membiarkan pelayan masuk untuk menaruh makanan di meja makan. Tampak Juna sudah duduk manis di sana. Tiff mendengus kesal ketika melihat lagi-lagi pelayan membawa champagne.
"Tolong bawa ini.."
"Ini sudah sepaket nyonya.."
"Apa?" kata Tiff bingung. Bukan karena makanan yang dia pesan, tapi karena pelayan itu memanggilnya nyonya.
"Ya, anda kan berdua sedang.." Pelayan itu tidak melanjutkan kata-katanya karena Juna menatap ke arahnya dengan tajam.
__ADS_1
"Kalau sudah tau, cepat pergi. Jangan mengganggu." jawab Juna sinis.
"Taruh saja minuman nya di situ. Dia suka sekali minuman beralkohol." lanjut Juna.
Tiffany melotot mendengar Juna. Sudah dapat di pastikan Juna sudah sadar 100 persen.
Pelayanan itu hanya berusaha menahan tawanya. "Selamat menikmati malam ini Tuan dan Nyonya." kata nya sebelum pamit.
Ruangan kembali hening. Tiffany duduk bersebrangan dengan Juna. Malam ini sungguh melelahkan jiwa dan emosinya. Dia sudah tidak peduli lagi dengan pria yang sampai saat ini bersamanya. Mereka hanya makan dalam diam. Tiff menikmati sekali makanan yang disediakan.
Sedangkan Juna makan sambil memandang Tiffany.
"Lupakan kejadian malam ini." ucap Juna dengan wajah datarnya.
***
Timothy menarik pelayan yang baru saja keluar dari kamar president suite. Dia sejak tadi menunggu di sekitar situ untuk mengawasi Juna.
"Gimana?" Tanya Tim.
"Ya, mereka mesra sekali. Dan Tuan tadi bilang, katanya jangan mengganggu."
"Ya sudah, makasih ya.." Tim memberikan 5 lembar uang 100rb pada pelayanan itu.
Sekarang tinggal menunggu baju mereka kering. Ya, tadi Tim menyamar sebagai pegawai hotel yang mengambil baju Juna. Dia bahkan sudah mendapatkan rekamanan mereka berdua. Tim sangat profesional di bidangnya.(Dia meletakan ponsel di saku nya dengan mode rekam.) Dan dengan mudah Timothy mendapatkan informasi mengenai wanita yang bersama Juna. Dia adalah Tiffany Marshelia, seorang karyawan EO yang kemarin bertemu dengan Megan.
Kisah Juna seperti nya menarik. Tim belum mendapatkan informasi tentang Juna-Megan, tapi dia malah melihat Juna sedang bersama dengan seorang karyawan EO.
__ADS_1