
Indonesia
Juna, Tiffany dan Jo sudah sampai di bandara. Jo membantu Tiffany menarik kopernya, sedangkan Juna dan Tiff berjalan lebih dulu.
Beberapa orang menatap ke arah mereka dengan setengah berbisik, membuat Tiffany bingung.
Jo juga menyadari hal ini. Dia lalu mengecek media sosialnya, dan dugaan nya tepat. Megan menjadi tranding topik, dan wajah Tiffany terpampang jelas dalam rekaman kejadian kemarin. Pantas saja beberapa orang memandangnya dengan tidak suka.
"Masi ada yang menyebarkan kejadian kemarin." bisik Jo pada Juna.
"Sial." Bagaimana kerja mu Jo? Kenapa masih ada rekamannya?" protes Juna.
"Namanya juga media sosial Pak. Kita ga akan benar-benar bisa hapus semua."
"Sudah lah.. tidak apa-apa. Sekarang aku jadi terkenal kan?" Tiffany yang mendengar percakapan Juna-Jo segera menengahi.
Dia sudah tidak peduli lagi dengan anggapan orang. Dan berita seperti itu hanya akan bertahan paling lama sebulan. Setelah itu orang-orang akan lupa kejadiannya.
"Rekaman nya sudah di kirimkan oleh Timothy, Pak." bisik Jo lagi.
Juna hanya mengangguk. Ya, Juna memutuskan menggunakan jasa Timothy juga untuk menyelidiki apa saja yang sudah Marsha lakukan pada Tiffany. Dia membayarnya 2x lipat, sehingga Tim tidak dapat menolak.
Mobil mewah Juna sudah menunggu di depan pintu bandara. Sopir Juna membuka kan pintu untuk bos nya, sedangkan Jo membuka pintu untuk Tiffany.
"Makasih Jo."
"Ehem." Juna berdehem.
"Oh iya, makasih juga Bapak Juna yang tampan." kata Tiff yang sadar akan kode dari Juna.
Jo tertawa senang karena tampaknya bibit-bibit bucin mulai terlihat. Mereka pergi untuk mengantarkan Tiffany ke rumahnya.
Tiffany hanya diam sambil memandang keluar jendela, sedangkan Juna di sebelahnya tampak sibuk menonton video dengan menggunakan earphone.
Butuh waktu cukup lama supaya Juna bisa mengendalikan diri saat mengetahui fakta-faktanya. Tim mengirimkan CCTV setelah kejadian kemarin. Tiffany di tampar Bu Meri dan dia tidak membela diri. Juna juga tidak melihat Tiffany menangis. Kenapa gadis itu begitu kuat sekaligus begitu bodoh? Bodoh karena dia hanya diam saja.
Juna kembali pada beberapa dokumen lain yang di kirim Tim. Orang yang memutus kabel motor Tiffany sudah ditangkap dan dilaporkan ke polisi.
__ADS_1
Dan orang yang memeberitahu Juna waktu itu adalah Ken.
"Ini ke mana lagi nona?" tanya Jo yang membuyarkan lamunan kedua orang di belakang.
"Lurus saja. Ada jalan kecil di depan, belok kiri."
Tiffany menjelaskan dengan menunjuk ke arah depan supaya pak sopir tidak kebablasan.
Dia menengok ke Juna. Ternyata Juna sedang memandanginya.
"Oke kita sampai." ucap Jo senang.
Juna mengalihkan pandangan nya. Dia membuka pintu mobil untuk melihat rumah Tiffany.
***
Rumah Tiffany jauh dari yang Juna bayangkan. Juna menatap bangunan tua itu dengan kening berkerut.
Rumah Tiffany tidak besar dan juga cat nya sudah pudar. Bagaimana caranya Tiffany bisa hidup di tempat seperti ini?
"Makasi pak.. Lebih baik anda, pergi." Ucap Tiff pada Juna yang masih saja berdiri di depan pintu.
Karena satu kata itu, akhirnya Tiff mengijinkan Juna masuk. Keadaan di dalam tidak jauh berbeda dengan di luar. Rumah Tiff juga agak berantakan, ada pakaian dan mainan di sana sini.
"Ka Tiff.. " Seorang anak laki-laki berumur 10 taun menyambut dan memeluk dirinya. Di belakang nya ada 2 orang perempuan lagi yang mungkin masih sekolah.
"Kalian semua sehat? Maaf kakak ga bawa oleh-oleh karena kakak pulang mendadak."
"Yah.." Keluh mereka.
Bak menonton sinetron, Juna hanya duduk di kursi melihat keluarga itu berinteraksi. Dia sebenarnya benci melihat kesusahan di depan matanya, tapi dia menahan semua itu. Sejak kecil Juna selalu hidup mewah dan tidak pernah kesusahan. Teman-temannya pun sekelas dengan dia. Tiff adalah orang tersusah yang pernah Juna temui.
"Bikinkan teh untuk Ka Juna."
Suruh Tiff pada salah satu adiknya.
"Kamu mau kerja di kantor aku?" Tawar Juna.
__ADS_1
"Jadi apa? Aku hanya lulus SMA."
"Terserah yang kamu sukai saja. Aku ada bisnis properti, konstruksi, mall."
"Wah, sultan.." Tiff bertepuk tangan sambil menggelengkan kepalanya. Dia tidak tahu kalau Juna sekaya itu.
"Tidak terima kasih. Mungkin aku akan istirahat dulu sebentar." Tiffany segera menolak karena dia ingat, semakin dekat dengan Juna, dia akan semakin sial.
"Atau kamu mau jadi asisten Megan?" Tanya Juna lagi.
"Megan?"
"Ya.. Dia sedang hamil sekarang dan pasti dia butuh asisten."
"Wah, jangan bilang itu anak kamu." Bisik Tiff karena adik-adiknya saat ini mendengar mereka.
Juna tertawa keras. Dia sangat terkesan dengan penalaran Tiffany. "Kalau itu anak aku, aku ga akan mengijinkan dia menikah sama Bobby."
"Ya, kamu mau lakukan itu kemarin." Ingat Tiff.
"Hey itu karena sesuatu yang lain." Bela Juna.
Teh mereka datang. Juna segera meminum teh buatan adik Tiff. Dalam hitungan detik, Juna sudah menghabiskannya meskipun panas.
"Kamu haus beneran, kirain bohong." Ucap Tiff heran. Juna, hanya melirik, lalu meletakan gelasnya.
"Terima kasih."
Ponsel Tiff berdering. Nomer tidak di kenal. Tiff yang awalnya ragu akhirnya mengangkat telepon itu.
"Halo, ini dengan siapa?" "Tim?" "Oh..kamu sudah tidak bekerja dengan Reno?" "Kasih aku kerjaan? Boleh..mulai kapan?" "Minggu depan, oke."
Tiff terlihat senang begitu menutup telepon. Juna yang mencuri dengar bahwa itu adalah telepon dari Timothy, hanya mampu terdiam. Apalagi ketika dengan mudah nya Tiff setuju menerima tawaran Tim. Apakah Tiffany tau kalau Timothy itu deketif?
"Aku pamit." Akhirnya Juna memutuskan untuk pulang. Dia lelah sekali dan ingin istirahat.
Tiff dan adik-adiknya mengantar Juna sampai Pintu. Mereka begitu heran dengan mobil mewah yang di bawa Juna.
__ADS_1
"Kakak, dia itu orang kaya ya.. Apa itu bos kakak?"
Hanya itu yang terdengar oleh Juna sebelum masuk ke dalam mobil.