Pilihan CEO Tampan

Pilihan CEO Tampan
Rumah sakit


__ADS_3

Tiff berlari dan melenggang masuk ke ruangan VIP. Dia melihat Juna terbaring lemah di ranjang. Tapi,di sebelahnya ada Megan!


Tiff hendak keluar lagi, tapi Megan berdiri dan menghampirinya.


"Tunggu Tiff.."


Tiff enggan menatap Megan dan hanya melengos. Sudah pasti memang ada hubungan spesial antara Juna dan Megan. Dia bahkan tidak tau Juna sakit, tapi Megan sudah berada di sini.


Megan yang tau situasi nya tidak menyenangkan,mengajak Tiff mendekat pada Juna.


"Jun.. Aku balik dulu.. Cepat sembuh.."


Juna hanya mengangguk. Megan memeluk Juna sebelum pergi yang pasti membuat Tiff tambah kesal dan jengkel.


"Kamu pasti khawatir sama Juna." Megan menepuk pundak Tiff sebelum pergi. Tiffany hanya tersenyum kaku. Pertanyaan Megan itu lucu. Tentu saja Tiffany khawatir pada kekasihnya.


***


Sekarang hanya tinggal mereka berdua. Tiff sudah tidak ingin lagi bertanya pada Juna. Jadi dia hanya diam saja.


"Sayang.." Panggil Juna.


"Sayang mu sudah pergi.." Jawab Tiff ketus.


Juna memegang tangan Tiff. Dia menariknya hingga Tiff menabrak badannya. Saat ini Juna sudah memeluk Tiff. Dia sangat rindu pada gadis itu.

__ADS_1


"Kenapa ga bilang Jun?" Protes Tiff. Dia segera luluh karena tindakan Juna yang memeluknya.


"Juna Tipes karena makan ayam geprek dan minum es." Jo tiba-tiba masuk. Dia segera menutup matanya karena adegan romantis di antara keduanya.


"Jun.." Tiff memandang Juna yang masih pucat. Dia menyesal karena mengajak Juna untuk makan sembarangan. Juna bersandar pada ranjang sambil memegang tangan Tiffany. Sejak tadi dia tidak mengatakan apapun. Hanya menatap Tiffany dengan pandangan yang datar.


"Aku ingin pulang."


"Oke, kita siap-siap pulang." Ucap Jo senang. Sejak tidak ada Juna di kantor, kerjaan menumpuk. Jadi Jo senang ketika Juna ingin pulang.


"Tapi gimana kata dokter?" Tanya Tiff bingung.


"Tidak apa-apa.. nanti kita bawa dokter nya ke rumah."


"Maaf ya Jun.. Kamu jadi sakit gara-gara aku." Sesal Tiff.


"Kamu harus di kasih hukuman." Juna mencium pipi Tiff di depan Jo dan suster di sana.


"Ehem.." Jo terpaksa menyadarkan kebucinan mereka berdua sebelum ruangan bertambah panas. Tiff menjauh dari Juna, tapi lagi-lagi Juna menariknya. Dia melingkarkan tangan pada pundak Tiff.


"Bantu aku jalan."


"Kan ada Jo. Kamu itu berat." Protes Tiff.


Juna tampak tidak mempedulikan Tiff, dan bangkit berdiri. Tiff mau tidak mau mengikuti permintaan Juna. Jarak mereka begitu dekat sampai Tiff dapat mencium parfum Juna yang selalu dia rasakan tiap kali memeluk pria itu. Bahkan ketika sakit pun Juna sangat wangi, membuat Tiff menjadi minder.

__ADS_1


Jo mengikuti mereka dari belakang takut jika Tiff terjatuh.


"Kita balik kemana pak? Kantor atau rumah?"


"Tentu saja rumah. Aku ingin istirahat di rumah."


"Anda sungguh beruntung nona.. Karena Pak Juna tidak pernah membawa seorang pun ke rumahnya." Bisik Jo.


Tiff hanya bisa diam karena tidak yakin dengan ucapan Jo. Apakah Megan juga tidak pernah?


"By the way Tiff,, kenapa kamu masih pakai piyama?" tanya Jo sambil cekikikan.


Tiffany memandang outfitnya. Dia baru sadar kalau dia belum berganti pakaian sewaktu pergi ke rumah sakit.


"Pantes ada bau-bau asem." ejek Jo lagi.


"Jun.. kenapa diam saja?" rengek Tiff. Dia tidak dapat membalas Jo karena dia sedang kerepotan membawa Juna.


"Karena Jo benar. Kamu belum mandi?" jawab Juna dengan nada ragu-ragu.


"Junaaaaaaaaa" Tiff sangat malu dan kesal. Dia memang belum mandi karena dia sejak tadi berada di rumah.


Juna hanya tersenyum kecil. Dia mengacak-acak rambut Tiffany yang saat ini menunjukan wajah cemberut. "Tapi aku tetap suka." hiburnya.


"Mulai.. mulai..." Jo merasa miris menatap kemesraan mereka. Sepertinya dia harus mencari kekasih juga.

__ADS_1


__ADS_2