
"Misi pak..bu.." "Semua kata rindumu semakin membuatku tak berdaya..menahan rasa ingin jumpaaa. ." Seorang pengamen menghampiri dan mulai menyanyi di meja Tiffany dan Juna. Juna membuka dompetnya, lalu dia mengeluarkan selembar uang 100rb.
Pengamen itu tampak senang sekali menerima uang dari Juna. Dia menempelkan pada jidatnya, dan kembali menyanyi dengan semangat lagu kangen dewa 19. Jo mengangkat tangannya supaya pengamen itu berhenti dan pergi dari meja mereka.
Tiff cekikikan melihat Juna yang tampak tidak nyaman. Ya,, mereka bertiga makan ayam geprek di pinggir jalan karena permintaan Tiffany. Tiff ingin kencan di warung pinggir jalan seperti sohibnya, Aeris dan Reno. Ini pertama kali untuk Juna, makan berdesakan, di tambah juga panas, dan semua mata memandang mereka. Juna mengutuki Reno dalam hati yang memberikan contoh buruk untuk pacarnya.
"Nona Tiff, bagaimana kalau kita pergi saja?" Tanya Jo yang sejak tadi di pelototi oleh Juna. "Saya takut nanti Pak Juna sakit perut."
Tiff menengok pada Juna. "Sayang, kamu ga apa-apa kan?" Tiff menatap Juna dengan menunjukan wajah imutnya.
Mendengar Tiff merayu Juna dengan memanggilnya sayang, otomatis membuat Jo yang sedang minum, menyemburkan minuman nya mengenai Tiffany.
"Joooo.." teriak Tiffany.
Juna memijit pangkal hidungnya yang terasa pusing karena suasana di depannya. Mereka semakin menjadi pusat perhatian orang yang berada di situ.
"Sayang, dia kurang ajar.." Tiffany mengelap wajahnya dengan tisu sambil menarik baju Juna.
"Sayang, dia sukanya ngelawak.." Jo menirukan Tiffany dengan memanggil Juna sayang.
"Kalian bisa diam tidak?" Juna mulai meradang.
Jo dan Tiffany segera diam ketika Juna sudah memberikan peringatan. Tak lama pesanan mereka datang. 3 porsi ayam geprek lengkap dengan lalapan. Tiff semangat sekali ketika
menerima makanan nya. Begitu juga dengan Jo. Dia sudah sangat lapar karena belum makan sejak tadi pagi.
Sementara Juna hanya memandang makanan di depannya dengan kening berkerut. Makanan itu berminyak dan tampak acak-acakan karena di geprek. Seumur hidup Juna tidak pernah melihat makanan seperti ini.
"Kamu yakin ini bisa di makan?" Tanya Juna sambil mengacak-acak piring nya dengan sendok dan garpu.
"Mau aku pesankan makanan yang lain di gojek pak?" Tanya Jo.
"Tidak perlu." Juna mulai makan dengan wajah yang pucat. Dia menggunakan sendok dan garpu sedangkan yang lain makan dengan menggunakan tangan. Baru 2 suapan, Juna sudah terbatuk karena kepedasan.
__ADS_1
Tiff dengan sigap memberikan es teh nya, sambil menepuk punggung Juna.
"Pelan-pelan sayang.."
Setiap mendengar kata sayang, Jo tidak bisa menahan tawa nya. Tapi begitu Juna menatap nya tajam, Jo segera berhenti.
"Setelah ini kamu mau ke mana?" Tanya Juna.
"Malioboro." jawab Tiff dengan mulut penuh makanan.
"Kamu merokok?"
"Sayang kamu hidup di gua ya? Itu tempat jalan-jalan." sahut Jo dengan santai.
Juna menendang tulang kering Jo hingga Jo berteriak kesakitan.
Tiffany tertawa senang karena akhirnya Jo terkena getahnya.
"Makasi sayang.." ucap Tiff pada Juna. Juna tersenyum kecil. Dia senang Tiffany sudah mulai nyaman dengannya.
Tapi Jo senang, berkat Tiffany, Juna setidaknya bisa tersenyum.
***
Malioboro
Jalanan malioboro tidak terlalu ramai karena ini bukan malam minggu. Juna berjalan bersebelahan dengan Tiffany, sedangkan Jo mengikuti di belakang mereka.
'Rasanya ada yang aneh..' batin Jo ketika melihat pasangan baru itu.
Setelah mengamati cukup lama, Jo baru sadar sesuatu. Juna sangat romantis jika hanya berdua saja di depan Tiffany, tapi kalau di depan umum, mereka seperti orang yang musuhan. Masing-masing masing berjalan dengan cepat dan tidak saling mengobrol.
"Tunggu sebentar." ucap Jo sambil menahan Juna.
__ADS_1
"Apalagi Jo?"
"Di sini sangat ramai Jun, kamu ga takut ada orang yang mengincar Tiffany kan?" bisik Jo pada Juna.
Juna tidak mengerti maksud Jo. Jo mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. Bos nya begitu tidak peka dan kaku, sedangkan pacarnya juga tampak tidak peduli. Akhirnya karena kesal, Jo meraih tangan Tiffany dan Juna, lalu menyatukan tangan mereka supaya mereka bergandengan.
"Gini lho kalau orang pacaran.. kalian itu lagi kencan atau lagi study tour si?" sindir Jo.
Juna menatap Tiffany, gadis itu tampak tidak keberatan. Jadi Juna menerima saran Jo. Mereka berjalan bergandengan tangan menyusuri jalanan malioboro.
"Jun,, aku mau itu." Tiff menunjuk ke arah jajan di pinggir jalan.
"No,, nanti sakit perut." larang Juna. Dia menarik Tiff untuk tidak mendekat.
'Nah.. gitu kan enak liatnya..' ucap Jo dalam hati. Kalau suasana hati bos nya baik, itu suatu keuntungan untuk Jo. Dia berharap Tiffany bisa menghibur Juna yang selalu menyendiri dan kesepian itu.
"Kalau es krim boleh ya?" tanya Tiff kemudian.
Juna mengangguk. Mereka mampir ke sebuah outlet gelato di ujung jalan yang tidak jauh dari situ.
"Kamu senang?" tanya Juna saat Tiffany mendapatkan gelatonya.
"Aku hari ini senang sekali Jun.. Makasi yaa.. Kamu mau?" Tiff menyodorkan gelatonya pada Juna.
Belum sempat Juna makan, ponsel Juna berdering. Juna menatap ponsel nya lama, tapi dia tetap mengangkatnya.
"Ya, kenapa Meg?" "Aku sedang di luar kota.. "
"Oke, aku ke sana sekarang."
Juna menatap Tiff dengan pandangan datar tanpa ekspresi. Dari percakapannya, Tiff tau apa yang akan Juna lakukan.
"Kita pulang sekarang."
__ADS_1
Tebakan Tiffany benar. Juna selalu mengutamakan Megan. Jo menepuk pundak Tiffany supaya dia bersabar. Jangankan pacarnya, Jo saja sampai saat ini tidak tahu apa hubungan Juna dengan Megan.