
Megan Liem. Juna dapat dengan mudah menemukan gadis itu. Dia sudah kembali dari America dan berada di negara yang sama dengan Juna. Megan tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik. Tapi, bukan itu yang terpenting. Kehidupan Megan benar-benar berantakan. Karena tidak mendapatkan perhatian dari orang tua yang seharusnya merawatnya, Megan tumbuh menjadi gadis yang susah diatur dan juga dia menjalani pergaulan bebas. Megan kerap bergonta ganti pasangan dengan teman nya yang sesama artis. Reputasinya begitu buruk. Juna sangat terpukul melihat keadaan saudara kembarnya itu.
Juna mengamati Megan selama beberapa tahun sampai akhirnya dia memutuskan untuk menemui Megan setelah melihat beritanya di televisi. Megan hamil anak dari Bobby. Dia menculik Megan dan membawanya ke hotel Emerald.
“Kamu siapa?” Teriak Megan begitu Juna melepaskan dekapannya.
“Kamu tidak kenal aku?” Juna balik bertanya. Fakta bahwa Megan tidak mengenalnya itu berati Megan tidak mencari dirinya sama sekali.
“Kamu gila.” Megan sudah bersiap untuk pergi, tapi Juna menariknya. Dia memeluk Megan dengan erat.
“Ini aku, Megan Liem.” Bisik Juna.
Deg. Megan merasakan bulu kuduknya merinding. Dia memandang Juna dari atas ke bawah. Juna tumbuh menjadi pria dewasa yang begitu menarik. Dia lebih tinggi dari Megan, dan memiliki wajah yang persis dengan Tuan Liem alias ayahnya.
“Ju,,na?”
“Ya..Kakak kamu.”
“No, aku tidak punya keluarga. Mungkin kamu salah orang.” Ucap Megan dengan suara tercekat. Ya, selama ini hidupnya sangat miris. Di America, wanita itu pergi begitu saja, dan meninggalkan Megan di panti asuhan. Dia akhirnya di asuh oleh pasangan suami istri yang tidak pernah menyanyanginya. Karena itu Megan tumbuh menjadi gadis nakal. Dan karena tidak sanggup mengurus Megan lagi, akhirnya Megan kembali ke Indonesia. Di Indonesia, Megan dapat pekerjaan menjadi artis figuran. Tapi seiring berjalannya waktu, dia dapat naik daun dan menjadi terkenal seperti sekarang. Karena alasan itulah Megan tidak ingin lagi mengenal keluarga Liem. Dia menganggap mereka sudah mati.
“Meg, maafkan aku.” Juna masih berusaha untuk membujuk Megan.
“Kamu sama saja seperti Dad.” Bentak Megan. Megan sudah tidak dapat membendung perasaannya lagi. Dia menangis sejadi-jadinya.
“Aku akan menebus kesalahanku, Meg..aku mohon..” baru kali Ini Juna memohon kepada orang lain. “Dad sudah meninggal. Dan aku juga sendiri sekarang.”
“Dad meninggal?” Tanya Megan dengan terisak.
“Ya,, Dad pikir, kamu akan aman jika tidak bersama keluarga Liem, karena Dad punya banyak musuh. Jika Dad tau kehidupanmu begitu susah, pasti Dad akan sangat menyesal.” Jelas Juna dengan jujur.
__ADS_1
Megan tidak dapat mencerna kata-kata Juna karena dia justru sangat menderita karena di buang dari keluarga Liem.
Juna kembali menarik Megan dan memeluknya. Kali ini Megan tidak memberontak dan hanya menangis di pelukan Juna.
“Aku mohon Meg, aku akan berikan apapun yang kamu inginkan.. Aku ingin kamu bahagia Meg..”
“Jun.. aku merindukan kamu..”
“Sekarang aku ada di sini.. Dan aku akan menjaga kamu..” Juna menenangkan Megan.
Mereka bersama kembali. Juna senang karena Megan mau menerima permintaan maafnya. Megan pun senang karena dia bisa merasakan kehangatan seorang keluarga. Malam itu mereka bercerita banyak hal. Akhirnya, mereka sepakat untuk tetap menjalani kehidupan masing-masing, tapi mereka akan tetap berkomunikasi dan bertemu sesekali. Bagi Megan memiliki nama keluarga Liem tidak terlalu penting, yang penting adalah dia sudah bisa menemukan kakaknya. Dan dari cerita Juna yang diincar beberapa kali oleh musuh-musuhnya ayahnya membuat Megan memutuskan untuk bersembunyi lagi sementara.
Flashback off
"Jun, istirahatlah. Aku kembali dulu." Ericka memutuskan pamit karena Juna sudah sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Akan saya laksanakan Bapak Juna Liem yang terhormat." Ericka membungkukan badannya seolah-olah Juna adalah seorang Raja.
Setelah pergi, Juna menatap ponselnya. Ada 30 panggilan tidak terjawab dan pesan dari Tiffany.
'Jun, kenapa ga angkat teleponnya?'
'Jun, kamu baik-baik aja kan?'
'Jun, kamu kemana?'
'Sayang.. kamu ga kangen sama aku?'
Juna tertawa sendiri membaca pesan dari pacarnya. Ya, Tiffany adalah wanita yang dapat membuat Juna tersenyum. Sejak pertama bertemu, dia selalu saja bertingkah konyol. Dan hanya Tiffany yang dapat membuat Juna untuk akan ayam geprek sampai dia terbaring sakit di sini.
__ADS_1
"Lo stress ya, ketawa-ketawa sendiri." Jo masuk dengan membawa buah-buahan.
"Tiffany ga telepon kamu Jo?" tanya Juna penasaran.
Telepon Jo berdering.. Tiffany calling..
"Panjang umur nih.."
Jo menekan tombol hijau lalu me loudspeaker ponselnya supaya Juna juga bisa mendengar.
"Ya Tiff,, kamu mau tanya ka.. "
"Jo, kamu lihat pasport aku?" potong Tiff sebelum Jo sempat menyelesaikan kata-katanya.
"Emm.. ada di kantor. Kenapa kamu mau pergi?"
"Ya.. ada urusan dengan Tim."
"Kamu ga mau tanya keadaan Juna?" pancing Jo. Dia pikir Tiffany meneleponnya karena ingin tanya keadaan Juna. Ternyata dia malah cari pasport untuk pergi dengan pria lain.
"Dia ga angkat telepon aku. Apa dia masih hidup?"
Juna mengisyaratkan Jo untuk diam dan jangan memberitahu Tiff kalau dia sakit.
"Dia sekarat. Dan masuk rumah sakit." ucap Jo kesal.
"Serius Jo, aku ke sana sekarang."
Jo menutup teleponnya dengan perasaan senang, berbeda dengan Juna. Dia memang tidak ingin Tiffany tau tentang keadaannya.
__ADS_1