
Juna menggebrak mejanya dengan keras. Jo sampai melompat terkejut, karena bosnya jadi marah setelah menerima telepon.
"Cepat suruh Sam lacak ponsel Tiffany." teriak Juna emosi.
"Kenapa Pak Juna? Ada masalah?"
"Tiffany hilang. Sudah cepat jangan banyak tanya lagi." Juna mengambil kunci mobilnya, lalu berlari keluar. Jo otomatis harus mengikuti Juna sambil mencoba menelepon Sam.
"Sam tidak bisa dihubungi."
"Telepon Boy."
Juna keluar dari lift dan berlari seperti orang yang di kejar debt collector. Dia juga menabrak orang-orang yang menghalangi jalannya.
Jo menahan Juna ketika Juna ingin menyetir. Dia tidak akan membiarkan bos nya kembali kecelakaan. Saat seperti ini pasti Juna sangat panik dan tidak bisa berpikir jernih.
"Kita ke Central Park."
"Okey, Boy sedang mengecek CCTV nya."
Juna terlihat sangat panik. Dia bahkan tidak bisa menggunakan self beltnya sendiri. Apa yang dia takutkan terjadi juga. Pak Bagus bilang kalau Tiffany tidak ada di cafe. Dia juga baru tau kalau Tiff meminta sopirnya menunggu di parkiran.
"Jun.. Boy kirimkan rekamannya. Dia juga sedang pergi ke Central Park sekarang."
Juna melihat ponsel Jo. Dalam rekaman itu, tampak Tiffany pergi dengan seorang pria yang menggunakan topi hitam.
"Sialan!" Juna melempar ponsel Jo ke bawah.
Jo hanya dapat meratapi nasibnya karena dia tidak mungkin marah jika keadaan Juna seperti ini. Dia berharap segera sampai ke mall dan bisa menemukan Tiffany.
__ADS_1
*
*
*
Sementara itu, di tempat lain, Tiffany berada di sebuah ruangan yang cukup luas. Tidak banyak barang di ruangan itu. Yang ada hanya sebuah meja, beberapa kamera dan tripod.
Ketika sedang melihat sekitar, pintu di belakang Tiffany terbuka. Muncul seorang pria berjas dengan membawa sebuah kresek hitam.
Dia meletakan kresek itu di meja. Bau tokpokki dan jajangmyeon langsung menusuk hidung Tiffany.
"Makanlah.." pria itu memberikan sumpit pada Tiffany. Tiff segera duduk dan mulai menikmati apa yang diberikan oleh orang di depannya.
"Juna seperti tidak pernah memberi mu makan." suara itu muncul dari balik pintu.
Marsha menggeser tubuh Ken, supaya dia bisa duduk di depan Tiffany.
Ya, tadi sewaktu berjalan-jalan di mall, Marsha melihat Tiffany yang sedang jalan bersama pria asing. Karena curiga, Marsha mengikuti wanita itu, dan ternyata Tiff memang membutuhkan pertolongan. Ken segera menangkap pria itu, sehingga Tiff bisa bebas.
"Juna pasti sedang panik sekarang. Dia tidak akan bisa menemukan mu." kata Marsha senang.
Setelah membebaskan Tiffany, Marsha memutuskan untuk mengerjai Juna. Dia membawa Tiffany ke studio nya yang kosong. Dia juga mematikan ponsel Tiffany sehingga Sam tidak dapat melacaknya.
"Aku tidak bertanggung jawab jika Juna marah." Tiff menodongkan sumpitnya ke arah wajah Marsha. Tiff setuju ke sini karena desakan dari Marsha. Dia berkata jika Tiffany harus membuktikan seberapa sayang Juna padanya.
"Seharusnya dia berterima kasih. Kalau tidak ada Ken, kamu bisa jadi perkedel." ucap Marsha sinis.
"Kamu yakin dia tidak akan menemukan kita?" bisik Ken.
__ADS_1
"Sam sedang pergi. Ponsel Tiffany mati. Kita menemukan Tiffany di spot yang tidak ada CCTV. Jadi semua aman." jelas Marsha santai.
"Jadi bagaimana jadi istri Juna? Apakah menyenangkan?" Marsha kini beralih pada Tiffany. Tiffany pasti trauma karena sudah beberapa kali diikuti oleh orang-orang jahat.
Tiffany menghentikan makannya. Dia menatap Marsha sambil tersenyum. "Badannya sangat bagus. Dia juga romantis." Tiff menjelaskan sambil membayangkan kegiatannya dengan Juna pada malam hari. Sebenarnya Tiffany tau arah pertanyaan Marsha, tapi dia ingin supaya Marsha kesal.
BRAK. Marsha menggebrak meja karena emosi. Tapi di detik berikutnya, Marsha bisa mengendalikan diri dengan mengambil nafas dalam-dalam.
"Maafkan aku Mars.. aku sengaja." lanjut Tiff sambil tertawa puas.
"Kamu benar-benar... "
Ken menahan Marsha dengan memegangi pundaknya. Dia tidak ingin majikannya lepas kendali.
"Lanjutkan saja makannya." kata Marsha dengan nada yang sudah kembali tenang.
Dia sudah berjanji untuk move on dari Juna, tapi ketika mendengar Tiff, Marsha kembali emosi.
"Kamu harus gunakan bodyguard, Tiff." saran Marsha. Sekarang Tiff beruntung karena Marsha, menemukannya. Tapi kalau lain kali ini terjadi lagi, Marsha takut Tiffany akan berakhir seperti Ibu Juna. "Kamu pasti tau kan masa lalu Juna." tambahnya.
"Ya, aku tau."
"Dunia ini penuh dengan kejahatan. Apalagi dunia bisnis. Kamu harus jaga diri kalau memang ingin terus bersama Juna."
Tiffany kembali menghentikan makannya. Dia tidak menyangka jika Marsha sebenarnya gadis yang baik.
"Mars.. aku minta maaf karena kamu tidak bisa bersama Juna. Dan terimakasih karena menyelamatkan ku." ucap Tiff dengan tulus.
"You're welcome Tiff.. Beban ku sudah berpindah ke kamu sekarang."
__ADS_1
"Marsha Lee!" suara itu terdengar begitu mengerikan dan membuat semua orang di dalam ruangan itu membeku.