Pilihan CEO Tampan

Pilihan CEO Tampan
Menolak berteman


__ADS_3

Seorang dokter muda masuk ke dalam ruangan, di mana Juna dan Jo sedang menunggu. Dia lebih mirip di bilang model daripada dokter. Ericka tersenyum pada Juna.


“Lama tidak berjumpa Juna Liem. Apa kabar?”


“Seperti yang terlihat..” jawab Juna malas. “Mana Dr.Andre?”


“Papa sedang di rumah. Dia minta aku yang ke sini.”


“Oh..”


Ericka beralih kepada Tiffany yang sedang tertidur. Dia lalu mengecek data yang telah di tinggalkan oleh dokter sebelumnya.


“Kadar gulanya turun dan asam lambung naik.” jelas Ericka.


“Jo keluar sebentar.”


Juna memerintahkan Jo untuk keluar. Dia ingin berbicara berdua dengan Ericka. Ericka pun tau maksud Juna. Dia punya banyak pertanyaan pada Juna.


“Dia siapa?” Tanya Ericka begitu Jo keluar.


Juna menceritakan kejadian bersama Tiffany, sejak mereka bertemu sampai kemarin ada orang yang memotong rem motornya.


"Jadi siapa pelakunya?" Tanya Ericka penasaran.


"Mungkin saingan perusahaan."


"Oh come on Jun.. Semua org tau, pacar kamu Marsha. Kenapa dia mengincar....Tiffany?" Ericka membaca kembali map di depannya. Tiffany Marshellia. Ericka ingat Tiffany adalah karyawan E0 juga, teman Aeris.


Juna mengangkat bahunya. Sedangkan Ericka punya pemikiran lain. Tidak mungkin saingan bisnis Juna, dia menuduh Marsha pelakunya. Tapi karena tidak ingin menambah beban Juna, Ericka hanya diam.


"Gimana Megan?"


"Aman."


Juna dan Ericka saling terdiam dalam pikiran masing-masing. Sejak kecil, Juna memang tidak pernah terbuka dengan yang lain, tapi dia selalu bercerita pada Ericka tentang setiap masalahnya. Padahal ada Reno dan Sam, tapi Juna memilih cerita ke Ericka.


"Inget, jangan sampe orang lain tau. Atau akibatnya seperti dia." Juna menengok ke Tiffany.


"Hmm.. Terus bagaimana dengan dia?"

__ADS_1


"Entahlah.." Juna duduk di samping ranjang, meneliti wajah Tiffany yang sangat pucat. Entah kenapa Juna merasa bersalah pada Tiffany.


"Jadikan sekretaris mu saja.. Biarkan Jo jadi sopir dan bodyguard."


"Aku ga akan cari sekretaris wanita." Juna menolak mentah-mentah saran Ericka.


"Ya sudah kamu pikir saja sendiri. Aku kembali ke ruangan dulu."


Ericka menepuk pundak Juna. Dia sudah lelah untuk hanya sekedar memberi saran pada Juna. Ya, hidup nya benar-benar jadi rumit karena keluarga Sebastian dan Liem. Reno Sebastian, Samuel Sebastian dan Juna Liem. Kalau mereka bikin trio, namanya adalah trio complicated. Masing-masing memiliki karakter yang unik dan tidak bisa di mengerti oleh setiap orang.


'Circle orang kaya memang tampak mengerikan.' Batin Ericka.


"Er.. tolong sampaikan pada Jo, jangan ada yang masuk dulu. Aku ingin bicara berdua Tiff."


"Ya.. tentu saja Tuan muda yang tampan."


Ericka keluar dari ruangan VIP. Di depan ada Jo yang sedang asik main game.


"Harusnya memang dia ganti sekretaris." Ucap nya lirih.


"Tidak akan bisa nona dokter yang cantik."


"Wah, anda benar-benar.. itu tadi hampir menang."Jo berdiri sambil bercak pinggang.


Ericka menyembunyikan ponsel Jo di belakang badannya.


"Jaga Juna dengan benar. Dia butuh bantuan kamu Jo." ucap Ericka serius.


"Dokter, coba mundur sedikit.."


"Kenapa?" Ericka mundur beberapa langkah karena wajah Jo juga tampak serius.


"Cantiknya kelewatan." Jo tertawa senang karena Ericka jadi salah tingkah. Dia lalu dengan mudah dapat mengambil ponselnya dari dokter yang memang cantik itu.


"Ericka?"


Reno melihat Ericka yang sedang berdiri di pintu tertawa bersama sekretaris Juna. Ericka tersadar ketika Reno memanggilnya. Dia tersenyum pada sosok yang selalu menawan itu. Di samping Reno, Aeris hanya melihat interaksi mereka yang saling memandang.


“Ehem..” Aeris sengaja berdehem. “Tiffany ada di dalam?”

__ADS_1


"Tunggu sebentar.. Juna bilang kalian jangan masuk dulu." Jo mencegah temen Bos nya untuk masuk ke dalam.


***


Sementara itu, Juna masih terdiam di samping ranjang. Dia tidak habis pikir, kenapa Tiffany menolak uang yang di berikannya dan bahkan sampai menemui Juna dalam keadaan sakit.


Tiffany mulai membuka matanya. Dia menatap langit-langit mencoba mengingat apa yang terjadi. Dia lalu menengok ke samping. Ada Juna yang sedang menatapnya.


"Kamu pingsan." Jelas Juna sebelum Tiff bertanya.


Tiff kembali menatap langit-langit karena tidak ingin melihat Juna. Sebenarnya tadi dia mendengar percakapan Juna dan Ericka. Dari yang Tiff dengar, sebaiknya Tiffany memang menghindari Juna.


"Mana nomer rekeningnya?"


"Tiff, kamu butuh uang itu."


"Aku mohon Jun.."


Juna mengeluarkan ponselnya, lalu mengirimkan nomer rekeningnya ke Tiffany melalui pesan WA.


"Itu nomer aku..kamu bisa.."


"Makasi.. Besok setelah sehat aku kembalikan semua." Potong Tiff.


"Tiff..” panggil Juna. Dia tidak ingin Tiff mengembalikan uangnya. Baginya, uang 1 M bukan masalah besar.


“Lebih baik kita ga bertemu lagi.” Ucap Tiff lemah. Sejak pertama kenal dengan Juna, Tiff jadi tidak tenang. Dan dia harus sadar, mereka adalah orang berpengaruh. Kalau sampai Tiff terseret, hidupnya tidak akan sama lagi.


“Memang pertemuan kita sejak awal tidak begitu baik, tapi, gimana kalau kita mulai berteman sejak sekarang?” Tawar Juna.


“No..” “Saya punya adik 3, dan mereka masih butuh bantuan. Kalau berteman sama bapak bisa mengancam nyawa saya, saya ga bisa.”


Juna terdiam. Entah kenapa kata-kata Tiffany menusuk hatinya. Dia memang tidak akan memohon pada seseorang untuk berteman dengannya, apalagi orang seperti Tiffany yang notabene tidak akan menguntungkan dirinya. Tapi, Juna merasa sedih sekarang.


“Kalau begitu aku pergi.” Juna melangkahkan kakinya keluar dari ruangan vip itu. Jo yang melihat Juna hanya berjalan tanpa memanggilnya tentu saja terkejut. Juna bahkan tidak berhenti ketika dia memanggilnya.


Sial sekali Jo hari ini, karena Juna selalu memaksanya untuk berlari.


Ericka hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah duo J itu.

__ADS_1


"Silakan kalian masuk saja.. Pasti Tiffany sudah sadar." ucap Ericka pada Aeris dan Reno.


__ADS_2