Pilihan CEO Tampan

Pilihan CEO Tampan
Setelah kekacauan


__ADS_3

Sementara itu, di rumah sakit, Megan sudah jauh lebih tenang sekarang. Tidak ada masalah serius pada kandungannya, dan dokter sudah mengijinkan dia kembali.


Juna memegang tangan Megan sambil memandangi wanita yang tadi kesakitan itu.


“Lepas Jun..” omel Megan karena suster sudah senyum-senyum sendiri melihat mereka.


“Kamu ga takut nanti ada berita seorang Juna membawa lari istri orang?”


“Semua sudah beres.” Jawab Juna enteng. Dia sudah menelepon Bu Meri untuk tetap melanjutkan acara dan juga menyuruh Jo untuk menutup mulut wartawan.


“Gimana dengan Marsha dan..”


“Tidak usah dibahas sekarang.” “I miss you.”


Juna bergerak ke sebelah Megan, lalu memeluk Megan. Dia mengusap rambut Megan dengan lembut.


“Miss you too..” balas Megan senang.


“Megan.” Suara Bobby memecahkan momen mereka. Bobby segera meluncur ke rumah sakit setelah menggantikan pembuka acara Marsha yang sudah kacau.


Melihat Bobby datang, Megan segera melepaskan diri dari Juna.


Juna menatap pria itu dengan tajam. Sedangkan Bobby menatap Juna dengan pandangan yang sulit diartikan. Juna menggendong dan memeluk istrinya di depan matanya sendiri dan di depan semua orang.


“Kamu ga apa-apa?” Tanya Bobby setelah tersadar.


Megan menggeleng. Dia menarik tangan Bobby untuk mendekat.


“Oke, karena suaminya sudah datang, aku akan pergi. Ingat, kalau sampai kamu tidak bisa menjaga Megan, aku akan bawa dia pergi.” Ancam Juna. Dia pergi meninggalkan Megan dan juga Bobby yang masih bingung.


"Bobby, kamu janji untuk tidak marah kan? Kamu harus mengerti posisi Juna dan juga aku." Megan menggenggam tangan Bobby.


Bobby hanya menghela nafas panjang. Dia mengangguk tanda mengerti. Dia tidak ingin menambah beban pikiran istrinya yang tentu akan mempengaruhi pada bayinya juga.

__ADS_1


***


Park Hyatt


Ruangan itu sudah kosong dan hanya menyisakan Bu Meri, Marsha, Ken, dan Tiffany.


Mereka bertiga menatap Tiff dengan tajam. Semua menyudutkan Tiffany, karena masalah berawal dari Tiffany.


"Kenapa kamu dorong Megan?" tanya Bu Meri sambil bercak pinggang. "Kamu ada masalah pribadi sama dia?"


"Maaf Bu.." hanya itu yang mampu di ucapkan Tiffany.


'PLAK' Bu Meri menampar pipi Tiffany dengan keras hingga meninggalkan bekas merah di sana. Dia sudah tidak dapat menahan emosinya. Jika Marsha marah, EO mereka bisa bangkrut seketika.


"Apa kamu lihat sesuatu?" tanya Ken yang merasa kasihan pada Tiffany.


"Tidak."


"Sudah Bu.. tidak apa-apa.. yang penting semua baik-baik saja." Marsha angkat bicara.


"Jangan Bu.. Saya minta maaf.." Tiff memegang tangan Bu Meri sambil memelas. Dia tidak bisa jadi pengangguran karena dia harus menanggung adiknya.


Bu Meri menghempaskan tangan Tiff dengan kasar. "Cukup Tiff, saya sangat kecewa hari ini." Bu Meri pergi dari ruangan. Dia masih harus membereskan banyak hal termasuk kerugian pada pihak Hotel.


"Saya minta maaf nona Marsha." Tiffany membungkuk pada Marsha dan Ken, lalu dia juga memutuskan pergi dari sana dengan perasaan yang tidak karuan.


***


Seseorang menarik tangan Tiffany ketika melihat wanita itu berjalan sambil melamun. Tiff cukup terkejut dan sempat memberontak karena dia takut ada orang jahat yang mengikutinya lagi.


"Tiff, ini aku.."


Tiffany baru sadar jika orang itu adalah Tim. Dia melunak dan membiarkan Tim membawanya.

__ADS_1


Tim menghentikan langkah nya saat sampai di kolam renang. Kolam renang indoor di hotel itu sudah sepi.


Dia melepaskan Tiffany, dan duduk di salah satu bangku.


"Kaki mu ga sakit? Duduk sini." Tim meminta Tiffany untuk duduk di dekatnya. Dia juga mengeluarkan es krim dari tas plastik yang di bawanya.


Tiff akhirnya bergerak untuk duduk dengan Tim.


"Makasih." Dia lalu menerima es krim yang di sodorkan oleh Tim.


"Aku tau semua Tiff. Itu bukan salahmu." ucap Tim sambil menatap Tiffany. "Kenapa kamu ga bicara saja pada mereka?"


Tiffany melirik ke arah Tim. "Apa yang kamu tau?"


"Kamu liat ada orang yang ingin mencelakai Megan, jadi kamu mau selamatkan Megan."


Tiffany hampir saja tersedak. Bagaimana Tim bisa tau? Bahkan bodyguard Marsha saja yang ada di dekat podium tidak melihat kejadian itu.


"Tiff, kamu jangan meragukan seorang Timothy." kata Tim bangga.


"Memangnya kamu siapa?"


"Mau tau aja atau mau tau banget nih?" goda Tim sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Gue colok juga lama-lama mata lo."


Tim tertawa melihat Tiffany yang mulai kesal. Itu adalah Tiffany yang dia kenal. Tiffany yang sedikit judes dan galak. Jika Tiff sudah mulai mengomel, itu artinya perasaan Tiff sudah lebih baik.


"Bagaimana rencana kamu selanjutnya?" tanya Tim yang kembali dalam mode serius. Tim sudah menyelidiki latar belakang Tiffany. Dia anak yang broken home dan sekarang adalah tulang punggung keluarga.


Tiffany mengangkat kedua bahunya tanda tidak tau. Saat ini dia merasa seperti botol aqua yang di remas sampai hanya tinggal lempengan saja. Otak dan tenaganya sudah habis tidak bersisa.


"Tim, aku kembali ke kamar dulu, Terima kasih es krim nya."

__ADS_1


Tim membiarkan Tiffany melangkah pergi. Dia paham jika Tiffany pasti juga butuh waktu sendiri.


__ADS_2