
Tiffany masuk ke dalam ruangan dengan wajah kusut. Dia duduk dengan kesal di samping Aeris.
"Kenapa lo? Tumben dateng-dateng cemberut. Biasanya nyanyi-nyanyi." tanya Aeris ketika temannya baru saja muncul.
"Biasalah.. urusan sekolah.. iuran ini itu.."
Ya, sejak ayahnya kabur dan ibu nya, meninggal, Tiffany yang menggantikan posisi orang tua untuk adik-adiknya. Dia sudah terbiasa dengan rengekan adik-adiknya yang meminta keperluan sekolah atau membayar biaya. Tapi kali ini Tiff benar-benar tidak punya uang. Bu Meri tidak memberinya bonus pada acara kemarin karena Tiff menghilang dan membuat kacau acara.
Tiffany membuka mobile banking nya untuk melihat saldo yang tersisa.
"Ris.. kok aneh ya.. ini apaan sih?" Tiffany memberikan ponsel nya pada Aeris.
"Whaaaaat! Lo ngerampok bank ya?" tuduh Aeris yang masih sibuk menghitung angka 0 di ponsel Tiffany. Total nya 1 milyar.
Untung saja pegawai yang lain belum datang.
"Coba lo telepon bank." saran Aeris.
Tiffany menurut. Tangannya gemetaran karena dia bingung kenapa saldo nya ada uang begitu banyak.
'Tok.. tok..' seseorang mengetuk pintu. Tampak seorang tukang ojek membawa sebuah buket bunga super besar di tangannya.
"Nona Tiffany?"
"Ya?" Tiffany menutup sambungan telepon dan berdiri menemui abang gojek yang mencarinya.
__ADS_1
"Ini untuk anda." abang Gojek menyerahkan bunga itu pada Tiffany.
"Dari siapa pak?"
"Dari kekasih yang mencintaimu." kata abang gojek itu sambil menahan tawanya.
"Tiff, lo punya pacar?" teriak Aeris heboh.
Tiffany benar-benar bingung. Dia menyuruh gojek itu pergi lalu meletakan buket bunganya di meja.
Sekarang tinggal dia dan Aeris.
"Beneran Ris.. gue ga tau." katanya dengan wajah pucat. Dia akan senang jika orang itu punya identitas yang jelas, tapi ini...
"Terus siapa dong? Gak mungkin doraemon kan?" Aeris ikut bingung memikirkan siapa fans dari sohibnya.
***
"Sudah Jun, eh pak. Sudah beres.." jawab Jo sambil cekikikan.
Juna menatap Jo curiga. Juna hanya menyuruh Jo untuk mengirimkan sesuatu pada Tiffany. Dia hanya bilang jangan menyebutkan nama.
"Kamu kirim apa?"
"Emm.. itu.. anu.. bunga pak." Jo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia takut jika Juna komplain. Juna tidak akan pernah menjelaskan sesuatu dengan detail jika itu tidak berhubungan dengan pekerjaan. Jo bahkan tidak tau siapa Tiffany dan ada hubungan apa Juna dengan Tiffany. Dia hanya memerintahkan Jo untuk memberikan sesuatu yang disukai wanita tanpa menyebutkan nama pengirimnya.
__ADS_1
"Oke bagus." Juna melanjutkan pekerjaannya lagi.
Kini giliran Jo yang menatap Juna dengan curiga. Juna semakin aneh saja setelah datang ke pesta pernikahan Megan. Kemarin dia menginap bersama tukang ojek, sekarang dia mencari pegawai EO yang bernama Tiffany.
"Anda tidak ingin bertemu dengan Dr. Ericka?" Saran Jo. Ericka adalah teman Juna sekaligus dokter psikiatri. Mungkin Juna butuh pengobatan.
"Lanjutkan kerjaan mu Jo." usir Juna.
Jo menurut. Dia keluar dan tidak banyak bertanya lagi. Yang penting Juna tidak marah dengan tindakannya.
Sementara itu Juna kembali melihat ponselnya. Uang, hadiah, dan juga Juna sudah mengisi ponselnya dengan foto-foto Tiffany. Semua ini Juna lakukan karena dia tau ada seseorang yang mengikuti dan memata-matai dia.
***
Tiffany menutup teleponnya setelah mendapatkan informasi dari pihak bank. Mereka bilang kalau uang itu di transfer oleh Juna Liem.
Ya, akhir-akhir ini nama Juna Liem begitu mengganggu otaknya. Tindakan Juna selalu tidak pernah terbaca. Tiffany curiga kalau yang mengirimkan bunga itu adalah Juna.
'Apa gue datengin aja kantornya ya?' batin Tiff.
"Tiff, ngelamun aja sih." Aeris datang menyadarkan lamunan Tiffany.
"Beb, lo kenal Juna?" tanya Tiffany sambil membenarkan posisi duduknya supaya menghadap Aeris.
"Ya, dia temen Reno. Cuma gue ga pernah ngomong si.. Orangnya kurang ramah." "Kenapa lo tiba-tiba tanya Juna?"
__ADS_1
"Tiff, bisa ke ruangan saya sebentar?" tiba-tiba Bu Meri muncul dan menghentikan percakapan mereka.
"Ntar kita sambung lagi.. gue cabut dulu.." pamit Tiff. Dia buru-buru mengikuti Bu Meri, meninggalkan Aeris yang masih penasaran dengan cerita Tiffany.