
Jam menunjukan pukul 7 malam. Juna masih sibuk berkutat dengan berkas-berkas di mejanya. Sedangkan Jo, dia pergi keluar untuk cari makan. Ini bukan pertama kalinya mereka lembur. Rekor tercepat Jo pulang adalah jam 9 malam. Juna memang orang yang sangat tekun dalam bekerja. Dia bahkan menghabiskan 16 jam dari 24 jam hidupnya hanya untuk mengurus pekerjaan. Dia hanya libur beberapa hari dalam sebulan itupun untuk menemani Marsha. Orang-orang di sekitar Juna sudah tau kebiasaan Juna ini dan mereka tidak akan protes ataupun menasehati Juna.
‘Tok,,tok,,’ Juna mendengar suara ketukan. Dia heran, Jo baru saja pergi, kenapa cepat sekali balik ke kantor. Dan kenapa Jo mengetuk pintu padahal dia tau pin ruangannya. Juna membuka kunci otomatisnya melalui remote di sampingnya.
“Selamat malam Tuan Juna yang terhormat.”
Juna menengok mendengar suara wanita. Dia kaget melihat Tiffany sudah berdiri di depannya.
“Kamu kenapa ke sini?” Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Juna.
“Saya mau minta penjelasan.” Ucap Tiffany kesal.
“Duduklah.”
Tiffany tidak mendengarkan Juna. Dia tetap berdiri dengan kedua tangannya memegang meja.
“Saya tidak tau anda siapa. Saya juga tidak mau berurusan dengan anda. Tapi kenapa anda malah bertingkah aneh. Bahkan kasih saya uang 1 M.”
“Sorry..” Juna meletakan segala berkasnya, lalu mendekati Tiffany. Tiffany memutarkan tubuhnya, waspada terhadap Juna. Dia takut Juna tiba-tiba memeluknya seperti yang lalu hingga menimbulkan salah paham.
“Pertama, saya bayar hutang karena kamu sudah antar saya ke pesta Megan. Kedua, saya bayar hutang kaos spongebob yang kamu belikan, dan ketiga ucapan terimakasih karena berkat kamu masalah saya selesai.” Jelas Juna dengan bahasa yang sesederhana mungkin. Dia tidak mungkin bilang kalau itu hanya kamuflase untuk menghindari Marsha menyelidiki Megan. Wanita di depannya akan bingung. Sekarangpun dia sedang bingung dan berpikir.
__ADS_1
“Saya akan kembalikan uang anda.” Ucap Tiff kemudian. “Saya minta nomer rekening.”
"Aku tidak menerima uang kembali."
Juna duduk di ujung meja sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Tolong kerjasamanya pak Juna." pinta Tiffany dengan tidak sabar. Kepala Tiff sudah berputar dan kaki nya sudah tidak bisa menopang badannya.
"Tiffany." Juna berdiri begitu Tiffany jatuh pingsan di depannya. Dia berjongkok di depan Tiffany sambil mengguncangkan badannya.
Pintu terbuka. Jo yang baru saja kembali membawa bungkusan nasi padang begitu kaget melihat bosnya bersama seorang wanita di dalam ruangan. Terlebih lagi Tiffany tergeletak di lantai tak sadarkan diri.
"Pak, ini siapa? Bapak apain dia?" Tanya Jo panik.
Jo menatap wanita yang masih di pegang oleh Juna itu. Wajahnya manis dan imut. Jo tidak akan menolak Jika di suruh menggendongnya bahkan sampai rumah sakit. Tapi dia ragu, karena Juna tampak tidak melepaskan wanita itu.
"Ini saya yang bawa pak?" tanya Juna sekali lagi.
"Iya sudah.."
"Oke Pak, dengan senang hati.."
__ADS_1
Jo menggulung lengan kemejanya.
Tapi di detik berikutnya, Juna malah menggendong Tiffany ala bridal. Badan Tiff sangat dingin dan Juna dapat merasakan tubuh Tiff basah karena keringat. "Cepat siapkan mobil saja." kata Juna panik.
"Dari tadi kek.. kan saya jadi ga menaruh harapan." Omel Jo dengan sura lirih.
"Ehem." Juna memberi kode pada Jo untuk menekan tombol lift.
Tanpa dikomado Juna lagi, Jo menelepon Dr.Andre di rumah sakit Husada. Dia juga menelepon satpam di bawah untuk membawa mobil Juna ke depan.
Mobil Rolls royce Juna sudah siap begitu pintu lift terbuka. Jo berlari lebih dulu untuk membuka kan pintu. Juna menaruh Tiffany di pangkuannya.
Sesekali Jo melirik ke belakang untuk melihat Juna. Baru kali ini Juna terlihat panik. Dia bahkan mengelap keringat Tiffany dengan menggunakan tisu.
"Biasa nya kalau pingsan perlu di kasih nafas buatan pak." kata Jo di tengah keheningan.
"Jo, badannya dingin sekali."
Jo mematikan AC mobil. "Coba peluk saja Jun." saran Jo sekaligus mengerjai bos nya.
Juna mendekatkan Tubuh Tiffany pada badannya. Tangannya mengusap punggung Tiffany seperti orang tua yang me nina Bobo kan anaknya.
__ADS_1
'Ngapain dia ke kantor. Dasar anak bodoh.' batin Juna.