
Jo masuk ke dalam kamar di lantai atas dengan terburu-buru. Dia takut sesuatu terjadi pada Juna karena tadi suara Juna seperti orang yang baru saja lari maraton 1000km. Langkah Jo terhenti karena melihat Juna sedang berepelukan dengan Tiffany.
Juna mengisyaratkan Jo untuk diam. Jadi, Jo hanya menunggu di sofa sambil menonton drama Juna-Tiffany.
‘Baru putus udah dapet yang baru. Terus Megan? Astaga bos gue memang luar biasa. Casingnya aja jutek, tapi cewe-cewe pada nempel.’
Setelah menunggu setengah jam, Tiffany mulai tenang. Dia baru sadar kalau Juna sejak tadi memeluknya atau lebih tepat dia memeluk Juna begitu lama.
Juna membantu Tiffany berdiri, lalu mengajaknya duduk di sofa.
“Ambil minum Jo.”
“Minum apa? Air putih, coca cola atau susu?” Ucap Jo bingung.
Juna tidak menjawab pertanyaan bodoh dari Jo. Dia melapaskan kemejanya yang basah, lalu berjalan ke kamar mandi.
Jo tau apa yang harus dilakukan. Dia mengambilkan minum di kulkas, lalu memberikan pada Tiffany yang terlihat cantik malam ini.
“Terima kasih.”
“Anda tidak apa-apa nona?”
Tiffany menggeleng. Dia menghabiskan air mineral yang diberikan Jo hanya dalam waktu beberapa detik saja.
“Maaf nona, sepertinya saya harus membeli baju untuk kalian. Kalian tunggu di sini dulu.” Jo menyerahkan jam dan cek yang sejak tadi dipegangnya pada Tiffany. Dia lalu segera keluar untuk membelikan pakaian bos dan teman wanitanya itu. Jo pergi lagi karena melihat baju Tiff sobek sampai sepaha. Kalau Jo masih berada di dalam, Juna bisa memotong habis gajinya atau mengambil kembali mobil sportnya yang baru di pakai satu jam saja.
Tiff duduk diam sambil menunggu Juna keluar. Ini kedua kalinya dia terjebak di dalam kamar hotel bersama dengan Juna. Tapi kali ini perasaan Tiff lebih tenang. Dia hanya masih memikirkan perkataan Juna tadi. Apa tadi Juna mengajaknya Pacaran? atau memaksanya menjadi pacar nya?
“Mana Jo?” Juna keluar dari kamar mandi dengan bathrobe dan rambut basah.
“Dia pergi untuk beli baju.” Jawab Tiff sambil melengos. Dia harus mengakui jika Juna terlihat begitu menarik dan sangat manly.
Juna melihat gaun Tiff yang sobek. Dia kembali ke kamar mandi, lalu melemparkan bathrobe supaya Tiff memakainya.
“Jangan bangunkan macan tidur.” Kata Juna asal.
__ADS_1
“Memangnya di sini ada macan?”
“Tiff,, mohon jangan terlalu polos.”
Tiff masih tampak berpikir sehingga membuat Juna memberi kode sambil menunjuk paha mulus Tiffany yang terlihat jelas ketika dia duduk.
Tiff tersadar dan buru-buru memakai bathrobe yang di beri Juna.
Setelah memastikan aman, Juna akhirnya bisa duduk di sebelah Tiff. Dia merasa harus menaikan gaji Jo karena dia sangat peka terhadap pikiran Juna.
"Kamu ga terluka kan Jun?"
Tiffany mencoba meneliti Juna tanpa menyentuhnya.
Orang-orang tadi bertubuh kekar layaknya bodyguard, sedangkan Juna tentu kalah jumlah dan otot.
Juna yang melihat Tiffany bingung, hanya bisa senyum-senyum sendiri.
"Aku memang keren." Puji Juna pada dirinya sendiri.
"Setiap orang akan tergoda dengan uang. Jadi mudah saja merayu mereka dengan ini dan ini. Kamu tidak perlu pake otot." Juna menunjukan jam tangan mahalnya juga selembar cek.
Tiffany mengangguk. Orang kaya mah bebas. Tidak masalah apa yang Juna lakukan asal pria itu baik-baik saja.
"Tiff, aku serius soal yang tadi." Juna mengingatkan Tiffany kembali soal perkataannya tadi.
