Pilihan CEO Tampan

Pilihan CEO Tampan
Rumah sakit


__ADS_3

Aeris langsung berlari menuju Tiffany yang sudah sadar dan sedang melamun. Dia memeluk Tiff erat.


“Lo gak apa-apa kan Tiff?” Aeris begitu terkejut saat Reno mendapatkan telepon dari Jo soal keadaan Tiffany. Dia tidak menyangka wanita se strong Tiffany bisa di infus juga.


“Gue bisa mati kalau lo ga lepasin.” Protes Tiffany yang hanya bisa pasrah ketika Aeris memeluknya dengan sekuat tenaga.


“Dunia ini sempit sekali.” Kata Ericka di sela percakapan Tiff dan Aeris. Dia masih berada di sana untuk melihat keadaan Tiffany.


Aeris yang sudah melepaskan pelukannya segera menyingkir karena Ericka ingin mengecek kondisi Tiffany.


"Kamu istirahat saja dulu 3 hari.. Juna sudah bayar semua tagihannya." pesan Ericka pada Tiffany.


“Kenapa kamu bicara seperti itu?” Tanya Reno masih penasaran dengan perkataan Ericka.


“Kamu bisa bertemu dengan Aeris. Dan temannya bertemu dengan Juna. Nanti Sam bertemu dengan siapa?”


“Juna? Maksudnya pacar IBu Marsha?” Tanya Aeris bingung.


“Lo ada hubungan apa sama Juna?” Kini Aeris balik bertanya pada Tiffany.


Tiffany hanya meringis. Dia selama ini tidak pernah bercerita pada Aeris tentang kejadian malam itu di pesta Megan.


Aeris meminta penjelasan kepada Tiffany. Dia tidak bisa membiarkan sohibnya menyimpan rahasia darinya. Reno pun tampak penasaran karena mendengar nama Juna. Belum lama ini, Juna pernah bertanya padanya tentang Tiffany.


“Haduh,, kenapa juga aku ke sini.”


Ericka mulai mengeluh karena terjebak diantara kisah dua sahabatnya dengan wanita-wanita aneh itu. Ericka yang merasa sudah tidak dibutuhkan lalu keluar dari ruangan.


"Cepet cerita.." pinta Aeris tidak sabar karena ingin mendengar cerita tentang Juna.


"Tunggu dulu, jangan bilang kejadian kemarin itu berhubungan dengan Juna?" tebak Reno. Dia masih menunggu Tim untuk menyelidiki kasus ini.


Tiffany mengangguk lemah. Dia terpaksa menceritakan semua hal tentang Juna tanpa sedikitpun menceritakan atau membahas mengenai Megan.


Kini Aeris malah tertawa senang. Dia bahkan tidak percaya bahwa Tiffany malam itu bersama Juna di kamar hotel. Dia juga senang karena yang mengirimkan uang pada Tiffany adalah Juna.


"Aeris.. Juna sudah punya pacar." Ingat Reno.


"Biarin aja lah Ren.. sebelum janur kuning melengkung, masih sah dong." bela Aeris.


Tiffany hanya mendengar perdebatan mereka berdua sambil sesekali tersenyum kecil. Dia mengingat perkataan nya pada Juna beberapa menit yang lalu. Wajah Juna tampak sangat sedih. Seandainya waktu bisa di ulang, Tiffany akan meminta maaf pada Juna.

__ADS_1


"Juna memang sedikit kaku, tapi dia baik. Dia seperti itu hanya karena kesepian saja." jelas Reno pada Tiffany. Ucapan Reno itu tentu membuat Tiffany semakin merasa bersalah pada Juna.


Tapi semua sudah terjadi. Tiffany akan tetap mengembalikan uang milik Juna.


***


‘BRUK’ Ericka menabrak seseorang di koridor. Dia terjatuh, tapi orang itu segera menolongnya.


“Sorry, aku buru-buru.” Pria yang menggunakan Topi itu membungkuk pada Ericka, lalu pergi begitu saja.


"Tunggu.." panggil Ericka.


Pria itu berhenti, dan kembali mendekat. "Ada apa dokter?" tanya pria itu dengan bingung. Dia melihat bet nama di jas praktek milik Ericka. Dr. Ericka Anderson, Sp.Kj. Nama yang tidak asing.


