
Apa yang dipikirkan sopir Juna salah besar. Juna dan Tiffany bukannya menunjukan sikap romantis, tapi justru sebaliknya, mereka mulai berdebat tentang kepergian Tiffany.
"Kenapa kamu tiba-tiba pergi?" Juna mulai menginterogasi Tiffany yang masih sibuk melihat cincin yang dia berikan.
"Karena kamu lebih memilih Megan daripada aku." jawab Tiffany jujur.
"Sejak awal aku memilih kamu, Tiff. Apa kamu ga lihat?" Juna memegang dagu Tiff, supaya Tiffany memandang wajahnya.
"Kamu membentak aku, Jun. Kamu tau kan, aku itu wanita yang lemah, tidak bisa dibentak-bentak." Tiffany menyingkirkan tangan Juna.
"Aku sudah minta maaf kan.. waktu itu aku khilaf, karena panik." bela Juna. Padahal yang Tiffany katakan benar. Dia hanya melihat Megan saat itu dan tidak melihat jika Tiffany juga ketakutan.
"Bahkan ketika aku pergi ke America dengan pria lain, kamu tidak mencari aku kan?"
"Siapa bilang?" Juna mengeluarkan ponselnya, lalu menunjukan galeri yang penuh dengan foto Tiffany di America.
Tiffany menutup mulutnya karena tidak percaya. Dia menyadari satu hal, jika Tim selalu meminta Tiffany untuk foto dan bergaya aneh-aneh. Tim bahkan pernah mengambil video Tiffany yang sedang memakan 2 piring samyang. Ternyata Tim bekerja sama dengan Juna.
"Dasar kurang ajar. Akan ku tarik rambutnya." umpat Tiffany dengan suara lirih.
"Jadi, siapa yang tidak peduli?" tanya Juna lagi. "Tim sudah kasih tau kamu, kalau Megan saudara kembarku, tapi kamu tetap pergi."
Skak mat. Tiffany tidak bisa menjawab Juna lagi. Benar kata orang, Juna sangat pandai dalam bernegosiasi dan memanuver sesuatu.
"Kamu bahkan tidak tau kalau aku kecelakaan setelah kamu pergi." tambah Juna lagi.
"Kecelakaan? Tapi Tim..."
"Tim ingin beritahu kamu, tapi kamu menolak untuk mendengar kabar tentang aku." potong Juna.
__ADS_1
Kali ini, Juna tampak sedih. Dia begitu mengkhawatirkan Tiffany, tapi Tiffany seolah menunjukan bisa tetap hidup bahagia tanpa dirinya.
"Jun,, aku minta maaf.." Tiffany memeluk Juna dengan penuh penyesalan.
Juna mengelus rambut Tiffany. Dia sebenarnya tidak marah pada wanita itu. Dia hanya menjelaskan apa yang belum sempat Tiffany ketahui.
"Kamu suka lampunya?"
"Lampu Tiffany?" "Jadi..." Tiffany mengurai pelukannya dan sekali lagi menatap Juna tak percaya. Tiffany sangat suka surat dari pengirim itu sampai dia simpan dalam dompetnya.
"Aku tidak tau kalau seorang Juna bisa romantis."
ucap Tiff terbata.
"Ya, sebenarnya dari dulu nona, hanya tidak kelihatan saja." ucap Pak sopir yang sejak tadi mendengarkan perdebatan mereka.
Setahun belakangan ini Juna memang sedikit sibuk membasmi tikus-tikus yang selalu mengganggunya. Tim pun tidak memberitau tentang Jason. Jadi, dia begitu kesal ketika melihat Tiffany bersama Jason tadi.
"Tidak ada. Tim sering melarang aku pergi. Kalau Jason, dia yang ke apartemen kami." jelas Tiffany tanpa dosa.
"Kamu tau kan Tiff, aku tidak suka jika kamu dekat dengan pria lain?"
"Iya..aku tau sayang,, tapi Jason itu hanya teman. Dia anak Bu Meri."
Juna tidak menjawab. Wanita ini begitu lugu. Mungkin karena kebanyakan rekan kerjanya adalah pria, Tiff jadi menganggap semua yang mendekatinya adalah teman. Satu-satunya cara supaya Tiffany sadar adalah dengan menjadikan Tiffany istrinya.
"Lusa kita akan menikah."
"What?" Juna terlalu banyak memberi kejutan pada Tiffany malam ini. Baru setengah jam yang lalu Juna melamarnya, sekarang dia bilang akan menikah 2 hari lagi? Juna mengajak Tiff menikah seoalah-olah mengajaknya piknik. Mudah sekali pria itu mengatakan menikah.
__ADS_1
"Mana bisa? Kita belum siapkan apa-apa." Tiffany adalah Mantan EO, jadi dia tau betul jika mengadakan pesta pernikahan membutuhkan waktu minimal 1 bulan. Itupun pesta pernikahan sederhana.
Juna tersenyum. "Kamu tidak perlu khawatir, Jo bisa mengurus semuanya."
"Wah, ternyata calon ku sangat kejam pada karyawannya." ucap Tiffany sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku sudah gaji dia dengan mahal."
"Terserahlah.. Tapi aku harus beritahu adik-adik ku dulu. Aku belum bertemu mereka."
"Kita ke sana sekarang juga." "Kita pergi ke Bandung, pak." perintah Juna pada sopirnya.
"Jun, kamu betul-betul tidak waras." Tiffany menekuk wajahnya. Dia belum sempat istirhat sejak tadi, dan sekarang dia harus melakukan perjalanan lagi.
"Tidur saja Tiff,," Juna menyandarkan kepala Tiffany ke bahunya. Dia tidak ingin membuang waktu lagi, karena sudah cukup baginya menunggu 2 tahun untuk mendapatkan Tiffany.
Tiffany pun perlahan mulai tertidur. Kebiasaannya belum berubah. Ada saja hal yang Tiffany lakukan ketika dia tertidur. Kali ini dia meraba-raba badan Juna.
"Astaga.. Mulai lagi.." keluh Juna.
Pak sopir cekikikan karena Juna tampak salah tingkah karena perbuatan Tiffany.
"Tahan 2 hari lagi, Pak Juna."
Juna menatap sinis sopirnya yang berani mengejeknya. "Setir saja yang benar."
"Baik pak,, perlu saya putarkan lagu pak?"
"Kamu hanya membuatku tambah pusing saja." ucap Juna semakin kesal. Dia memilih memejamkan matanya sambil berharap untuk cepat sampai ke tempat adik-adik Tiffany.
__ADS_1