Pilihan CEO Tampan

Pilihan CEO Tampan
Makan malam di Restoran


__ADS_3

Tiffany mendapat tugas dari Tim untuk merekam pembicaraan dari targetnya, Nyonya Wibowo alias istri Pak Adam. Saat ini Tiff sudah berada di restoran bintang 5 di Hotel Diamond. Malam ini Tiff sudah berdandan secantik mungkin untuk menyempurnakan penyamarannya. Dia menggunakan dress hitam, rambut di gerai dan lipstik merah. Tim bilang kalau dia harus tampil anggun seperti crazy rich.


Tiff duduk di samping meja seorang wanita yang sesuai dengan foto yang dibawanya. Wanita itu sedang makan bersama seorang pria blesteran dan di samping mereka ada 2 pengawal yang berjaga. Tiff mencoba bertindak senatural mungkin, padahal jantungnya, sudah hampir copot. Apalagi saat pria itu menangkap pandangan Tiffany dan tersenyum padanya. Tiff hanya tersenyum kecil, lalu dia meletak kan ponsel nya di meja dengan posisi terbalik. Tiff sudah menyetel ponsel nya untuk mode rekam, jadi sekarang dia hanya perlu berpura-pura sedang makan malam.


Seorang pelayan mendekati Tiff untuk memberikan menu. Tiff hampir saja berteriak ingin protes karena menu di sini sangat mahal. Jiwa miskin nya meronta, karena dia biasa makan di bawah 30ribu.


"Yang ini satu. Minumnya yang ini." Tiff menunjuk menu dengan sembarangan karena tidak tau cara menyebutkannya.


"Jadi, kapan kita pergi?" Tanya pria bule itu.


"Tunggu seminggu lagi. Aku baru saja berhasil membuka brankasnya."


"Kalau semua sudah beres, kita perlu bereskan anaknya.. Anak nya sudah curiga." Sahut pria yang bernama Steven itu.


Prang. Tiff tidak sengaja menyenggol air minum yang baru saja diantar oleh pelayan.


'Mampus gue.' Tiff berjongkok untuk mengambil pecahan kacanya. Fokus nya menyamar menjadi wanita elegan buyar karena begitu grogi. Di tambah perkataan Steven yang sepertinya akan melakukan tindakan kriminal.


Semua mata terpandang pada Tiff. Steven yang mulai curiga dan mendekati Tiff. Dia ingin melihat siapa wanita itu. Dia beranjak dan mendekati meja Tiffany. Saat Steven membungkuk dan ingin memegang lengan Tiff, seseorang menepis tangannya.


"Dia teman saya."


"Juna Liem?" Steven mengenali pria tinggi dengan wajah tampan di depannya.


Juna memegang lengan Tiff dan membantu gadis itu berdiri.


Juna hanya menatap mereka sesaat, lalu duduk berhadapan dengan Tiffany.


"Maaf, saya tidak tahu kalau nona ini teman anda." Steven membungkuk pada Juna dengan perasaan bersalah. Dia kembali ke mejanya sebelum Juna marah.


"Maaf terlambat." Kata Juna tanpa menunjukan senyum.


Jantung Tiff hampir berhenti berdetak melihat Juna datang. Dia sangat bersyukur sekaligus terkejut dengan penampilan Juna yang begitu rapi. Dia menggunakan kemeja biru muda dengan kancing yang di buka 2 pada bagian atasnya di padukan dengan jas hitam.


"Eh iya.. Apa kabar?" Tiff tampak canggung.

__ADS_1


"Masih nafas." Jawab Juna cuek. Dia mengangkat tangannya, memberi kode supaya pelayan mendekat.


Juna dengan cepat memilih menu.


"Tolong bayarkan sekalian tagihan meja di sana." Juna menyerahkan blackcard nya pada pelayan.


"Kita akan bicara setelah ini, sekarang makan saja." Kata Juna pada Tiff yang masih memandangnya tanpa berkedip.


"Oke." Tiff menurut. Dia lupa tujuannya kemari, karena sekarang di otak Tiff hanya ada Juna.


"Kamu terlihat kurus." Ucap Tiff pada Juna.


"Kamu terlihat cantik." Balas Juna. Seumur hidup, Juna tidak pernah memuji seorang wanita, tapi Tiffany memang cantik malam ini.


