Pilihan CEO Tampan

Pilihan CEO Tampan
President suite


__ADS_3

Juna menghempaskan Tiffany ke sofa begitu mereka bisa masuk ke kamar suite. Dia masih mencoba menenangkan diri setelah banyak nya kejadian malam ini. Dan sampai detik ini Jo tidak dapat di hubungi.


Juna melihat wanita itu sedang kebingungan. Dia merasa pernah melihat nya, tapi...


"Kamu ojek tadi?" Juna menyadari bahwa wanita itu adalah ojek yang hampir membuatnya sakit jantung.


"Lho.. iya.." Tiff membenarkan. Dia baru sadar kalau orang yang tadi dia tolong adalah Juna. Benar-benar sebuah kesialan bertemu dengan pria aneh seperti Juna.


Tiff mencari ponselnya untuk menelepon Aeris, tapi tidak ketemu. Pasti jatuh di hall sana.


“Pak, bapak ini kenapa si?” Tanya Tiffany kesal. Gara-gara Juna ponselnya hilang. Di ponsel nya banyak sekali data penting, kalau hilang pasti akan terjadi perang dunia kelima. Bu Meri akan memarahi habis-habisan. Belum lagi soal whiskey, dan juga pekerjaannya belum selesai.


“Yang seharusnya marah itu saya. Gara-gara kamu, rencana saya gagal.”


“Lho, kok malah marahin balik? Saya ini yang paling banyak ruginya. Ponsel hilang, di marahin bos, harus ganti whiskey..” protes Tiff sambil bercak pinggang.


Juna hanya menghela nafas panjang.


“Sudah lah,, diam. Cepat sana lepas baju mu.”


“Apa???” Tiffany terkejut dan segera menutup badannya dengan kedua tangannya.


“Aduh... kamu kebanyakan nonton drama korea. Saya mau laundry baju kamu. Cepat mandi, pakai bathrobe di dalam.” Juna menarik Tiff ke kamar mandi. Dia menutup pintu dengan kesal. Bisa-bisa nya Tiffany berpikiran macam-macam, kenalpun tidak. Akhirnya Tiffany masuk ke dalam kamar mandi sesuai perintah Juna. Badannya sudah lengket dan bau alkohol, jadi mandi memang adalah solusi terbaik.

__ADS_1


Kini giliran Juna yang melepaskan pakaiannya sekaligus celana yang sobek, dan menyisakan boxernya saja.


“Jo,, kamu di mana sih?” Umpat Juna ketika telepon darinya di angkat oleh Jo.


“Masih kejebak macet pak.. ada apa? Bapak sudah mau pulang? Tunggu sebentar ya..”


“Ga perlu Jo.. malam ini saya menginap di hotel. Kamu bilang saja sama Marsha kalau saya ada urusan penting sampai besok.”


Juna merebahkan badan di sofa. Bau whiskey di bajunya membuat kepalanya sakit. Juna memang tidak bisa mengkonsumsi alkohol. Setiap kali ada urusan bisnis, Juna hanya akan meminum air putih.


Tidak lama Tiffany keluar dengan mengenakan bathrobe. Dia tidak lupa membawa pakaian kotor di tangannya.


“Jadi ini di laundry di mana?” Tanya Tiff polos.


“Terus gimana saya bisa balik ke bawah?”


Juna berdiri. Dia mengambil telepon wireless di meja dan berbicara singkat dengan resepsionist hotel untuk mengambil dan melaundry bajunya.


“Beres kan? Tunggu saja 2 jam lagi.”


Tiffany hanya mengangguk. Lebih tepatnya dia terhipnotis dengan badan Juna yang begitu menarik. Juna hanya menggunakan boxer memperlihatkan dengan jelas roti sobek di dada bidangnya.


“Ngapain liatin? Sudah sana..”

__ADS_1


“Aduh..sial bener deh ketemu cowo aneh.” Kata Tiffany sambil berlalu.


Juna hendak melemparkan bantal ke arah Tiff, tapi dia urungkan. Dia kembali duduk di sofa sambil memijit kepalanya. Hari ini begitu melalahkan. Sejak pagi Juna belum beristirahat dan juga belum makan.


Tiffany juga merasakan hal yang sama dengan Juna. Dia lapar. Dia berjalan ke pantry. Tidak ada apapun selain minuman di kulkas. Tiff mengambil satu kaleng Bir, lalu dia kembali ke tengah untuk mengambil wireless di samping Juna.


"Halo, saya mau pesan makanan yang termahal di sini, 2 porsi. Antar ke room.. " Tiffany menjauhkan teleponnya, "Room berapa ini?" tanya nya pada Juna.


"President suite." jawab Juna singkat tanpa membuka matanya.


"Ya, president suite." Tiffany melanjutkan teleponnya.


Kini Tiffany duduk di dekat Juna. Juna tampak tidak baik karena sejak tadi hanya duduk dan memejamkan mata. Tiff kembali teringat perkataan Juna yang akan mengagalkan pernikahan Megan. Dia lalu mencoba mengingat daftar tamu VIP yang kemarin dia susun. Tapi Tiffany tidak tau siapa pria ini.


"Tolong jaga mata anda." Tiba-tiba Juna membuka matanya.


Tiffany tentu terkejut karena tertangkap basah sedang menatap Juna. Seketika Tiffany menjadi salah tingkah. Dia membuka bir nya, tapi Juna menahan tangannya.


"cepat buka pintunya." perintah Juna.


Tiffany baru sadar jika ada suara bel. Pasti laundry yang mereka pesan. Tiffany mengambil baju di keranjang, dan segera membukakan pintu kamar.


Sementara itu, Juna mengambil bir yang di bawa Tiffany dan meminumnya tanpa melihat apa isinya.

__ADS_1


***


__ADS_2