"Tidak bisa Jun.. Selain status sosial kita beda, kamu suka Megan." Terang Tiff sambil menunduk. Saat ini Juna menatap tajam dirinya, dan dia tidak tahan dengan tatapan Juna yang penuh harap.
"Pertama, aku tidak suka penolakan. Kedua, percayalah hubungan aku dan Megan tidak seperti yang kamu bayangkan." Protes Juna. Sulit sekali mendekati seorang gadis kecil yang bernama Tiffany ini. Juna bahkan bisa menghadapi 5 pria kekar sekaligus, Marsha, atau rekan-rekan bisnis yang licik. Tapi, Tiffany..
"Apa hubungan kalian kalau bukan kekasih?"
"Kadang, ada hal yang memang tidak perlu kita ketahui. Kalau tau, semua justru akan menjadi lebih rumit." Kata Juna akhirnya. "Aku tidak akan jelaskan sekarang. Tapi nanti pasti kamu akan tau. "
Tiff mengingat kembali foto yang dia lihat pada laptop Tim. Foto anak kecil yang saling merangkul. Apa itu Juna? Wajahnya begitu mirip. Dan apakah wanita di sebelahnya Megan? Jadi apakah mereka punya hubungan sejak kecil? Cinta monyet? Cinta pandangan pertama? Juna tidak punya seorang adik. Dia anak tunggal. Jadi tidak mungkin Megan adalah adiknya. Apakah memang betul kata Juna, lebih baik aku tidak tau hal ini?
__ADS_1
"Tiff.. cuma ada 2 pilihan, kita pacaran atau langsung menikah." Suara Juna membuat Tiff tersadar.
"Apa Jun? pilihan macam apa itu?" Tiffany menahan tawanya. Dia tidak percaya seorang Juna Liem mengajukan pilihan seperti ini. Dari wajah Juna, jelas dia tidak sedang bercanda.
Juna kini duduk menghadap Tiffany. Dia sedikit membungkuk hingga jarak mereka begitu dekat.
"Aku memang bukan pria romantis, tapi aku akan berusaha bertanggung jawab." "Kita sama-sama berjuang sendiri Tiff, bukan kah lebih baik kita berjuang berdua?"
Tiffany tampak berpikir sambil memainkan ujung bathrobe nya. Ya, pria ini adalah Juna Liem. Dia orang yang tidak romantis dan suka memaksa, hingga membuat Tiffany bingung setengah mati.
"Juna...apa ga ada pilihan lain?Atau call a friend?" Ucap Tiff yang mencoba mencairkan suasana. Tapi, waktunya memang tidak tepat untuk bercanda. Juna tidak terpancing candaan Tiffany, dia malah makin mendekat pada Tiffany hingga Tiff sedikit memundurkan badannya.
Tiffany bukan nya tidak mau menjadi kekasih Juna. Setiap orang normal pasti akan segera menjawab iya, karena siapa yang dapat menolak Juna Liem. Orang kaya raya, berpengaruh dan juga tampan. Tapi, Tiff hanya takut jika Juna akan meninggalkan dia, seperti ayah nya dulu.
"Cepat, aku hitung sampai tiga, kalau kamu tidak mau, aku ambil pilihan yang kedua." "Satu.. dua.. "
"Oke.. pilihan pertama." Teriak Tiff cepat.
"Bagus.." "Aku ga akan ekspos ini ke publik sampai kita akan menikah nanti. Jadi kamu akan aman." Juna menarik tubuhnya menjauh dari Tiffany karena dia sudah mendapatkan jawaban yang dia inginkan.
Tiffany setuju dengan menganggukan kepala.
"Tapi aku juga tetap akan bekerja bersama Tim."
"Baiklah.. tapi sekali ini terjadi lagi, kamu harus berhenti."
"Makasi Jun.."
Juna tersenyum, lalu merapikan rambut Tiffany yang acak-acakan.
"Coba cubit aku." pinta Tiff.
"Kamu gila ya?" Juna menolak mentah-mentah permintaan konyol Tiffany.
"Cepat.. aku harus pastikan ini bukan mimpi." Tiff maju mendekati Juna. Tapi, dia malah tersandung karpet hingga membuat Tubuh Tiffany limbung. Juna dengan segera menangkap Tiffany, hingga lagi-lagi Tiffany jatuh dalam pelukannya.
__ADS_1
"Ehem."