"Dompet kamu jatuh.." Ericka menunjuk ke lantai di mana sebuah dompet hitam tergeletak dengan posisi terbuka. Ericka dapat melihat sebuah foto wanita di sana.


Tim segera mengambil dompetnya yang terbuka. Dia sangat ceroboh sampai membiarkan orang lain melihat isi dompetnya.


"Terima kasih.."


"Anda mau ke mana? Kenapa terburu-buru?"


"Anda kenal Tiffany?"' Ericka cukup terkejut karena Tim ingin pergi ke ruangan di mana Tiffany dirawat.


"Saya janjian dengan teman saya di sana."


"Reno?" tanya Ericka lagi.


"Anda kenal Reno? Saya Timothy, Asisten Reno." Tim memperkenalkan diri pada Ericka.


Ericka menjawab tangan Tim sambil tersenyum.


'asisten Reno? Sejak kapan Reno memiliki asisten?' batin Ericka heran.


"Ericka, senang berkenalan dengan Anda."


"Okey, saya, harus kembali ke ruangan saya."


Ericka harus segera mengakhiri percakapannya dengan Tim karena sudah ada pasien yang menunggunya. Nanti dia akan bertanya soal Tim pada Reno.


***

__ADS_1


Sementara itu, Tim berlari menuju ruangan yang sudah diberitahukan Reno. Dia masuk ke dalam tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu.


“Ke mana saja kamu?” Omel Reno pada Tim.


“Macet tadi.”


Aeris memandang Tim dari bawah ke atas. Pria itu tinggi dan mempunyai badan yang bagus. Dia juga berhidung mancung, tapi wajahnya tidak terlalu terlihat karena tertutup topi.


“Kenalkan, ini Timothy.. asisten aku.” Reno memperkenalkan Tim pada Aeris dan Tiffany.


Tiffany segera mengenali wajah Tim meskipun dia menggunakan topi. Dia menarik lengan Aeris sehingga Aeris menurunkan tubuhnya supaya dapat mendengarkan Tiffany.


“Lo inget ga, gue pernah bilang habis makan sama karyawan baru. Itu orangnya. Kok bisa jadi asisten Reno?” Bisik Tiff.


“Kebetulan Saya waktu itu di panggil Pak Reno, jadi saya memilih jadi asisten Pak Reno.” Jelas Tim yang mendengar bisikan Tiffany. Tiffany hanya tersenyum kecil karena malu.


Reno mengambil ponsel nya dan mengetikan sesuatu. Tim merasakan ponsel nya bergetar.


Pesan dari Reno.


'Kamu harus bayar mahal dan jelaskan semua ini.'


Tim mengangguk saat membaca pesan Reno. Dia tidak berani melihat ke arah Reno, karena mata Reno menatapnya dengan pandangan membunuh.


"Ae, aku bicara dulu dengan Tim di depan." pamit Reno. Tanpa di komando, Tim mengikuti Reno.


Di luar, Reno segera mengajak Tim untuk bicara di ujung koridor. Tim menceritakan bagaimana dia bisa bertemu Tiffany dan menyamar menjadi karyawan EO.


"Marsha bayar aku untuk selidiki Juna." Jelas Tim santai.


"Terus, kenapa kamu tiba-tiba menawarkan diri untuk jadi asisten aku?"


"Kalau di dekat kamu, aku bisa jaga Tiffany."


Reno mengerutkan dahinya mendengar penjelasan dari Tim.


"Yang potong kabel motor Tiffany kemungkinan orang, suruhan Marsha." jelas Tim. "Marsha pasti kesal karena Juna selingkuh dengan Tiffany."


Timothy tanpa ragu membuka semua ini di depan Reno. Ya, hanya segelintir orang yang tau identitas Timothy yang notabene seorang detektif swasta. Tim juga tidak khawatir cerita pada Reno karena dia tau persis karakter Reno. Reno orang yang dapat dipercaya.


Akhirnya, Reno setuju untuk membiarkan Timothy untuk sementara menjadi asisten pribadinya, sampai pekerjaannya selesai. Ini adalah bentuk ucapan Terima kasih karena Tim sudah membantunya dulu.

__ADS_1


__ADS_2