
'Prang' suara itu mengejutkan Tiffany yang sudah hampir tertidur. Dia mengecek adik-adiknya yang juga tidur dalam satu kamar yang sama. Semua ada. Jadi, suara tadi pasti suara orang asing. Tiff meraih ponsel yang ada di meja. Dia menelepon Juna, tapi tidak aktif.
Akhirnya Tiff mencoba menelepon Tim. Dia begitu panik sekarang.
"Ya Tiff,," ucap Tim dengan suara sengau. Tim pasti sudah tertidur.
"Seperti nya ada orang yang masuk rumah ku, Tim. Aku takut.." ucap Tiff dengan nada sepelan mungkin.
"Kamu jangan keluar, aku segera ke sana."
Tiff mematikan ponselnya. Dia berusaha tidak berisik dan membuat suara apapun. Tiff mencari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk alat membela diri karena Tim pasti butuh waktu untuk mencapai rumahnya.
Pandangan Tiff sungguh terbatas karena dia tidak dapat menyalakan lampu. Yang Tiffany temukan hanya sepatu hak miliknya. Jadi, dia mengambil itu, lalu menggenggamnya erat.
Gagang pintu mulai bergerak. Untung sebelum tidur, Tiffany selalu mengunci pintu kamar nya.
"Saya tau, kamu ada di dalam." "Cepat buka atau saya akan dobrak."
Deg. Tiffany mendengar dengan jelas suara pria di luar sana. Dia sudah tidak dapat berpikir lagi. Di dalam ada adik-adiknya yang masih tidur. Kalau sampai orang itu masuk, adiknya bisa celaka juga.
Tapi, dia sangat takut untuk keluar. Dia tidak tau apa yang diinginkan orang itu.
Orang itu mencoba menarik gagang pintu lagi. Akhirnya Tiffany pasrah, dan keluar.
Di depannya, ada 2 orang berbadan besar dengan menggunakan masker. Mereka sangat senang ketika Tiffany keluar.
"Ternyata cuma gadis kecil." ucap pria yang lebih pendek.
"Cepat ikut." Pria satu nya menyeret Tiffany keluar.
Tiff sangat lemas. Dia tidak bisa berteriak karena pria tadi juga membekap mulutnya. Sampai di depan, Tiff baru dapat memberontak. Dia menggunakan sikutnya untuk memukul perut pria yang membekapnya. Karena Tiff melakukannya dengan keras, pria itu langsung kesakitan.
Ini kesempatan Tiff untuk lari.
__ADS_1
Sayangnya, pria pendek satunya lagi yang sudah menyalakan mobil, melihat Tiffany yang akan berlari. Dia menangkap Tiff, lalu mengunci tangan Tiff ke belakang.
"Kalian siapa? Kenapa kalian mau bawa saya?" teriak Tiff. Dia sudah tidak peduli lagi kalau adik-adiknya bangun.
"Diam. Ini perintah bos saya."
"Toloooong.." teriak Tiff lagi.
'PLAK' Pria pendek itu menampar Tiff dengan keras.
Tiffany meringis kesakitan. Rasanya seperti terkena raket nyamuk dengan listrik 10x lipat. Tapi Tiffany tidak menyerah. Dia menggunakan kaki nya untuk menendang ke arah pria itu.
Kali ini tendangan Tiff tidak tepat sasaran, dan justru membuat pria pendek yang menyekapnya jadi kesal. Dia membanting tubuh Tiff ke bawah, hingga Tiff merasakan kepalanya terbentur ke aspal.
"Dengar gadis bodoh, kamu ga bisa lawan kami." ancamnya.
'Tiiiiin' sebuah mobil putih berjalan cepat menuju ke arah mereka. Sontak pria itu kaget dan melepaskan Tiffany.
"Cepat kita pergi. Jangan sampai kita tertangkap."
Tim beralih ke Tiffany. Wanita itu tergeletak dan tidak bergerak. Tim mendekat dan langsung menggendongnya.
