Pilihan CEO Tampan

Pilihan CEO Tampan
Mall


__ADS_3

Sejak berada di rumah Juna, Tiffany tidak sempat untuk berkeliling. Dia bahkan pernah tersesat ketika dia turun ke bawah untuk mencari ruang spa.


Hari ini, Tiff akan keluar karena Juna menyuruhnya untuk pergi ke mall. Dia mengikuti sopir yang sudah di perintah Juna pergi ke garasi.


"Nyonya, mau pakai mobil yang mana?' tanya sopir Juna saat pintu garasi terbuka.


Tiffany merasa lemas, karena Juna ternyata punya banyak sekali mobil mewah. Mobil-mobil itu berjejer rapi seperti berada di showroom. Tiffany menghitung mobil Juna, dan semua total ada 1,5 lusin mobil.


"Mana yang paling nyaman pak?" tanya Tiff yang sudah tidak dapat lagi memilih mobil Juna.


"Kalau mau keren, pakai Lambo saja Nyonya.. kalau nyaman mungkin kita bisa gunakan Lexus saja ya." Pak Sopir menunjuk mobil dengan body Alphard tapi logo nya L alias Lexus.


"Ya sudah pak.. kita pakai itu saja."


"Baik.. kita mau ke mana nyonya?" tanya Sopir Juna yang dengan sigap membukakan pintu mobil untuk Tiffany.


"Ke Central Park. Saya ingin bertemu teman lama."


*


*


*


"Aeriiiiiis.." Tiffany memeluk Aeris begitu dia melihat Aeris tengah duduk di cafe tempat mereka janjian.


"Lama sekali anda, Nyonya Liem." sindir Aeris. Sudah 1 jam lebih Aeris menunggu.


"Sorry, gue kena macet. Gimana kabar lo beb?" Tiffany mulai ngobrol gaya santai dengan Aeris. Sudah lama sekali dia tidak bertemu dengan Aeris karena mereka sibuk dengan pasangan masing-masing.


"Yah, biasa lah.. membosankan." "Reno menyuruhku untuk berkumpul dengan ibu-ibu sosialita.. tapi mereka sangat sombong dan menyebalkan." curhat Aeris. Dia pikir akan sangat menyenangkan ketika menjadi orang kaya, tapi ternyata dia belum bisa move on dari jiwa miskinnya.


"Hahahaha.." Tiffany menimpali cerita Aeris dengan tertawa. "Gue tau apa yang lo pikirin." Tiff menghela nafas karena dia pun sama dengan Aeris. Jiwa miskin nya masih meronta ketika melihat barang-barang mewah yang Juna berikan.

__ADS_1


"Bagaimana setelah menikah?" tanya Aeris yang mencoba mengalihka pembicaraan.


"Lo mau tau detailnya?"


"Gila lo. Otak lo memang mesum." Aeris menoyor kepala Tiff.


"Ya Juna begitu sempurna.. tapi karena itu, aku jadi takut kalau dia selingkuh."


"Hahaha.." kali ini giliran Aeris yang tertawa. "Kita sama."


Mereka berdua terdiam cukup lama.


"Aku curiga dengan sekretaris Reno." Aeris memulai lebih dulu ceritanya.


"Kenapa? Apa begitu cantik?"


Aeris menyerahkan ponselnya pada Tiffany. Tiffany cekikikan karena memang Sekretaris Reno sangat cantik dan seksi. Melihat reaksi Tiff yang tidak membelanya, Aeris kembali menyimpan ponsel nya.


"Kamu kenapa dengan Juna?"


"Boy? Jessica?" "Okey, kamu kalah jauh dengan dia." Aeris bersandar pada kursinya sambil meminum lemon tea yang baru saja datang.


Telepon Tiffany berdering. Dia menunjukan layar ponsel nya pada Aeris. My hubby calling..


"Panjang umur sekali dia." Tiff mengangkat dan menekan tombol loudspeaker supaya Aeris bisa dengar.


"Sayang, kamu sudah ke mall?" tanya Juna di seberang sana.


"Ya, aku bertemu dengan Aeris."


"Okey, bagus.. Mana Pak Bagus?" Bagus adalah sopir Juna yang mengantar Tiffany.


"Emmm.. dia lagi di toilet." jawab Tiffany asal. Sebenarnya, sopir Juna itu sedang menunggu di mobil, karena Tiff tidak ingin pembicaraan nya dengan Aeris terganggu.

__ADS_1


"Jun, tenang saja,, Tiffany aman.." Aeris merebut telepon Tiffany.


"Halo Ris..tolong jaga Tiffany. Jangan sampai dia kenapa-kenapa."


"Wah, Reno saja tidak menjaga aku seketat ini. Kamu pasti sangat sayang istri mu ini ya?" kata Aeris takjub.


"Bukan, karena tidak ada lagi mahkluk seperti dia."


"Sudahlah Jun.. kamu kerja saja.. love you, cintaku sayangku." Tiffany kembali mengambil alih pembicaraan dan segera menekan tombol end.


Sejak pulang dari America, ini pertama kali Tiffany pergi sendiri tanpa Juna, Jo atau Tim. Juna sudah menawarkan bodyguard untuk menjaga Tiffany, tapi Tiff menolak keras. Dia cukup trauma karena bodyguard yang disewa Juna itu ternyata musuh dalam selimut.


"Apa dia selalu begitu?"


"Kamu tau kan, mantan nya si Marsha. Dia selalu bawa bodyguard ke mana-mana. Juna ingin aku seperti itu." "Dia selalu takut kalau aku akan diserang oleh musuhnya." jelas Tiffany sambil rmemainkan wadah tusuk gigi di depannya.


"Ya, itu bentuk perhatian Juna. Terima saja lah.." saran Aeris. "Eh, sebentar Tiff.. Aku lihat Hana sedang jalan dengan Michael." Aeris tiba- tiba berdiri. Dia mengambil ponsel dan tasnya, lalu buru-buru pergi ke arah pintu keluar.


"Kenapa dia? Siapa itu Hana? Michael?" tanya Tiffany bingung.


"Hey, Tiff.." seorang pria yang menggunakan topi hitam muncul entah dari mana dan langsung duduk di sebelah Tiffany.


"Siapa kamu?" tanya Tiff panik. Dia tidak mengenal pria itu.


"Diam dan jangan berteriak. Aku bisa bertindak kasar jika kamu melawan." pria itu merangkul pundak Tiffany sambil menunjukan sebuah benda tajam.


Tiffany tidak punya pilihan. Keringat dinginnya sudah keluar semua. Ini bukan ancaman yang pertama, tapi kali ini nyawanya sudah begitu dekat dengan kuburan.


"Apa mau mu? Uang?" Tiff mencoba bernegosisasi seperti Juna.


"Hah, aku tidak butuh uang. Aku hanya ingin memberi pelajaran pada suami mu yang sombong itu. Karena dia, usaha ku bangkrut."


"Kamu bangkrut karena kamu tidak bisa berbisnis."

__ADS_1


"Diam. Cepat ikut." Pria itu memaksa Tiff untuk bangun dan ikut dengannya. Tiff merasakan lehernya tercekat karena pria itu sangat kuat merangkulnya.


'Tamat sudah nasib mu Tiff.' ucap Tiffany pada dirinya sendiri. Dia seharusnya tidak mengabaikan kata-kata Juna. Sekarang dia hanya bisa berharap seseorang bisa menolong dan membantunya melepaskan diri dari pria jahat ini.


__ADS_2