
Jepang.
Setelah terbang selama 5 jam, akhirnya rombongan Marsha sampai di bandara narita. Jepang sedang musim dingin sekarang. Mereka harus menghadapi jet lag dan juga cuaca. Bagi yang sudah biasa, ini bukan masalah besar. Tapi bagi yang baru pertama kali menginjakan kaki di Jepang, ini cukup membuat mereka kesulitan untuk beradaptasi. Tiffany salah satu orang itu. Dia yang tidak suka cuaca dingin tentu saja merasakan hampir beku, meskipun jaketnya sudah lapis 2. Dan, ini bukan perjalanan santai. Dia tidak bisa berlama-lama, karena pekerjaannya sekarang adalah membawa semua rombongan ke hotel.
Beberapa mobil yang sudah disewa sudah menunggu mereka di airport. Yang pertama masuk tentunya Marsha, Ibunya, dan juga adiknya. Mereka khusus mobil sendiri. Begitu juga dengan tamu kehormatan mereka, Bobby dan Megan. Sedangkan yang lain di masukan ke dalam beberapa mobil van.
Aeris sudah lebih dulu ke hotel untuk memmberikan kunci kamar untuk mereka. Kesan jalan-jalan ke Jepang ternyata tidak seindah yang mereka bayangkan.
Setelah Selesai, Tiffany dan kru yang tersisa menyusul untuk pergi ke hotel.
“Dingin ya?” Ucap seseorang di sebelah Tiffany.
“Astaga.” Jantung Tiff hampir melompat keluar melihat sosok di sebelahnya. Tim seharusnya masuk ke dalam mobil para tamu, tapi karena dia tamu yang tidak diundang alias dadakan, tentu saja Tiff lupa memasukan namanya.
“Kenapa sih Reno bisa suruh lo ke sini.” Keluh Tiffany.
“Untuk jagain lo lah..” bisik Tim.
“Hah?”
“Ya enggak lah dodol.. ini karena aku asisten Reno.” Canda Tim.
Tiff mengelus dadanya suapaya dia tidak lepas kendali menghadapi Tim. Semakin terpancing, Tim akan semakin senang.
Setelah menempuh perjalanan 15 menit, mereka sampai di Park Hyatt Tokyo. Marsha sangat murah hati karena dia membiayai hotel semua kru dengan alasan supaya mereka tidak repot. Acara besok akan di adakan di salah satu restoran hotel ini. Marsha hanya ingin semua berjalan maksimal dan lancar.
“Tim, Reno sudah bisa di hubungi?” Tanya Aeris begitu melihat Tim berjalan di sebelah Tiffany.
“Belum. Sabar saja, nanti dia pasti telepon.” Hibur Tim.
__ADS_1
Tiffany yang melihat Aeris khawatir segera menggandeng Aeris untuk masuk ke kamar. Dia sudah lelah dengan perjalanan dan juga dengan Tim, jadi sebisa mungkin dia harus segera mengakhiri percakapan mereka.
Sesampainya di kamar, Tiff segera merebahkan badannya di kasur yang nyaman. Hotel ini sangat bagus. Sejak pertama masuk, Tiffany tidak bisa berhenti terkagum-kagum. Tapi, berbeda dengan Aeris yang sejak tadi hanya melamun dan diam.
“Ris.. ada masalah dengan Reno?”
“Entah lah,, dia menghilang sehari sebelum kita pergi.”
“Tenang aja.. Reno udah bucin akut sama Lo.. jadi ga mungkin dia minggat.” Hibur Tiff.
Aeris tersenyum. Dia tidak yakin juga dengan perkataan Tiff, tapi itu sedikit menghibur.
“Terus kenapa Juna ga datang? Jo juga ga ada.” Tanya Aeris.
“Mana gue tau.. emang gue emaknya..”
“Ya lo kan bininya..”
Melihat sohibnya sudah bisa tertawa lagi, Tiffany membiarkan Aeris mengejeknya.
Selanjutnya mereka menghabiskan malam ini untuk saling bergosip tentang perjalanan tadi dan tamu-tamu yang diundang Marsha.
***
Sementara itu Tim menempati kamar yang seharusnya disiapkan untuk Reno. Dia beruntung karena Reno tidak mau menempati kamar bersama dengan orang lain. Tim jadi punya space untuk menjalankan tugas-tugasnya yang lain. Jiwa detektifnya memang tidak pernah padam. Jadi meskipun dia menjadi asisten Reno, dia tetap menjalankan misinya. Yah,sambil menyelam minum air.
Tim membuka laptopnya. Dia sedang manangani kasus pembunuhan yang di duga dilakukan oleh salah satu anggota keluarga Wibowo. Ini kasus yang rumit, yang seharusnya bukan urusan Tim melainkan polisi. Tapi klien nya menyelidiki diam-diam karena ingin segera tau kebenarannya.
Baru saja membuka rekaman cctv, panggilan video masuk muncul di laptopnya.
__ADS_1
“Masih hidup lo?” Ucap Tim pada sosok di depannya yang tampak berantakan.
“Semua aman?” Reno tidak menjawab ejekan Tim.
“Aman.. Tadi Marsha mengundang Megan dan Bobby, ini akan lebih seru." lapor Tim pada Reno.
Reno tidak memberikan reaksi. Tim melihat Reno seperti tidak baik-baik saja. Matanya sayu dan dia tidak bersemangat seperti biasanya.
“Lo jagain Aeris.. Bobby itu mantan Aeris. Gue takut dia macam-macam sama dia.”
“Gue lebih tertarik jagain Tiffany si..”
“Kalau lo berani, gue laporin lo ke Juna Soal kerjaan lo sama Marsha.” Ancam Reno.
“Okey..okey..ga perlu khawatir.. just kidding bro...”
“Pastiin semua rencana kita lancar Tim." pesan Reno.
“Ya tentu saja..aku pastikan semua beres.”
Reno segera mematikan sambungan vc nya. Tim mengerucutkan bibirnya karena Reno tidak bisa diajak bercanda. Dia menutup laptopnya, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Fokusnya langsung hilang dengan menjalankan 3 misi sekaligus. Misi dari klien, misi dari Reno dan juga misi untuk misi mengetahui hubungan Juna Megan. Tim masih penasaran dengan Juna Megan.
Satu lagi, Ada yang aneh di sini. Marsha sepertinya masih ingin menyelediki hubungan Megan dan Juna, karena itu dia sengaja mengundang Megan belakangan. Tapi rencana itu gagal karena Juna tidak datang.
"Apa yang di sembunyikan Juna Liem sebenarnya? "Tim berbicara pada dirinya sendiri. Jika Reno saja tidak tau tentang masa lalu Juna atau hubungan Juna dengan Megan, siapa lagi yang tau tentang cerita Juna?
‘Ting tong’ bel di luar berbunyi. Karena sedang tidak fokus, Tim membukanya tanpa melihat siapa yang datang.
“Dokter Ericka?” Teriak Tim. Bersama dengan itu, Ericka menjatuhkan tubuhnya ke Tim.
__ADS_1
***