
Jo cukup terkejut melihat Tiffany dan Juna di dalam kamar. Dia menenteng sebuah plastik berisi obat-obatan yang di minta Juna. Jo menyerahkan itu pada Juna, lalu merebahkan dirinya di sofa dekat jendela. Hari ini Jo sangat lelah. Jo bahkan belum sembuh sepenuhnya dari jetlag, tapi dia harus bekerja sampai larut malam seperti ini. Bos nya selalu membuat kejutan. Pagi tadi, setelah tau Megan ikut ke Jepang, Juna segera ke bandara, dan menumpang pesawat Reno yang kebetulan ingin menemui Aeris ke Jepang. Mereka bahkan tidak sempat membawa pakaian satupun dan hanya beli jaket di outlet dekat Hotel. Sampai di hotel pun Juna malah membawa Megan pergi, dan dia di minta untuk membereskan para wartawan. Baru selesai mengurus wartawan, Juna masih menyuruhnya untuk membeli obat untuk Tiffany. Jo sudah tidak sanggup lagi jika bos nya memberi perintah lain.
Juna memang sangat sulit di tebak. Sejak tadi otak Jo berputar dengan keras memikirkan 'ada apa bos nya dengan Megan'. Ini kedua kalinya Dia bertindak seperti orang kehilangan akal. yang pertama adalah saat pesta pernikahan Megan. Kedua kejadian malam ini. Tapi, sekarang, Juna malah di kamar bersama Tiffany. Juna bilang tidak tertarik dengan wanita, tapi dia malah mendekati 3 wanita sekaligus. Marsha, Megan dan Tiffany.
"Duduk sini." Juna menarik Tiffany untuk duduk.
Dia mengambil kapas dan alkohol dari dalam bungkusan dan mulai membersihkan luka di siku Tiff.
"Jadi, kenapa kamu bisa pacaran sama Marsha dan dia aman? Katanya kalau musuh mu tau, dia akan Serang orang yang kamu sayang." tanya Tiff tiba-tiba.
"Kamu sudah menjawab nya sendiri kan.." Kata Juna singkat. Dia sedang berfokus untuk mengobati Tiffany. Ini bukan pertama kali Juna menolong orang terluka, jadi dia tau apa yang harus dilakukan.
Tiffany tampak berpikir. Dia mengulangi kata-kata yang baru saja dia ucapkan dalam otaknya. "Jadi, maksudnya kamu ga sayang sama Marsha?"
"Ternnyata kamu pintar." Puji Juna.
Alasan lainnya sebenarnya adalah Marsha punya banyak bodyguard di sekitarnya. Dia selalu di manja dan di perlakukan bak ratu sejak kecil.
"Jadi bapak sayangnya sama Megan dong." Ucap Tiff keceplosan.
Juna selesai membersihkan lukanya, dan sekarang dia mengambil salep untuk lebam.
"Saya tidak perlu jawab yang itu." Katanya sambil mulai mengoleskan salep itu.
__ADS_1
Tiff sedikit meringis kesakitan karena menahan perih saat salep nya mengenai luka.
Sementara Jo yang sejak tadi mendengarkan, tampak kecewa karena Juna tidak juga bicara apa hubungannya dengan Megan.
"Tapi kenapa saya juga ikut kena? Kenal juga enggak." Protes Tiffany.
Juna memegang pipi Tiffany. Tiffany terkejut dan menahan tangan Juna.
"Cuma mau lihat apakah ini masih sakit." Jawab Juna terus terang.
Tiffany merasakan canggung. Dia bangkit berdiri dan waspada terhadap Juna.
"Jadi, bagaimana, kita bisa berteman sekarang?"
"Ya, dan karena bapak sudah jadi teman saya, saya ga akan bilang siapapun kalau Megan selingkuhan bapak. Supaya Megan aman."
Juna memijit kepalanya yang tidak sakit. Dia hanya bingung kepada semua orang.
"Saya itu tidak selingkuh." Juna membela dirinya sendiri.
"Lah, terus tadi apa? Bapak itu gendong Megan dan khawatir sama dia." Selidik Tiff.
"Panggil saja Juna.. kenapa pake bapak? Umur kita ga beda jauh." Protes Juna. Lebih tepatnya Juna mencari Dalih untuk tidak menjawab pertanyaan Tiffany.
__ADS_1
Jo merasa takjub dengan percakapan kedua orang di depannya. Baru kali ini Jo melihat Juna bisa bersikap normal dengan wanita. Biasanya Juna akan sangat dingin dan menjaga jarak. Dan Jo mendengar bahwa Juna mengajak Tiffany berteman?
"Oh iya, kapan kamu pulang ke Indonesia?" Tanya Tiff lagi.
"Besok."
"Emm.. jadi gini, karena aku di pecat, boleh aku numpang?"
"Di pecat?" Juna tampak terkejut. Dia tidak tau kejadian ini membuat Tiffany di pecat. Dia mengalihkan pandangan pada Jo, tapi Jo hanya mengangkat bahunya.
"Ya... Kalau ga bisa saya minta bantuan Reno atau....Tim."
"Kita pulang sekarang saja." "Cepat bereskan." Perintah Juna.
Tiff terlihat senang. Dia benar-benar membereskan semua barang miliknya. Juna menatap Tiff dengan heran. Wanita itu baru di pecat sekaligus terluka, tapi dia terlihat senang dan baik-baik saja.
"Jo, kamu carikan tiket online ke Indonesia dan kita kembali malam ini dengan Tiffany."
"What? Lo gila ya? Lo ke Jepang cuma numpang nafas aja?" Omel Jo. Mereka belum 24 jam menginjakan kaki di Jepang, tapi Juna minta pulang lagi?
Sebenarnya mudah untuk menyiapkan pesawat pribadi, tapi Juna tidak ingin mengekspos hal itu di depan Tiffany.
"Aku akan kasih bonus mobil." bisik Juna.
__ADS_1
Mendengar hal itu, tentu membuat Jo yang sudah lelah menjadi segar kembali. Dia segera menjalankan tugas Juna tanpa mengomel.