Pilihan CEO Tampan

Pilihan CEO Tampan
Pergi dengan Tim


__ADS_3

Hening. Itu satu kata yang cocok menggambarkan keadaan Jo setiap hari. Juna begitu diam dan serius jika sudah bekerja. Ekspresinya selalu sama. Jo heran, Juna sudah sebulan pacaran dengan Tiffany, tapi dia jarang sekali mengecek ponselnya. Biasanya orang yang jatuh cinta akan sering senyum-senyum sendiri ataupun sering menatap ponselnya. Tapi Juna sekarang bersikap biasa saja. Apakah bucin nya sudah memudar? Atau kisah Juna-Marsha akan terulang lagi?


Ponsel Juna berdering memecah keheningan. Juna tidak mnggubris atau bahkan menengok ponselnya, dan tetap sibuk dengan laptopnya. Kalau sudah seperti ini, Jo yang harus mengangkat telepon Juna.


“Pak,, ini pacar bapak.” Kata Jo sebelum mengangkat teleponnya.


“Pacar?” Tanya Juna bingung. “Oh iya,,” Juna merebut ponsel yang di pegang Jo.


Jo hanya geleng-geleng kepala karena sikap Bos nya. Pacar aja bisa lupa. Untung nama sendiri ga lupa. Batin Jo sedih.


“Halo Tiff,, kenapa?” Jawab Juna santai.


“Jun, hari ini aku ada kerjaan di luar kota sama Tim. Mungkin besok baru balik. Gak apa-apa kan?”


“Iya,, pergi saja..”


“Makasi ya..” Tiffany memutuskan sambungan teleponnya.


Jo menghitung waktu percakapan mereka. Hanya 15 detik.


“Nona Tiff bilang apa pak?” Tanya Jo penasaran.


“Dia bilang ada kerjaan dengan Tim dan harus pergi keluar kota.”


“Terus bapak Ijinkan?”


Juna mengangguk. Dia sudah sibuk kembali dengan kerjaannya.

__ADS_1


“Wah, berdua saja? Bapak memang luar biasa. Kenapa bapak ga cemburu?”


“Siapa bilang berdua?” Juna melirik ke arah Jo.


“Kamu pergi juga. Ikuti mereka. Bawa saja berapa orang pengawal yang kamu mau. Pastikan mereka tidak satu kamar.”


“Astagaaaa..” teriak Jo yang shock dengan keputusan sepihak Juna.


“Aku banyak kerjaan Jo. Cepat sana."


Jo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia bukannya tidak senang dengan perintah yang diberikan Juna, tapi bos nya ini aneh. Kalau sudah stress dan banyak kerjaan, dia tidak akan memikirkan apapun. Pantas saja Marsha sering ke kantor.


"Tunggu apalagi?" Juna menatap Jo yang tidak pergi juga.


"Kamu ga cemburu Tiffany pergi sama pria lain?" ulang Jo.


"Dulu aja di kejar-kejar.. Sekarang udah dapet malah di cuekin." Ucap Jo lirih.


"Jo jangan bicara lagi. Cepat pergi." Usir Juna tidak sabar.


Jo segera keluar sebelum Juna melempar sepatu nya. Juna menyandarkan tubuh di kursi kerjanya. Dia sudah pasti khawatir dengan Tiffany, tapi dia tidak bisa bersikap seperti aktor korea yang selalu siap melakukan apapun demi kekasihnya. Ada tanggung jawab di kantor juga yang harus dia selesaikan. Dan selama sebulan ini, dia sudah menyuruh orang mengamati Tim dan Tiffany. Tiffany terbukti menjaga jarak dengan Tim.


Tim pun lebih hati-hati ketika melakukan tugasnya bersama Tiffany.


***


Bandara

__ADS_1


Tim dan Tiffany menggunakan pesawat untuk pergi ke Jogja. Mereka datang 1 jam lebih awal sebelum pemberangkatan. Saat ini Tiff sedang menunggu Timothy yang sedang membeli kopi.


'Bruk' seseorang menyenggol Tiffany sampai tas gendongnya jatuh.


"Maaf." ucap orang yang menabrak Tiffany.


"Marsha?" Tiffany spontan menyebutkan nama wanita yang menabraknya tidak sengaja.


"Wah, luar biasa." pekik Marsha. Dia baru saja kembali dari america untuk healing dan liburan setelah putus dari Juna. Dan ketika berada di bandara dia malah bertemu dengan Tiffany, orang yang merusak hubungannya dengan Juna.


"Jadi, apa kamu berhasil mendapatkan Juna?" tanya Marsha to the point.


"Maksudnya?"


"Ya, kamu pasti tau ada sesuatu yang spesial dengan Juna dan Megan. Jadi, aku penasaran, siapa yang Juna pilih, kamu atau Megan?" Marsha kini melepaskan kacamata hitamnya.


Mulut Tiffany terasa berat untuk menjawab pertanyaan Marsha karena sampai sekarang pun dia tidak tau hubungan Juna dengan Megan. Juna akhir-akhir ini bahkan jarang menemuinya. Jangankan bertemu, menelepon saja tidak. Tiffany yang harus menelepon Juna ketika dia akan melakukan pekerjaan bersama Tim, seperti saat ini.


"Hai Sha.. lama tidak bertemu.. kamu semakin cantik." Tim yang baru saja membeli kopi, menemui kedua gadis yang sedang diam itu.


"Wah, ternyata kamu pergi dengan Timothy. Nyalimu sungguh luar biasa.." ucap Marsha pada Tiffany. "Hai Tim.." Sapa Marsha kemudian.


"Nona, kita pergi sekarang.." Ken menyela percakapan mereka. Dia tidak ingin majikannya akan mengatakan sesuatu yang memancing keributan.


"Oke,, sampai jumpa lagi Tiffany. Ingat, Hati-hati jika berhubungan dengan mahkluk seperti dia dan Juna." ingat Marsha. Dia menggunakan kembali kacamata hitamnya, lalu berjalan meninggalkan mereka.


"Sudah tidak perlu di pikirkan.. kita berangkat saja." Tim menarik lengan Tiffany yang masih menatap kepergian Marsha.

__ADS_1


__ADS_2