
Tiffany, Aeris dan kru lain sudah bersiap di bandara. Mereka datang lebih awal, karena mereka harus memastikan kalau semua tamu yang Marsha undang sudah datang. Keluarga besar Marsha berjumlah 15 orang, dan tamu untuk bisnisnya ada 35 orang, termasuk Reno dan Juna. Tapi, kedua orang itu memutuskan untuk tidak berangkat 3 jam sebelum penerbangan. Aeris pun tidak bisa menghubungi Reno. Perjalanan yang harusnya menyenangkan karena ada Reno, berujung membuat mood Aeris berantakan.
Seperti biasa, Tiffany berusaha membackup kerjaan Aeris karena dia tidak fokus. Keluarga Marsha semua sudah datang. Mereka benar-benar crazy rich karena penampilan mereka bagaikan artis korea yang menggunakan fashion airport. Marsha pun tampil sangat fashionable. Dia menggunakan crop top hitam yang dipadu dengan blazer pink dan celana panjang hitam. Dan yang bikin heboh adalah tas di tangannya. Tas Marsha berharga satu unit mobil mewah. Tiffany sampai tidak berkedip karena Marsha memang sangat menarik dengan segala barang yang dikenakan. Di belakang Marsha, ada seorang wanita yang Tiffany kenal. Dia Dr.Ericka yang waktu itu merawatnya. Ericka tampak berbeda hari ini. Dia tidak tersenyum sewaktu Tiffany menatapnya.
“Sudah datang semua?” Tanya Marsha sambil melepaskan kacamatanya.
“Beberapa belum datang.” Jawab Tiff singkat. Dia masih memperhatikan Ericka yang wajahnya tidak seramah kemarin. Mata nya juga terlihat sedikit bengkak.
“Selamat siang semua..” Sebuah suara membuat mereka menengok. Tim merentangkan tangannya, berpikir mereka sedang menunggu kedatangannya.
Marsha menelan ludahnya. Dia memperhatikan Tim dari atas ke bawah. Tim si detektif yang disewa, menjelma menjadi sosok yang bisa di bilang menarik.
Dia menggunakan kemeja putih yang di dobel dengan vest warna hitam, celana jeans dan tidak lupa topi yang di balik. Tapi kekaguman Marsha sirna karena dia heran kenapa Tim bisa ada di sini. Siapa lagi yang menyewanya?
“Saya menggantikan Pak Reno.” Jelas Tim tanpa menunggu pertanyaan dari Tiffany dan juga Marsha.
“Kenapa Reno?” Tanya Marsha bingung.
“Ada urusan penting yang tidak bisa ditinggal.”
__ADS_1
Kali ini Tim menengok ke arah Tiffany yang sama terkejutnya.
“Tenang, saya sudah dapat tiket.. beli online tadi..”
Seketika Tiffany bernafas lega. Akan sangat menyebalkan kalau harus mengurus tiket yang baru karena itu memakan waktu.
Tim menarik kopernya untuk duduk di salah satu bangku.
Satu persatu tamu penting Marsha datang. Tiffany membereskan datanya karena sudah semua datang.
“Tunggu...” Dua orang datang dengan terburu-buru. Mereka datang dengan masker, topi, dan juga pakaian yang rapat, sehingga Tiff tidak tau mereka siapa.
Aeris menarik tangan Tiffany. Dia tidak melepaskan pandangannya dari 2 orang yang baru datang itu.
“Hai Bob,, Meg..” sapa Marsha Ramah.
Tiffany yang baru sadar kalau dua orang itu adalah Bobby dan Megan, segera menghampiri Marsha.
“Tiff,, Bobby dan Megan ikut dengan kita. Aku sudah siapkan tiket mereka juga.”
__ADS_1
“Tapi..” Tiffany hendak protes karena Marsha tidak bicara apapun tentang ini.
“Sorry karena ini mendadak.” Marsha tersenyum pada Tiff sambil menepuk pundaknya. Dia lalu menggandeng Megan untuk berjalan bersamanya.
Tiffany menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kenapa jadi rumit gini sih? Batin Tiffany. Dia merasakan akan terjadi sesuatu yang tidak enak.
***
Dugaan Tiffany tepat karena Tim ternyata duduk di sebelahnya dan Aeris. Ya, untuk 7 orang kru yang ikut, mereka mendapatkan kelas ekonomi, sedangkan untuk keluarga dan rekan bisnis Marsha mereka mendapatkan kelas bisnis. Tapi, Tim membeli sendiri kursinya. Seharusnya dia memilih kursi bisnis menggantikan Reno.
“Kenapa temen kamu?” Tanya Tim pada Tiffany.
Mereka memandang Aeris yang seperti orang yang tidak semangat hidup. Tiff heran, Aeris bisa berubah 180 derajat hanya karena Reno tidak datang.
“Reno ga bisa di telepon. Kenapa?” Tiffany balik bertanya pada Tim.
“Ada urusan keluarga.” “Tapi kan ada gue..kalian bisa jalan-jalan sama gue nanti kok.” Hibur Tim.
“Cih.. mending juga tidur daripada jalan-jalan sama mahkluk seperti kamu.”
__ADS_1
“Ati-ati lho, nanti bisa jatuh cinta sama akyu..” Tim menyenggolkan lengannya ke lengan Tiffany.
Tiffany hanya menurunkan topinya, lalu menutup mata. Lebih baik dia berpura-pura tidur daripada mengurus orang seperti Tim.