
Marsha memutuskan untuk menyelidiki siapa musuh Juna. Orang yang Marsha tangkap kemarin sudah memberitahu bahwa dia bekerja di sebuah perusahaan asing, Montz. Dengan otak cerdiknya, Marsha memutuskan untuk menyewa hacker untuk meretas data mereka dan mengumpulkan bukti.
Marsha sudah sampai di sebuah cafe yang tampak ramai. Seperti biasa, dia tampil begitu cantik dengan gaya ala artis kpop. Ken membukakan pintu untuk majikannya.
"Mana dia Ken?"
Mata Ken menjelajahi seluruh sudut cafe. Pandangan matanya terhenti pada seorang pria dengan rambut hijau abu yang sedang duduk bersama dengan seorang wanita.
"Itu dia."
Marsha menengok mengikuti jari tangan Ken. Dia sampai melepas kacamata hiasnya untuk memastikan jika dia tidak salah lihat. Pria keturunan Korea itu begitu nyentrik dan norak.
"Kamu ga salah orang kan Ken?" Marsha meyakinkan dirinya lagi.
"Dia yang terbaik di bidangnya, nona. Saya dapat informasi dari Dr.Sam." jelas Ken.
"Siapa namanya?"
"Boy."
Marsha berjalan mendekati meja Boy yang sedang duduk bersama dengan seorang wanita. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi sepertinya Marsha datang di waktu yang tidak tepat.
"Halo, Mr.Boy.." sapa Marsha yang sudah berdiri di samping Boy.
"Oh, Hai my sweetie.." Boy beranjak berdiri, lalu dia memeluk Marsha dengan senang. Marsha bingung. Dia mendongak ke atas dan pandangan mata mereka bertemu beberapa saat.
Tindakan Boy membuat wanita yang bersamanya tentu saja geram dan ikut berdiri.
"Lepas." wanita berambut sebahu itu melepaskan Marsha dari pelukan Boy dengan kasar.
__ADS_1
Ken sampai turun tangan dengan memegang pergelangan tangan wanita itu.
"Emily, jangan kasar pada pacarku." Boy kembali menarik Marsha, lalu merangkulnya.
"Boy, kamu ga bisa seperti ini..kamu tau kan aku ga bisa hidup tanpa kamu, Boy.." rengek wanita bernama Emily itu.
"Sudahlah, jangan buat pacar ku ini marah." Boy mengusap pipi Marsha dengan punggung tangannya.
"Nona, saya akan bantu anda secara sukarela jika anda berakting sebentar saja." bisik Boy.
Ken sudah mengepalkan tangannya untuk meninju Boy yang kurang ajar pada Marsha. Tapi, Marsha tampak setuju dengan negosiasi Boy. Dia memberikan kode supaya Ken tetap diam.
"Sweetie.. kenapa dia masih di sini?" ucap Marsha dengan gaya manjanya.
Ken bergidik ngeri melihat akting Marsha.
"Kamu yang pergi, dasar murahan." Emily mengambil orange juice di meja, lalu menyiramkannya pada Marsha.
"Ken, seret dia keluar. Belikan kaca yang besar supaya dia sadar diri."
Ken betul-betul menyeret wanita itu keluar.
Boy bisa bernafas lega. Saking senangnya, tanpa sadar dia memeluk Marsha yang masih shock karena perbuatan Emily.
"Terima kasih nona cantik yang baik hati, tidak sombong dan rajin menabung." puji Boy yang tidak lupa mengacak-acak rambut Marsha layaknya anak kecil. "Akhirnya aku bisa lepas dari Emily."
Marsha sudah kehabisan kata-kata. Dia menginjak kaki Boy dengan keras sampai Boy berteriak kesakitan.
"Kenapa di injak?" protes Boy.
__ADS_1
"Ooo.. harusnya bukan di injak ya, tapi di cincang." tegas Marsha.
Dia duduk di depan Boy sambil menyilangkan kedua tangannya.Jika bukan demi Juna, Marsha sudah pasti akan segera pergi dari pria aneh di depannya.
"Maaf nona..." Boy mencoba mengingat nama yang tadi di beritahukan Sam lewat telepon. "Ah, Marsha and the bear." Boy segera ingat ketika melihat Ken masuk dan berdiri di belakang Marsha. Dia bahkan tertawa karena dua orang di depannya betul-betul mirip Marsha and the bear.
"Ken, apa kamu tidak bisa cari orang yang waras?" tanya Marsha sambil menahan emosinya.
"Kita pergi saja dan cari yang lain." Ken menyetujui pemikiran Marsha.
"Tunggu.. baiklah.. aku hanya bercanda dan aku minta maaf." Boy menghentikan tawanya dan mencoba memasang wajah serius.
Dia membuka tablet nya, lalu menunjukan data yang Marsha butuhkan. Sebelum Marsha datang, Boy sudah mengerjakan tugasnya, jadi sekarang Boy hanya perlu memberikan hasilnya.
"Mereka perusahaan ilegal. Mereka tidak suka pada Juna karena Juna tidak mau bekerja sama lagi dengan Montz. Juna pasti tau kalau mereka menjalani bisnis kotor." jelas Boy yang sudah kembali ke jalannya alias sudah fokus pada pekerjaannya.
Marsha tersenyum senang melihat bukti yang diberikan Boy. Ini semua pasti bisa membantunya untuk melaporkan mereka pada polisi.
Ya, Juna memang kejam, tapi Marsha paham jika mantannya tidak suka bisnis kotor. Itu yang menyebabkan Juna memiliki banyak musuh. Juna tidak mau di suap ataupun bekerja sama dengan orang yang tidak jujur.
"Anda cantik sekali jika tersenyum nona Marsha and the Bear."
Ponsel Marsha berdering membuat percakapan mereka terputus. Jo calling...
"Sha, Juna sudah sadar." kata Jo begitu Marsha mengangkat teleponnya.
"Ken, Juna sudah sadar." pekik Marsha senang.
Marsha mengambil tasnya dan buru-buru pergi dari cafe tanpa berpamitan pada Boy.
__ADS_1
"Sha... tab nya.." Boy hanya bisa pasrah karena tabletnya di bawa pergi oleh Marsha.