"Ka Tiff kenapa?" Adik Tiff terbangun karena suara klakson dari mobil Tim. Mereka menangis melihat kakaknya di gendong dan tidak sadarkan diri.
'Sial.' batin Tim dalam hati. Dia harus mengurus Tiffany, sekaligus mengurus adik-adik Tiffany.
"Kakak kalian jatuh. Ayo, cepat kalian masuk mobil. Kita obati Kak Tiffany. " ucap Tim setenang mungkin.
Adik-adik Tiff masuk ke bangku belakang sesuai arahan Tim. Dia mendudukan Tiffany di bangku sebelahnya, dan memasangkan self belt untuk nya. Sudah puluhan kali Tim menghadapi situasi sulit seperti ini. Jadi, dia sudah terbiasa dengan mencari solusi cepat.
"Ericka, tolong aku.." "Kamu bisa pergi ke hotel Emerald sekarang?"
***
__ADS_1
Hotel Emerald
Ericka sudah memberikan perban pada dahi Tiffany yang terluka. Tiffany pun sudah sadar, tapi dia masih tampak sedikit shock dengan kejadian yang dia alami tadi.
"Tiff, kamu baik-baik saja. Adik kamu juga sudah tidur.." Tim mengajak ngobrol Tiffany supaya dia cepat kembali pada kesadarannya.
"Makasih Tim." Tiffany meresepon ucapan Tim. Dia mulai ingat apa yang terjadi padanya. Tiff menengok ke ranjang di samping nya. Adiknya sudah tertidur pulas.
Ericka menarik Lengan Tim karena sejak tadi pria itu tidak memberikan penjelasan padanya. Tim mengerti dengan kode yang Ericka berikan. Jadi mereka berdua berjalan menjauh, tepatnya ke arah pintu, supaya dapat leluasa bicara.
"Ada orang yang mau menculik Tiffany." jelas Tim dengan singkat, padat dan tidak jelas.
"Ada hubungan nya dengan Juna?" tanya Ericka penasaran.
"Ya, mungkin." "By the way, makasi ya bantuan kamu." Tim tersenyum pada gadis cantik di depannya.
Ericka hanya mengangguk. Dia sempat ragu-ragu karena Tim menyuruhnya ke hotel. Dia pikir Tim bercanda, ternyata Tim meminta perawatan untuk Tiffany yang terluka. Ericka juga harus mengakui jika Tim orang yang cerdas. Dia membawa Tiffany ke hotel, karena ada adik-adiknya. Pasti akan lebih merepotkan jika membawa mereka semua ke rumah sakit.
"Oh iya, kenapa dia telepon kamu dan bukan Juna? Kalian ada hubungan apa?" selidik Ericka.
"Kamu cemburu?"
"Astaga...yang benar saja. Kamu bercanda?"
"Ya,, memang aku hanya bercanda Dokter.. santai saja lah.." Tim tertawa kecil melihat wajah Ericka bersemu pink.
"Jadi, kamu belum jawab pertanyaan tadi."
"Tiff kerja dengan ku. Dia pasti tau jam segini aku belum tidur." jelas Tim asal. Padahal dia juga tidak tau kenapa Tiff meneleponnya dan bukan Juna.
"Ooo..memangnya kalian kerja apa?" Ericka memang tidak terlalu mengenal sosok Tim. Dia pertama kali bertemu di rumah sakit memperkenalkan diri sebagai asisten Reno.
"Bisnis kecil-kecilan saja."
__ADS_1
Ericka lagi-lagi mengangguk. Dia memperhatikan Tim. Wajah Tim pucat, juga berkeringat. Sebagai dokter psikiatri, Ericka tau ada sesuatu yang tidak beres.
"Baik lah, aku kembali dulu. Hubungi aku jika kamu ingin konsultasi juga." pesan Ericka sebelum pergi.