Pilihan CEO Tampan

Pilihan CEO Tampan
Megan


__ADS_3

Juna segera pergi meninggalkan Jo dan Tiffany begitu mereka sampai bandara. Dia bahkan tidak mengatakan apapun pada Tiffany sejak tadi sampai pergi.


"Kamu ga apa-apa Tiff?" tanya Jo yang melihat kesedihan di mata Tiffany.


"Kenapa begitu sulit memahami Juna?"


"Ya,, kamu harus sabar.. Tapi yakin lah, Juna orang yang baik." sekali lagi Jo menepuk pundak Tiffany.


"Baik belum tentu benar, Jo." Tiffany berjalan lebih dulu. Ini sungguh tidak adil untuknya. Juna baru saja kencan dengannya, dan di detik berikutnya dia malah pergi menemui Megan. Rasanya Tiffany seperti di bawa naik, lalu di jatuhkan dari lantai 30.


"Ya, makanya lebih baik kamu mencari orang seperti aku." ucap Jo kemudian.


"Cih, lebih baik aku jomblo."


"Tapi aku lucu kan?" goda Jo.


Tiffany mempercepat langkahnya karena dia tidak mood meladeni Jo.


Akhirnya mereka sampai pada mobil Jo. Jo tadi berangkat membawa mobil, jadi mereka tidak kebingungan untuk pulang. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam seperti orang asing.


"Jo, apa kamu punya teman wanita?" tanya Tiffany tiba-tiba.


"Emmm.. beberapa.." "Kenapa?" Jo menengok sekilas pada Tiffany.


"Siapa yang paling dekat?"


"Cassie Sebastian." jawab Jo cepat.


"Adik Reno?" teriak Tiff. Dia terkejut karena Jo bisa berteman dengan Cassie yang notabene anak konglomerat.

__ADS_1


"Ya,, kami baru berteman sih,, ternyata Cassie sefrekuensi.." Jo tersenyum ketika mengingat teman spesialnya itu.


Tiffany mengangguk. "Tapi, apa kamu akan berlari secepat mungkin kalau dia minta tolong?"


Jo tau arah pertanyaan Tiffany. Dia pasti sedang memikirkan hubungan Juna-Megan lagi.


"Ya, tentu saja. Apalagi dia selalu butuh pertolongan.." Jo berharap jawabannya akan membuat Tiffany berhenti khawatir tentang Juna.


Gadis itu tampak diam dan melanjutkan menatap keluar jendela. Setidaknya untuk saat ini aman. Tapi Jo tidak tau apa lagi yang harus dia katakan jika Juna lebih memilih meninggalkan pacarnya dan berlari pada Megan.


***


Megan memeluk Juna begitu melihat pria itu muncul di depan pintu apartemen nya.


Juna menenangkan Megan dengan menepuk punggungnya. Setelah Megan cukup tenang, Juna melepaskan Megan dan mengajaknya masuk.


"Dia ada job di luar kota."


Juna melihat sebuah kotak di meja. Dia membuka kotak itu, dan isinya bangkai burung dan sebuah surat. Ya, Megan menelepon karena dia terkejut melihat paket yang di terimanya malam ini.


Juna membawa kotak itu keluar dan meletakannya di samping pintu apartemen Megan. Dia akan membuangnya saat pergi nanti. Kejadian seperti ini bukan pertama kalinya. Megan kerap menerima teror dari para haters dan kali ini memang sedikit keterlaluan.


"Apa lagi yang perlu aku lakukan?" Juna duduk di sebelah Megan.


"Maaf Jun, kamu pasti lelah.. tapi aku takut.." jawab Megan dengan nada penuh penyesalan.


"Tidurlah. . ini sudah jam.." Juna menengok jam tangannya. "Jam 2 pagi." Juna beranjak dari kursinya karena Megan sudah tidak membutuhkan bantuannya lagi.


Megan mengangguk. Dia mengantarkan Juna pergi. Pria itu tampak sangat kelelahan dan pucat. Juna baru saja akan memegang gagang pintu ketika dia merasakan kepalanya berdenyut. Dia berpegangan pada tembok di sebelahnya karena badannya sudah mulai limbung.

__ADS_1


"Jun.. kamu kenapa?" tanya Megan panik.


'BRUK' Juna terjatuh tepat di depan Megan. Dia pingsan.


Megan tentu saja panik dan segera menepuk pipi Juna. Dia mengambil ponsel Juna di saku celananya, dan menekan tombol 1. Tombol darurat Juna itu terhubung pada Jo.


"Jo, Juna pingsan.. kamu ke sini sekarang."


***


Rumah Sakit Husada


Megan memegang Juna yang sekarang sedang tertidur dengan selang infus di tangannya.


Di belakang Megan, ada Jo yang berdiri mengamati mereka. Di bandingkan Tiffany, Juna-Megan memang terlihat seperti kekasih.


"Nona, anda tidak ingin pulang?" tanya Jo lirih.


"Aku akan tunggu Juna."


"Sebenarnya ada hubungan apa anda dengan Pak Juna?" Jo nekat bertanya.


Megan membalik kan kursinya menghadap ke arah Jo. "Jo, aku belum bisa jelaskan."


"Ya, baiklah..tapi anda harus tau batasannya. Pak Juna sudah memiliki kekasih dan anda sudah punya suami." ingat Jo.


Megan terdiam. Dia kembali berbalik untuk menatap Juna. Sejak kejadian di Jepang, Megan jadi lebih bergantung pada Juna. Entah karena bawaan anaknya atau karena Bobby yang selalu sibuk. Seperti saat ini, Megan bisa saja menelepon asistennya, tapi dia lebih memilih mencari Juna.


'Bagaimana ini Jun? Apakah kita beritahu saja yang sebenarnya?' ucap Megan dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2