
Aeris melihat Tiffany yang cekikikan di mejanya. Dia sudah mendengar kalau Tiff kemarin menumpahkan whiskey untuk tamu VIP dan membuat kekacauan dalam acara. Sebagai hukumannya, Bu Meri memberikan Tiffany SP. Tapi bukannya sedih, Tiffany malah cekikikan.
“Kenapa lo?” Aeris mulai kepo.
“Enggak, inget kejadian lucu aja.”
“Lo ga ada takut-takutnya ya..”
“Lo kan lebih parah.. pesta pernikahan orang sampe batal.” Kata Tiff tanpa dosa, mengingatkan kejadian Aeris beberapa bulan lalu.
Aeris tidak berkomentar. Dia memang tidak sepercaya diri Tiffany. Tiffany orang yang sangat kuat. Dia tidak pernah mengeluh dan sangat jarang sakit. Sebegitu strongnya Tiffany, Aeris sampai tidak pernah melihat Tiffany menangis.
“Lo ganti berapa whiskey nya? Gue sempat liat di google harganya 50 juta.” Aeris mengalihkan topik.
“Semua udah beres.. dibayar Reno.” Tiff bangun dari duduknya, lalu berlalu sambil menepuk pundak Aeris. “Lo cepetan nikah sama dia.” Teriaknya sambil berjalan cepat, takut Aeris akan melemparnya dengan sepatu.
Aeris sangat beruntung karena telah bertemu dengan Reno. Reno yang selalu membantu orang lain dan tidak pernah kasar, dan juga kaya raya tentunya. Jika saja ada satu lagi yang seperti Reno, Tiff rela mengantri atau berebut dengan yang lainnya.
Kemarin Tiff melewatkan kesempatan untuk mencari pria muda yang kaya karena kejadian itu. Juna Liem. Semalam Tiff sudah mencari tau siapa pria itu. Dia memang kaya, bahkan milyuner, masih muda, tampan, tapi pria itu sangat aneh. Dia sudah punya pacar tapi dia ingin menggagalkan acara pernikahan Megan dan Bobby. Apakah pria itu selingkuhan Megan?
‘Bruk’ Tiffany tidak sengaja menabrak seseorang.
“Sorry..”
“Gak apa-apa.. kenapa melamun?” Bukannya marah, pria itu justru tersenyum pada Tiffany.
Tiffany menilik pria itu dari bawah ke atas. Dia tidak pernah melihat pria itu di kantor. Tapi, pria itu menggunakan seragam E0 yang sama dengannya.
“Kenalin, Timothy. Anak baru.” Pria itu mengulurkan tangan.
“Tiffany.” Tiff membalas uluran tangan Tim sambil mengamati sepertinya mereka pernah bertemu.
“Sepertinya kita pernah ketemu...” tanya Tiff kepo.
“Wajah saya memang pasaran.” “Oh iya, mohon bantuannya ya Tiff..” Tim mengalihkan pembicaraan.
Tiff tersenyum kecil. Dia tidak mau ambil pusing dengan Tim, dan memilih untuk tidak melanjutkan percakapan merka. Sekarang ada yang lebih penting daripada itu. Tiff harus mencari ponselnya. Tapi, detik berikutnya tangan Tiff sudah di pegang oleh Tim.
__ADS_1
"Sorry, aku mau tanya, Kalau makan di sini di mana ya?"
"Pakai grab aja.." Saran Tiff.
"Oh.. Iya.. " Tim menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Temenin makan di luar gimana?" Tanya nya lagi. " Aku traktir deh.."
Tiffany tampak berpikir sebentar, lalu mengiyakan ajakan Tim. Kalau soal traktiran, Tiff ga mungkin menolak. Kata orang tua, jangan menolak rejeki.
Tiff mengajak Tim pergi ke restoran padang di seberang kantor. Dia dengan semangat memilih menu kesukaannya, terong balado, ayam pop dan kerupuk.
Tim menelan ludahnya, karena tidak menyangka kalau cewe mungil di depannya makan seperti kuli.
"Jadi udah berapa lama kamu kerja di situ?" Tanya Tim memulai pembicaraan.
"Emm.. 5 taun.. "
"Lama juga yaa.." pujinya. "Pantes makannya banyak."
Tiff hampir tersedak. Pria ini baru memuji lalu menjatuhkan nya.
Tiff mengambil es teh nya dan meneguk sampai setengah gelas.
"Aku dengar kemarin ada acara wedding artis terkenal itu. Apakah acaranya sukses?”
“Aku ga tau.. karena aku pergi sebelum acaranya selesai.”
“Kenapa?”
“Ya itu,, gara-gara si Juna.” ucap Tiff keceplosan.
“Juna?” Tanya Tim bingung.
“Sudahlah tidak usah dibahas.” Tiff tiba-tiba teringat kejadian kemarin. Dia melihat Juna tertidur di sofa, meringkuk, dengan mulut terbuka dan air liur menetes. Seharian tadi dia tertawa karena hal itu. Dia tidak bisa membayangkan seorang bos besar ternyata tidurnya ga sekeren yang ada di film2. Tetep saja mereka ngiler dan mendengkur. Seandainya membawa ponsel, Tiff akan merekam kejadian Juna ngiler.
Tim heran meilhat Tiffany yang tiba-tiba tersenyum sendiri setelah mengatakan Juna. Jangan-jangan memang betul Tiffany adalah selingkuhan Juna. Juna bahkan membawa Tiff ke kamar hotel. Tidak mungkin Juna melakukan itu jika dia tidak mengenal Tiffany. Semalaman Tim juga memantau mereka. Tiffany mengendap-endap keluar jam 2 pagi dari kamar itu dengan penampilan acak-acakan.
"Oh iya, boleh saya minta nomer hape kamu Tiff.. Kita kan rekan sekantor.”
__ADS_1
"Hape aku hilang. Entah ada di mana." Kata Tiff bingung.
"Oke, gak apa-apa.. Lagi pula kita akan sering bertemu."
Mereka makan dan bicara cukup lama, sampai kurang lebih setengah jam. Tim berjanji akan membantu mencarikan ponsel Tiff dan itu otomatis membuat beban Tiff sedikit ringan.
***
“Habis dari mana lo?” Tanya Aeris yang sedang membawa box berisi file2 klien ke ruangannya.
“Habis makan sama anak baru.” Jawab Tiff cuek.
“Anak baru?”
Aeris meletakan box nya, lalu menatap Tiff dengan intens, memeriksa apakah Tiff bohong atau tidak.
“Namanya Timothy.”
“Ga ada anak baru Tiff.. lo makan sama siapa si?”
Kini giliran Tiffany yg bingung.
"Itu yang tinggi dan rambutnya cepak.."
"Ganteng?" tanya Aeris penasaran.
"Ganteng sih.. senyumnya manis."
"Fix.. itu bukan pegawai di sini." Aeris tertawa membuat yang lain di ruangan itu menatap tajam ke arahnya, khususnya para pegawai pria.
“Gue coba tanya Bu Meri. Pinjem ponsel lo.”
Setelah bicara sama Bu Meri, ternyata memang tidak ada anak baru yang masuk. Tiff terduduk lemas. Dia mulai takut kalau orang tadi psikopat atau mau meracuni nya.
“Ae, kalau gue mati, tolong bayarin cicilan motor gue ya..” pinta Tiff sambil memegang tangan Aeris.
Aeris hanya menarik nafas dalam dan memilih tidak meladeni keanehan sohibnya.
__ADS_1