Pilihan CEO Tampan

Pilihan CEO Tampan
Bertemu Adik Tiffany


__ADS_3

Mereka sudah sampai di Bandung, tepatnya di rumah tante Tiffany yang merawat adik-adiknya.


Tiffany masih tidur di bahu Juna. Juna merapikan rambut Tiffany yang menutupi wajah gadis itu.


"Tiff.. kita sudah sampai." bisik Juna dengan lembut.


"Jangan Jun..aku belum siap.." Tiffany mengigau.


"Sepertinya dia sedang berlatih, Pak Juna." goda sopir Juna sambil menengok ke belakang.


"Dia memang unik." Juna sebenarnya tidak tega harus membangunkan Tiffany, tapi mereka tidak punya pilihan lain. Kali ini Juna mencium pipi Tiffany.


Terbukti cara itu adah cara yang ampuh. Tiffany membuka matanya. Dia mengelap air liurnya sambil menatap Juna dan sopirnya bergantian.


"Jadi, kamu mimpi apa?Hmm?" tanya Juna penasaran.


"Aku.. mimpi.." Tiffany memutar bola matanya untuk mencari jawaban yang tepat.


"Dasar mesum." Juna menjitak pelan kepala Tiffany. Dia lalu turun lebih dulu dari mobil.


Tiffany mengusap jidatnya sambil mengomel pada dirinya sendiri. Kebiasaan buruknya ini benar-benar membuat dia malu.


"Tiff, cepat.." Panggil Juna yang sudah membuka pagar rumah.


Tiffany buru-buru turun dari mobil untuk masuk bersama dengan Juna. Dia sangat rindu pada adik-adiknya. Selama ini dia hanya dapat bertemu mereka melalui video call.


"Ting tong..' Juna menekan bel. Dia sudah bilang pada adik Tiffany, jika kakak mereka sudah pulang. Jadi, anak-anak itu pasti belum tidur.


"Kak Tiiiif.." Adik-adik Tiff berteriak begitu pintu terbuka. Mereka segera memeluk kakaknya yang berdiri di depan pintu.


"Halo semua.. kalian baik-baik saja kan?" kata Tiffany senang. Dia bersyukur karena adik-adiknya tumbuh sehat dan bahagia di sini.


"Kami kangen Kak Tiffany." ucap mereka serentak.

__ADS_1


"Kita masuk saja." sela Juna.


"Kak Junaaa.." mereka beralih pada pria di belakang Tiffany. Tapi belum sempat mereka memeluk Juna, pria itu sudah memberi kode supaya mereka tidak mendekatinya, apalagi memeluknya.


"Yang boleh memeluk hanya kakak kalian." ucap Juna santai. Dia berjalan masuk ke dalam tanpa di persilahkan.


"Bagaimana kalian bisa kenal dia?" Tiff kebingungan karena adik-adiknya tampak dekat dengan Juna.


Nana, adik Tiff yang pertama menarik kakaknya masuk untuk melanjutkan percakapan mereka.


Di dalam, Juna sudah duduk di meja makan, bersama Jeni adik kedua Tiff dan juga Kevin si bungsu.


Tiffany duduk di samping Juna dengan wajah penuh tanda tanya. Dia menatap satu persatu adiknya seolah meminta penjelasan.


"Selama Kak Tiff pergi, Kak Juna rutin datang ke sini satu bulan sekali." akhirnya Nana membuka suara.


Tiffany menengok pada Juna yang terlihat cuek. Dia malah sibuk memainkan ponselnya dan tampak tidak ingin terlibat dalam pembicaraan keluarga Tiffany.


Kali ini, Tiff menengok ke sekitarnya. Dia baru sadar jika seisi rumah ini sudah berubah. Dindingnya di interior dengan wallpaper yang mewah, di belakang adiknya juga ada kulkas 4 pintu, dan yang mengherankan, meja di depan Tiff adalah meja makan marmer.


"Kak Juna daftarkan Kak Nana sekolah di luar negeri." ucap Kevin tidak mau ikut ketinggalan.


"Luar Negeri?"


"Aku akan kuliah di Aussie, ka." Nana melengkapi kata-kata Kevin.


"Jun...." ucap Tiff tertahan.


"Kamu tidak perlu berterima kasih.. Aku memang keren." Juna yakin kali ini pasti Tiffany benar-benar terharu akan kebaikannya pada ketiga adik Tiffany. Tapi itu hanya ekspetasi Juna. Karena realitanya kini Tiffany malah memukuli Juna dengan tas tangannya sambil mengomel.


"Kamu itu selalu gunakan uang untuk selesaikan masalah." ucap Tiffany emosi. "Kami memang miskin, tapi kami itu punya harga diri." "Kamu selalu berlebihan."


"Apa aku berlebihan?" Juna mencoba mencari pembelaan dari ketiga adik Tiffany.

__ADS_1


Mereka menggeleng.


"Sudah Kak Tiff,, Kakak beruntung karena dapat pria yang tampan dan kaya seperti Kak Juna." Nana mencoba menghentikan Tiffany.


"Kenapa kalian malah bela pria ini." protes Tiffany.


"Karena cuma Kak Juna yang mau menerima Kak Tiff yang galak." bela Kevin dengan polosnya.


"Apa kamu bilang?" "Asal tau saja, ada banyak pria yang dekati Kak Tiff."


"Kalau gini aja baru peka." ucap Juna lirih. Kepalanya pusing melihat perdebatan yang tak kunjung selesai ini.


"Aku dengar Jun.." seru Tiffany.


"Okey.. okey..kita jangan bahas masalah ini." Juna akhirnya bertindak tegas. Dia tidak ingin pembicaraan ini berjalan sampai subuh.


"Kak Juna ingin minta ijin pada kalian untuk menikahi Kak Tiffany." "Apa kalian setuju?" tanya Juna to the point.


"Setuju."


"Sangat setuju."


"Setuju sekali."


jawab ketiga nya bergantian.


Tiffany melipat tangannya sambil mendengus kesal. Tidak perlu ijin pun mereka akan setuju karena Juna menggunakan jalur suap.


"Kalau begitu, sekarang kita tidur. Besok kita akan kembali ke Jakarta." Juna mengakhiri percakapan mereka. Dia berjalan menuju sebuah pintu di samping dapur.


"Dia membangun kamar khusus untuk dirinya dan Kak Tiff jika kalian menginap di sini." jelas Jeni sebelum Tiffany kembali bertanya.


Tiffany mengelus dadanya sambil menenangkan diri. Ibarat komputer, otak Juna seperti windows 13. Dia bisa berpikir jauh, bahkan terlalu jauh.

__ADS_1


__ADS_2