
Tiffany memandangi dirinya di cermin. Dahinya masih di perban, dan ada beberapa luka lebam di tangan dan lengannya. Untung saja tidak ada luka serius.Tiff tidak dapat membayangkan jika kepalanya bocor, atau perutnya sobek. Kejadian kemarin betul-betul membuat Tiffany bergidik ngeri.
Ponsel Tiff berdering membuyarkan pikiran gadis itu. Pesan dari Juna.
'Nanti malam aku jemput kamu. Ada hal yang perlu kamu tau, tentang Megan.'
'Ya, baiklah.' balas Tiff singkat. Dia tampak tidak tertarik dengan pesan dari Juna itu. Mood Tiffany tidak terlalu baik pagi ini. Entah kenapa dia begitu kesal pada Juna setiap kali dia mengatakan Megan.
"Ka Tiff mau ke mana?" tanya adik Tiff yang baru saja terbangun.
"Kakak mau ambil pakaian kalian. Sementara kita tinggal di hotel ini dulu ya.."
"Tapi semua baik-baik saja kan?"
Tiffany tersenyum. "Tentu saja. Kita hanya akan pindah rumah sebentar lagi."
Setelah menenangkan adiknya, Tiff pergi dari hotel. Tidak lupa dia menggunakan topi yang telah di tinggalkan oleh Tim.
*
*
*
Tiffany sudah sampai di depan rumahnya. Sebenarnya dia takut untuk kembali ke sini, tapi dia harus mengambil beberapa dokumen dan juga pakaian di sini. Pintu rumah Tiff tidak terkunci. Pasti kemarin adiknya terburu-buru sehingga lupa mengunci pintunya.
Langkah Tiffany terhenti begitu dia melihat sosok yang berada di dalam rumahnya.
Megan.
__ADS_1
Megan terkejut ketika melihat Tiffany masuk. Dia bersama seorang bodyguard yang berdiri di belakangnya. Tiff merasa tidak asing dengan pria yang Megan bawa itu.
"Hai.. Tiff.. maaf aku masuk tanpa ijin. Waktu datang pintu nya tidak terkunci, jadi aku takut terjadi sesuatu sama kamu." jelas Megan.
"Kenapa kamu ke sini?" tanya Tiff tanpa ingin mendengar penjelasan Megan.
"Untuk mengajak kamu belanja. Juna sudah kasih tau kamu kan, untuk acara nanti malam?"
Tiffany memicingkan matanya. Juna bukan hanya menghubunginya, tapi juga Megan! Ini semakin lucu dan membingungkan.
"Apa hubungan kamu dengan Juna? Kamu itu sudah punya suami, Meg. Tapi kamu mendekati pria lain. Kamu benar-benar murahan." teriak Tiffany.
"Kamu akan tau nanti. Tenang dulu." Megan mendekat, lalu menepuk pundak Tiffany. Tapi, Tiffany segera menepisnya. Dia sudah kesal dan tidak ingin mendengar penjelasan lagi dari Megan.
"Menjauhlah dari Juna." pinta Tiff.
"Tidak bisa Tiff."
Tiffany segera bangun karena Megan berteriak kesakitan. Dia menatap orang yang mendorongnya. Orang itu tersenyum licik ke arah Tiffany. Tiffany baru ingat sekarang. Bodyguard itu adalah orang yang tadi malam menyekapnya.
"Tiff, tolong.." Megan berteriak lagi. Dia mencoba bangun, dan ada darah yang mengalir dari celana jeans nya.
"Ya ampun Megan.."
"TIFFANY!" Teriakan itu menggema ke seluruh ruangan.
*
*
__ADS_1
*
Juna yang baru saja datang bersama dengan Tim sangat terkejut melihat pemandangan di depannya. Megan sedang kesakitan, dan Tiffany tampak panik di sebelahnya.
"TIFFANY!" spontan Juna berteriak. Dia segera berlari ke arah Megan untuk menolongnya.
Sedangkan Tim juga mendekat untuk membantu Tiffany berdiri. Gadis itu gemetaran dan air matanya sudah mengalir deras.
"Apa yang kamu lakukan Tiff?" tanya Juna yang saat ini sudah menggendong Megan.
"Tadi nona ini menyerang Nona Megan. Dia meminta anda untuk menjauhi Nona Megan." jelas Bodyguard yang sejak tadi hanya diam saja.
Juna meradang. "Kamu benar-benar keterlaluan." Dia menggertakan giginya menahan emosi.
"Jun.. tapi dia itu.."
"Diam Tiff." bentak Juna. "Kalau ada sesuatu yang terjadi dengan Megan dan anaknya, aku tidak akan memaafkan kamu."
Juna membawa Megan pergi di ikuti oleh bodyguardnya.
Tiffany menangis sejadi-jadinya. Tim tidak dapat berkata apapun dan hanya memeluk Tiffany.
Tadi ketika kembali ke hotel, adik Tiff bilang kalau kakak mereka kembali ke rumah untuk mengambil pakaian. Jadi, Tim segera memberitahu Juna supaya mereka bisa ke rumah Tiffany. Ya, Tim akhirnya memberitahukan kejadian sebenarnya pada Juna. Tapi, mereka malah melihat kejadian seperti ini.
"Sudah lah Tiff, Megan akan baik-baik saja." hibur Tim.
"Kita pergi saja Tim. Bawa aku pergi yang jauh." kata Tiffany terisak.
"Jangan mengambil keputusan saat emosi, Tiff." saran Tim lagi.
__ADS_1
"Aku sudah memutuskan, Tim. Dan aku akan tetap pergi jika kamu tidak mau ikut."