
Semua tamu sudah hadir dan duduk di tempat yang telah disediakan.
Jo hanya mengundang tamu dari keluarga Sebastian, beberapa teman Juna seperti Timothy, Boy, dan Ericka, juga tidak ketinggalan dia mengundang mantan Juna, Marsha.
Marsha duduk di sebelah Ericka. Dia tampak tidak bersemangat dan Ericka dapat dengan jelas melihat lingkaran hitam di bawah matanya.
"Kenapa dia malah pilih gadis seperti itu?" ucap Marsha sedih.
"Nanti kamu akan bertemu pria yang lebih baik dari Juna." hibur Ericka.
"Sepertinya aku akan sering konsultasi sama kamu."
Sementara itu di belakang mereka, kumpulan para bujang pun mendiskusikan hal yang sama dengan wanita-wanita itu.
"Akhirnya mereka menikah juga." kata Timothy pasrah. "Nasib.. nasib.. jagain jodoh orang."
"Hey, aku pun sama." celetuk Boy. Dia juga menjaga Aeris yang kini sudah menikah dan sedang bulan madu bersama dengan Reno.
Mereka berdua menghela nafas bersamaan.
Boy menengok ke arah Ken yang sejak tadi hanya diam saja. "Hey, beruang..gimana dengan kamu?" Boy mencoba bicara pada bodyguard Marsha itu.
Ken hanya melirik sesaat, lalu tidak menjawab.
"Wah, sepertinya kamu suka dengan majikanmu itu ya.. kalian bahkan ke mana-mana berdua." goda Boy lagi.
"Anda berisik sekali."
Di tengah-tengah pembicaraan mereka, akhirnya pemeran utama hari ini, datang juga.
Juna tampil sangat tampan seperti biasa, dan Tiffany pun terlihat seperti putri dalam cerita disney.
Tiffany memegang lengan Juna. Dia tampak begitu gugup.
"Jun, sepertinya aku bisa pingsan." bisik Tiffany lirih.
__ADS_1
"Jangan sekarang Tiff..nanti di kamar kamu boleh lakukan sesuka mu."
Semua undangan bertepuk tangan ketika mereka berjalan menuju ke depan. Di belakang mereka tampak 2 wali orang tua dari keluarga Sebastian. Dimas dan Siska alias orangtua Reno menjadi wakil dari Tiffany, sedangkan Ben dan Lidia alias orang tua Samuel menjadi wakil dari Juna.
Jo memberi kode supaya acara segera di mulai.
Prosesi berjalan dengan lancar ketika pemimpin agama sudah mengatakan jika mereka sudah resmi menjadi suami istri.
"Tiff, aku akan menjaga kamu sebisa mungkin." ucap Juna di hadapan Tiffany. Dia menghapus air mata Tiffany dengan lembut.
Ya, Tiffany menangis saat Juna memasangkan cincin pernikahan mereka, dan belum berhenti juga sampai saat ini.
"Bagaimana ini, Jun, aku tidak bisa berhenti menangis."
Juna memegang pipi Tiffany, lalu mencium bibir nya di depan semua hadirin.
Tiffany awalnya terkejut, tapi dia mulai menikmati apa yang Juna lakukan.
Marsha yang melihat dari tempatnya, segera keluar dengan kesal. Selesai sudah ceritanya dengan Juna. Ternyata sejak awal Juna sudah memilih Tiffany.
"I love you." ucap Tiffany saat Juna melepaskan ciumannya. "Terima kasih karena sudah memilihku."
Acara mereka dilanjutkan dengan memberi ucapan pada mempelai.
Megan, Bobby dan si kembar yang pertama maju. Megan memeluk Tiffany dengan erat.
"Selamat datang di keluarga Liem.. kakak ipar." ucap Megan senang. "Semoga kamu bisa tahan dengan kakak ku."
Dia lalu beralih pada Juna yang sedang memelototinya. "Selamat, Jun.. cepat bikin keponakan untuk menemani si kembar."
"Hmm.." jawab Juna singkat. "Sudah sana cepat."
Tamu mereka berikutnya adalah Timothy.
"Kamu sangat cantik, Tiff." Tim hendak memeluk Tiffany, tapi Juna menahannya.
__ADS_1
"Oke, oke Jun.. santai.."
"Semoga kamu cepat menyusul ya, Tim.." ucap Tiff sambil tersenyum. "Terimakasih atas bantuannya selama ini."
Tim mengalami Tiffany dan cepat berlalu. Juna sudah menunjukan wajah tidak ramah karena Tim mengobrol terlalu lama.
Di belakang Tim, Boy sudah menunggu. Dia tidak terlalu mengenal Tiffany. Yang Boy tau, Tiffany adalah teman Aeris.
"Selamat untuk kalian berdua.." "Reno menitipkan hadiah untuk kalian di depan."
"Thanks, Boy." ucap Juna singkat.
Setelah Boy berlalu, giliran Ericka yang datang.
"Selamat Tiff, Jun.. aku ikut senang.." Ericka memeluk mereka satu persatu.
"Kamu juga cepatlah menikah, Rick." saran Juna setelah Ericka melepaskan pelukannya.
"Baiklah Pak..aku akan cari pasien yang tampan seperti mu."
"Ehem.." Tiffany berdehem melihat kemesaraan mereka.
Juna menengok pada wanita yang kini sedang cemberut itu.
"Sayang, dia teman kecil ku." Juna merangkul pinggang Tiffany.
"Tim juga teman ku." protes Tiff.
"Kamu mau aku cium lagi?" tanya Juna yang sudah mulai mendekatkan wajahnya.
"Dasar mesum." Tiffany mencubit pinggang Juna.
Bisa-bisanya dia merayu di tengah tamu undangan yang masih mengantri.
"Kalian sabarlah sampai di rumah nanti." Jo mengingatkan Juna. Pasangan baru selalu saja lupa dengan keadaan sekitar. Jika di depan umum saja begini, apalagi nanti saat berdua. Jo bergidik ngeri membayangkan apa yang akan mereka lakukan nanti malam.
__ADS_1