Tak lama pelayan datang membawa makanan mereka. Juna memesan steak, sedangkan Tiff ternyata memesan Salmon. Tiff menjauhkan piringnya karena dia tidak suka ikan.


"Kenapa?" Tanya Juna heran. Biasanya Tiff sangat semangat jika melihat makanan.


"Gak apa-apa.."


Juna mengambil piring Tiff, lalu menukar dengan piringnya.


Tiff memandang Juna dengan takjub. Pantas saja Marsha dan Megan menyukai Juna. Di luar Juna memang tampak sadis, tapi kalau berdua dia bisa melakukan hal yang mungkin ga akan disadari oleh laki-laki lain.


"Kamu mau aku suapi?" Kata Juna lagi.


Tiffany tersipu malu. Akhirnya tanpa banyak bicara lagi dia memakan steak di depannya dengan senang. Baru kali ini Tiff makan di restoran mahal dan tentu rasanya begitu enak. Sementara Tiff makan, Juna kembali memandang Tiffany. Gadis itu sungguh seperti magnet yang membuat Juna enggan untuk menengok ke arah lain.


"Makasi Jun.." Ucap Tiff setelah menyelesaikan makannya. Juna memberi kode karena mulut Tiffany belepotan. Tiff segera mengelap bibirnya dengan Tisu, tapi dia lupa kalau dia menggunakan lipstik merah. Bukannya bersih, lipstik Tiff malah belepotan. Melihat itu, Juna tertawa kecil.


"Pak Juna.. Saya baru pernah lihat anda, tertawa." Pria dan wanita yang Tiff selidiki mendekat, lalu menepuk pundak Juna. Juna kembali memasang wajah dinginnya.


"Terimakasih traktiran nya. Lain kali saya yang akan mentraktir anda. Saya minta maaf nona karena tidak tau anda datang bersama Pak Juna." sekali lagi Steven tersenyum pada Tiffany.


Tiff mengangguk masih sambil membersihkan lipstiknya dengan tisu basah. Dia menyerah karena tidak bisa bertindak sebagai wanita elegan. Setelah Steven pergi, Tiff bisa bernafas lega, lalu dia mematikan rekamannya.

__ADS_1


Sekarang tinggal mereka berdua. Juna lebih leluasa menatap Tiff, begitu juga dengan Tiffany.


"Keluar lah dari pekerjaan ini. Ini sangat berbahaya." Saran Juna.


"Aku suka seperti ini.." Kata Tiff datar.


Juna mengecek ekspresi Tiff. Tidak ada keraguan dalam kata-katanya.


"Kamu memikirkan adik-adikmu?"


"Jelas. Itu tanggung jawab aku sebagai kakak."


"Orang tua mu?"


"Sudah meninggal. Sejak dulu, mama yang bekerja keras, sedangkan papa tidak melakukan apapun. Mama meninggal saat aku berusia 15 tahun karena kecelakaan, dan papa kabur entah kemana." Tiff memulai cerita sedihnya.


“Sekarang di mana papamu?”


“Entahlah..”


Juna mengambil tisu di meja, lalu memberikan pada Tiffany.


Tiffany menggeleng dan tidak menerima tisu dari Juna. Dia tersenyum penuh arti pada Juna.


“Aku tidak akan pernah menangis Jun. Aku tidak punya waktu untuk menangis.”


Juna tau sekarang, kenapa Tiff tidak pernah terlhat sedih. Dia juga tau kenapa Tiff begitu mandiri. Juna merasakan miris dan kagum secara sekaligus. Kehidupan Tiff tidak jauh beda darinya. Sama-sama broken home dan punya kehidupan yang keras.


“Tiff,,” Percakapan mereka terputus karena telepon Juna berdering.


"Sebentar aku tinggal dulu, ini telepon dari Jo." Juna memutuskan untuk berpindah tempat.


Tiffany memeriksa ponselnya, lalu mengirimkan rekaman suaranya pada Tim.


Ketika sedang asik membaca pesan masuk, beberapa orang bertubuh kekar masuk. Mereka dengan mudah menggendong Tiffany seperti karung beras.

__ADS_1


"Eh, kalian siapa. Lepasin." Tiff memberontak sambil memukul2 punggung orang yang menggendongnya.


"Tolooong." Tiff berteriak sekuatnya. Tapi, suaranya tenggelam karena mereka sudah masuk dalam lift.


__ADS_2