
Timothy sangat menyesal karena sudah meninggalkan Tiffany kemarin. Dia kebetulan harus bertemu klien yang lain sehingga tidak dapat menunggu Tiffany. Tim pikir karena Tiffany sudah mengirimkan rekamannya, semua berjalan dengan lancar, tapi ternyata Tiffany malah diculik oleh orang suruhan Reno.
“Jadi, bagaimana kamu bisa kabur?” Tanya Tim setelah Tiffany bercerita panjang lebar.
“Juna yang bantu.” Jawab Tiff singkat. Dia tidak mau Tim mengetahui hubungannya dengan Juna.
“Juna?” Tanya Tim heran. “Maksud kamu orang yang itu?”
Tim menunjuk dengan tangannya ke arah meja di belakang Tiffany. Tiffany spontan menengok ke belakang. Betul saja, di meja belakang mereka ada Juna yang sedang duduk bersama Jo sedang menatap tajam ke arah mereka.
“Kita gabung saja ya.. supaya aku bisa mendengar cerita yang lengkap.” Tim mengajak Tiffany untuk berpindah meja. “Ayo Tiff..” Karena enggan beranjak dari duduknya, Tim memegang tangan Tiffany dan menariknya ke meja Juna-Jo.
“Kebetulan sekali kita bertemu di sini, Mr.Juna.” Sapa Tim ramah.
Juna tidak menjawab karena pandangannya kini hanya berfokus pada tangan Tim yang masih memegang tangan Tiffany. Dan dia juga tidak kebetulan bertemu dengan Tim di sini. Tiffany bilang akan makan siang bersama Tim di restoran korea, jadi Dia dan Jo menyusul ke sini.
Tiffany yang sadar akan pandangan tajam Juna, segera melepaskan tangannya. Dia masih suka lupa kalau sekarang Juna adalah pacarnya. Maklum, Tiffany sudah terbiasa sendiri dan juga dia harus merahasiakan hubungannya dengan Juna.
“Silakan duduk..” Jo menengahi mereka karena suasana mulai tidak enak.
“Terimakasih Jun karena kemarin sudah menyelamatkan Tiffany.” Ucap Tim lebih dulu.
“Kalau itu berbahaya sebaiknya anda mencari karyawan pria saja.” Sindir Juna.
Tiffany menyenggol kaki Juna yang tidak juga melepaskan pandangan darinya. Juna benar-benar tidak mengerti situasi.
Sedangkan Jo hanya dengan santai menonton drama komedi romantis di depannya. Ya, akhir-akhir ini kisah percintaan bosnya sangat menarik bak drama korea, tapi versi ini lebih banyak komedinya daripada romantisnya.
__ADS_1
“Permisi,, ini pesanan meja di sebelah?” Tanya seorang pelayan kepada Tim.
“Iya,, betul.. Silakan di taruh sini.”
Pelayan tadi meletakan apa yang di pesan Tim, dan dalam sekejap meja mereka menjadi penuh. Tim memesan banyak makanan karena dia ingin meminta maaf pada Tiffany karena kejadian kemarin.
“Kami tidak akan habiskan ini, jadi kita makan bersama saja ya..” ucap Tim kemudian pada Juna dan Jo.
“Baiklah,,kami belum memesan makanan.” Jo menjawab Tim karena dia tau Bos nya tidak akan mood untuk menjawab atau juga makan sekarang.
Tiffany mengambil piring berisi daging yang ingin dia bakar, tapi Tim merebut piring itu dari tangan Tiffany. “Biar aku saja,, aku khawatir kalau tangan kamu kena."
“Makasi Tim.” Ucap Tiffany senang. Dia duduk kembali sambil memegang mangkuk nasinya dan menunggu Tim membakarkan daging untuknya.
Melihat interaksi keduanya, jelas membuat Juna meradang. Dia sudah mengepalkan tangannya sejak tadi untuk menahan emosinya. Karena sudah tidak tahan lagi, Juna mengambil soju di tengah meja, lalu menuangkan pada gelasnya.
“Jangan di minum.” Tiffany menahan tangan Juna yang sudah akan meminum soju dari gelasnya. Dia teringat ketika Juna mabuk waktu itu hanya karena sekaleng bir.
“Aku mau ke toilet.” Juna bangkit dari kursinya dan segera pergi dari meja itu.
Tidak lama ponsel Tiff bergetar. Pesan masuk dari Juna.
‘Aku tunggu di belakang, sekarang.’
“Emm,, aku harus menelepon seseorang, permisi sebentar.” Tiffany juga beranjak pergi secepatnya karena dia tau Juna sedang kesal.
***
__ADS_1
"Jangan kerja lagi dengan Tim." ucap Juna ketika Tiffany datang menemuinya di belakang.
"Tidak bisa Jun. Aku sudah tanda tangan kontrak dengan Tim."
"Dasar pria licik." umpat Juna sebal. .
Tiffany meraih tangan Juna, lalu menggenggamnya. Perlakuan Tiffany ini jelas membuat emosi Juna sedikit menurun.
"Sabar Jun.. aku hanya kontrak 6 bulan saja.. kalau cicilan ku sudah lunas, aku akan berhenti." jelas Tiffany dengan nada yang super lembut.
"Kamu bisa minta apapun sama aku Tiff, termasuk untuk melunasi semua cicilan kamu." ucap Juna yang sudah mulai tenang.
"benar?apapun?"
"Ya.."
"Kalau gitu aku minta kamu jangan pernah minum alkohol." ancam Tiff.
"Kamu takut aku melakukan macam-macam?" tanya Juna sambil menaikan satu alisnya.
"Ya,, itu salah satunya.. kamu bahkan tidak akan sadar kalau memeluk orang lain di hotel."
"Kamu juga tidak sadar kalau kamu sudah peluk aku di pesawat dan cium aku kemarin?" bisik Juna.
Memeluk Juna? Mencium Juna? Tiffany memutar bola matanya karena dia tidak pernah merasa melakukan itu.
"kita keluar saja." ajak Tiff yang sudah mulai frustasi. Dia tidak akan ingat apapun jika sudah tidur.
__ADS_1
Juna menahan Tiffany yang hendak pergi. Dia dengan cepat mencium pipi Tiffany sampai Tiffany tidak dapat lagi berkata-kata.
"Jangan buat aku cemburu Tiff.." kata Juna sebelum pergi meninggalkan Tiffany yang masih terdiam saja.