
Jo mengangguk pada perawat yang baru saja selesai mengganti infus Juna. Dia menatap Juna yang masih diam saja sejak sadar 1 jam lalu.
Ponsel Jo berdering memecah keheningan. Tim calling.. Sungguh waktu yang tidak tepat. batin Jo.
"Angkat saja, Jo." kata Juna lemah.
Sesuai instruksi Juna, Jo mengangkat teleponnya.
"Halo.. oh begitu.. "Iya, aku mau kasih tau kalau Juna kecelakaan. Dia baru saja menjalani operasi dan baru sadar." "Emm, setidaknya dia tidak lupa ingatan, dan keadaannya baik-baik saja." Jo bermonolog dengan orang di ujung saja.
"Mereka sudah sampai?" tanya Juna tiba-tiba.
"Ya, mereka baru sampai, dan Tiffany sangat senang." Jo mengikuti perkataan Tim di awal telepon tadi.
Juna kembali memejamkan mata sambil menahan rasa sakit yang menjalar di badannya. Dokter sudah menyuntikan obat penahan rasa sakit, tapi Juna tetap dapat merasakan dampak kecelakaan itu.
"Kamu sudah urus orang itu?"
"Nona Marsha yang urus. Dia kerjasama dengan Boy dan sudah dapat semua bukti." Jelas Jo dengan semangat. Dia sangat ingin menghajar orang yang sudah membuat Juna celaka. Tapi, orang itu sudah ditahan di kantor polisi.
"Junaaaaaa.." teriak Marsha yang baru saja datang.
Dia menggeser badan Jo supaya bisa berada di dekat Juna. Marsha memegang tangan Juna erat karena dia sangat senang Juna sudah sadar.
"Thank you Mars.." Juna kembali membuka matanya. Dia menatap wanita yang tampak panik itu. Penampilan Marsha tidak begitu rapi dan bajunya pun basah, membuat pakaian dalamnya menerawang.
"Kamu dari mana?" tanya Juna heran.
"Bertemu Boy. Orang-orang itu akan segera bangkrut dan dijebloskan ke penjara."
"Tunggu dulu, Jun." Marsha bangun, lalu memeluk Juna beberapa saat.
"Mars, luka ku bisa sobek, cepat minggir." protes Juna.
"Ini aneh." Marsha menarik badannya dari dada Juna.
"Kenapa?"
"No problem, Jun." jawab Marsha dengan wajah yang tampak berpikir.
Jo dan Ken saling berpandangan karena interaksi mantan pasangan kekasih itu.
"Dia salah minum obat?" bisik Jo.
"Mungkin trauma karena bertemu Boy." jawab Ken asal.
__ADS_1
'Tok.. Tok..' Pintu ruangan Juna terbuka setelah bunyi ketukan.
Ericka datang bersama dengan Megan yang menggunakan kursi roda.
Dia mendorong Megan untuk mendekat pada Juna.
"Jun, syukurlah kamu sudah sadar." ucap Megan yang langsung menangis ketika melihat Juna terbaring lemah. "Aku minta maaf, Jun."
"Meg, tidak ada yang salah di sini. Kamu lebih baik banyak istirahat."
"Tapi karena aku, Tiffany pergi.." sesal Megan. Jika saja dia tidak menemui Tiffany, kejadian seperti ini tidak akan terjadi.
"Sudahlah.. kalian semua keluar saja. Aku ingin istirahat." usir Juna. Dia tidak punya keluarga, tapi begitu sadar, 5 orang malah mengerumuninya seperti semut.
"Kenapa kalian diam saja?" tanya Juna yang melihat semua orang tidak bergerak dari tempatnya.
"Baik lah Jun, aku pergi dulu.." Marsha mendekat hendak memeluk Juna lagi, tapi Ken segera menahan tangan Marsha.
"Nona, anda jangan membuat Pak Juna marah." ingat Ken. Dia bingung dengan Marsha yang tampak ingin sekali memeluk Juna. Masalahnya, pelukan Marsha bukan seperti orang khawatir, tapi lebih tepatnya seperti sedang mengecek sesuatu.
Marsha pergi lebih dulu dengan Ken, meninggalkan yang lain.
*
*
*
suara itu menggema di Koridor dan membuat orang-orang menengok pada Boy.
"Jalan saja Ken, Pura-pura tidak kenal." ucap Marsha sambil menarik lengan Ken dan berjalan dengan cepat.
Karena melihat Marsha makin cepat, Boy berlari sprint sampai mendahului mereka.
"Wah, cantik-cantik gangguan telinga." ucap Boy terengah-engah.
"Urusan kita sudah selesai kan?" jawab Marsha sambil melengos.
"Ya, tapi kembalikan dulu tab nya. Ada data penting di sana." Boy mengadahkan satu tangannya meminta barang miliknya yang dibawa oleh Marsha.
"Aish, benar-benar merepotkan." Marsha membuka tasnya, dan benar tablet Boy ada di dalam.
Dia lalu mengeluarkan tablet Boy dan memberikan padanya dengan kasar. "Nih, cepat pergi."
"Anda seksi sekali, nona.." goda Boy sambil menatap bagian dada Marsha yang masih basah karena orange juice.
__ADS_1
'PLAK' Marsha menampar Boy dengan keras.
Ken bersorak senang dalam hati karena sejak tadi itu yang dia inginkan. Menghajar Boy. Tidak lupa Ken melepas jas nya, dan memakaikan nya pada Marsha.
Wajah Marsha sudah memerah karena sangat kesal. Dia kembali berjalan meninggalkan Boy.
"Hati-hati Marsha, benci sama cinta itu bedanya tipis." teriak Boy.
"Ken, dia sudah tidak waras." ucap Marsha sambil terus berjalan.
"Tapi anda ga suka dengan dia kan?" tanya Ken penasaran.
"Mana mungkin aku suka dengan orang macam dia. Tentu saja aku akan kembali pada Juna." jawab Marsha santai.
Ya, sekarang Tiffany pergi dan Megan ternyata saudara kembar Juna, jadi tidak ada lagi penghalang untuk mendapatkan hati Juna.
***
America
Tim menutup telepon dari Jo. Dia kembali pada Tiffany yang sedang melihat-lihat apartemen yang akan mereka tinggali.
"Tiff.." panggil Tim.
"Tim, ini bisa di minum langsung?" Tiffany tampak tidak menghiraukan Tim karena dia asyik bermain air kran di dapur.
"Ya,," "Tadi Jo menelepon. Dia kasih tau kalau Juna.."
"Tim, please.. Aku tidak ingin dengar kabar dari Juna saat ini." Potong Tiff.
"Meskipun Juna sekarat?"
Tiffany terdiam sesaat. Jika membicarakan Juna, otaknya harus berpikir dengan keras. Dia sangat merindukan pria itu. Tapi, kepergiannya justru akan membuat hidup Juna lebih tenang.
"Juna tidak akan sekarat." jawab Tiff dengan yakin.
*
*
*
Penampakan Boy
__ADS_1
Penampakan Ken