Pilihan CEO Tampan

Pilihan CEO Tampan
Persiapan acara


__ADS_3

Pagi ini adalah pagi yang sibuk untuk kru EO dan sebaliknya, untuk para tamu mereka sedang asik belanja dan jalan-jalan. Tiffany sudah sibuk sejak tadi menyiapkan segala dekor. Kalau soal pekerjaan, Tiffany memang sangat cekatan dan juga terampil. Tubuhnya yang mungil membuat dia bisa lebih cepat bergerak.


"Dia ngapain si?" Bisik Tiffany yang melihat Tim berada dalam ruangan.


"Lagi kerja." Jawab Aeris polos.


"Maksudnya, kenapa dia di sini?"


"Di suruh Reno jagain gue."


"Lo udah bisa telepon Reno?"


"Belum.. cuma dia yang bilang gitu." Aeris menunjuk Tim yang sedang menatap laptopnya. Tim yang merasa diperhatikan, tersenyum ke arah mereka.


"Ya udah deh kalau ga sama Reno, sama Tim juga boleh." Aeris membalas senyuman Tim sambil menyenggol Tiffany.


"Gue bilangin Reno kalau ketemu." Omel Tiff.


Sahabatnya ini sangat mudah gagal fokus kalau sudah berhadapan dengan lawan jenis.


Aeris tidak menggubris Tiff, dia melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Tiffany diam-diam mengamati Tim. Dia terlihat begitu serius. Tiffany penasaran apa yang sebenarnya sedang di kerjakan Tim.


“Tiff, tolong antar ini ke Bu Meri.” Teman Tiff memberikan berkas untuk acara nanti malam. Tiffany mengangguk. Dia sengaja berjalan memutari restoran, sehingga dia bisa melihat Tim. Layar laptop Tim bukan menampilkan data atau dokumen, melainkan gambar. Gambar 2 anak kecil, laki-laki dan perempuan.


‘Bruk’ Tiffany menabrak kaca di depannya. Dia memegangi jidatnya yang sakit dan itu membuat Tim menengok.


Dia segera mendekati Tiffany. “Kamu kenapa?”


“Ini dipukul sama kaca.” Jawab Tiff kesal. Sudah tau dia menabrak kaca, masih tanya juga.

__ADS_1


Tim cekikian melihat Tiffany salah tingkah. Dia tau Tiffany sedang melihatnya tadi. Tapi Tim tidak mau ambil pusing.


“Nakal ya kacanya..” Ledek Tim sambil memukul pelan kaca di sebelah Tiff.


“Sudahlah,, minggir..” kata Tiff tidak sabar.


Tim membuka pintu kaca itu untuk Tiffany dengan tangan yang mempersilakan dia keluar.


Tiffany sangat malu dan berjalan cepat untuk menuju kamar Bu Meri. Pintu Lift terbuka. Tiffany melihat Megan berjalan keluar dari lift seorang diri. Megan yang merasa di perhatikan oleh Tiffany memberikan senyuman manisnya.


“Hay..” sapa Megan ramah.


Dari sisi kanan kiri depan belakang, Megan terlihat begitu menawan. Dia menggunakan dress batik selutut dan cardigan hitam. Rambutnya di kucir kuda, memperlihatkan lehernya yang putih mulus. Tiffany baru pernah bertemu dengan Megan dari dekat. Selama ini dia hanya melihatnya di televisi dan pada acara pernikahannya.


“Halo juga Ka..” balas Tiffany canggung.


“Kamu Tiffany kan?”


“Ya, saya tau kamu dari seseorang.” “Oh iya, jangan panggil ka, panggil nama saja, aku rasa kita seumuran.” Megan menepuk pundak Tiffany.


Tiffany cukup terkejut, karena di balik image nya yang jelek, karena berita hamil di luar nikah, ternyata Megan begitu ramah. Tapi tetap saja, perbuatan Megan tidak dapat dibenarkan, meskipun dia baik.


“Iya oke ka.. eh Megan.”


Megan tersenyum lagi. Percakapan Mereka terhenti karena ponsel Megan berbunyi nyaring. Dia menatap ponselnya untuk beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan untuk menerima panggilan.


“Sudah ku bilang Jun, aku baik-baik saja.” Megan memberi kode pada Tiffany untuk berpamitan. Dia lalu berjalan menyusuri koridor. Tiffany terdiam sesaat mendnegar Megan menyebutkan Jun. Apa itu Juna? Atau Junaedi? Atau Juned?' tebak Tiffany. Tapi Tiffany segera mengenyahkan pikirannya. Itu bukan urusan dia. Mau Juna selingkuh sama Megan kek, mau ada yang ngikutin dia kek, yang Tiff tau sekarang adalah bekerja.


***

__ADS_1


Hari sudah sore. Tiffany merasakan badannya pegal-pegal. Sejak tadi seluruh kru bekerja keras. Spanduk-spanduk sudah terpasang. Ruangan juga sudah di dekorasi dengan konsep natural dengan hiasan bunga-bunga hidup yang diletakan di sekitar podium.


Mereka sekarang hanya memastikan untuk menu fine dinning, sound, dan juga produk-produk Marsha yang akan di bagikan nanti.


Tiffany sudah mulai bersin. Dia masih belum bisa beradptasi dengan udara di Tokyo.


“Tiff, kamu urus kerjaan Aeris ya.. Dia sudah balik ke Indonesia.” Ucap Bu Meri yang terlihat sibuk. Dia segera berlalu dari Tiffany tanpa memberikan kesempatan untuk Tiffany bertanya.


'Aeris balik? Tadi katanya cuma mau ambil sweeter?' batin Tiffany heran.


Tiff mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Aeris, tapi ponselnya tidak aktif. Aneh sekali.. Tiff lalu menghubungi Reno, dan ponselnya juga tidak aktif.


“Tiff, tolong ke sini.” Bu Meri memanggilnya lagi. Tiff berlari menghampiri Bu Meri dan membatalkan untuk bertanya pada Tim.


“Jadi, nanti Marsha masuk dan berdiri ke tengah untuk menyapa tamu dan memberikan pembukaan. Setelah itu, lampu di matikan. Megan masuk, berdiri di tengah, dia akan mulai nyanyi, lalu nyalakan lampu tengah.. jadi seolah-olah nanti Megan memberikan suprise untuk Marsha.” Jelas Bu Meri.


“Oh,, settingan..” ucap Tiff keceplosan. Tiff segera menutup mulutnya dengan kedua tangan.


Ya, acara Marsha ini juga akan di rekam untuk youtube pribadinya. Mereka akan membuat seolah-olah Marsha tidak tau kehadiran Megan, padahal mereka kemarin terbang bersama.


“Ya,, kamu yg setting ya.. berdiri di samping sini.”


Tiffany bernafas lega karena Bu Meri tidak mengerti maksudnya.


“Ingat, hati-hati.. jangan sampai acaranya gagal.”


“Siap bu.”


“Bagus, ibu mau ke sana dulu.” Bu Meri berlalu kembali mengecek yang lain. Tiffany adalah andalan Bu Meri. Semua yang di kerjakan Tiffany pasti akan beres, kecuali saat acara pernikahan Megan kemarin.

__ADS_1


Tiffany mencoba mengecek lampu yang akan dia nyala dan matikan dengan remote. Sebenarnya ini bukan pekerjaan yang sulit, tapi Ucapan Bu Meri terkadang membuat nya tidak percaya diri.


__ADS_2