Pilihan CEO Tampan

Pilihan CEO Tampan
Keadaan Tiffany


__ADS_3

California


Tiffany bangun dengan rambut yang acak-acakan. Tim hampir saja melempar ponselnya karena Tiffany tiba-tiba terbangun.


"Kamu ngapain Tim?" tanya Tiff sambil mengelap air liur di sudut bibirnya.


"Enggak, tadi ada yang mengantar paket di depan." kata Tim mencari alasan.


Tiffany bisa marah besar jika tau Juna mengawasinya setiap hari.


"Memang nya ada yang tau kalau kita tinggal di sini?" Tiff memandang Tim dengan curiga. Bergaul bersama Tim membuat Tiffany menjadi orang yang sangat peka dan hati-hati.


"Entah lah.. mungkin dari fans mu." jawab Tim asal. Dia keluar untuk mengambil peti yang tadi diterima olehnya.


Tiff menunggu di ranjang sambil bersila karena paket yang di bawa Tim membutuhkan penanganan khusus. Tim harus membukanya dengan linggis.


"Wow.. Apa ini Tim?"


Tim mengeluarkan sebuah lampu kaca yang yang sangat cantik.


Dia meletakan lampu itu di meja, lalu menyerahkan surat yang ada di dalam.

__ADS_1


'Ini namanya lampu Tiffany. Lampu yang cantik tapi terlihat sangat ringkih. Tapi, lampu ini sangat berharga, sama seperti kamu.'


Tiffany membolak balik kartu itu, tapi tidak ada nama pengirimnya.


"Dari siapa Tim?" todong Tiff lagi.


"Aku tidak tau, Tiff.. serius." bohong Tim. Dia mengambil dan membaca apa isi kartunya dan seketika dia tertawa. Juna Liem si kaku dan aneh itu bisa menulis kata-kata seperti ini. Itu sebuah keajaiban.


"Kenapa?" Reaksi Tim membuat Tiffany bingung.


"Romantis sekali kata-katanya. Jangan-jangan kamu keluar sendiri dan berkencan dengan pria bule." Tim mencoba memanuver keadaan.


"Mana ada yang seperti itu Tim?" Tiffany menunjukan ekspresi sedih seketika.


"Jangan.. taruh saja di sini." Tiff menunjuk ke nakas di sebelah ranjang.


Tim menggeleng-gelengkan kepala. Dia melakukan apa yang Tiffany perintahkan.


"Cepat mandi, kita pergi ke dokter." ucap Tim sambil membereskan kayu bekas peti yang berserakan di bawah.


"No problem, ini cuma pilek saja."

__ADS_1


"Cepat.. nanti kamu di marahi polisi." Tim menarik Tiffany, dan membawa nya ke kamar mandi.


"Polisi siapa Tim? Memang kalau di sini polisi mengurusi orang yang pilek?" tanya Tiffany penasaran.


Tim mendorong Tiff masuk ke kamar mandi, lalu menutup pintunya.


Tiff yang sudah terpojok akhirnya menuruti Tim untuk mandi.


Tim bernafas lega karena Tiffany tidak banyak bertanya lagi.


'nasib.. nasib.. gini amat jagain jodoh orang.' keluh Tim dalam hati. Baru 2 bulan menjaga Tiffany, Tim sudah di buat kewalahan oleh tingkah aneh Juna-Tiffany. Yang satu sangat protektif, dan yang satu ingin bebas.


Dia pikir Tiffany akan meminta pulang ke Indonesia karena merindukan Juna atau adiknya. Tapi siapa sangka dia begitu betah di sini. Tim bahkan sudah 3x mengajak Tiffany pulang dan selalu berakhir penolakan.


Entah sampai kapan Tiffany akan tinggal di sini.. membayangkan nya saja membuat Tim menjadi pusing.



Lampu Tiffany.


(Sedikit informasi tentang lampu Tiffany)

__ADS_1


Lampu Tiffany pertama dipamerkan pada tahun 1893 dan diperkirakan dibuat pada tahun tersebut. Setiap lampu dibuat dengan tangan oleh pengrajin terampil, bukan diproduksi secara massal atau mesin. Perancangnya bukanlah, seperti yang telah dipikirkan selama lebih dari 100 tahun, Louis Comfort Tiffany , tetapi seorang seniman yang sebelumnya tidak dikenal bernama Clara Driscoll yang diidentifikasi pada tahun 2007 oleh profesor Rutgers Martin Eidelberg sebagai perancang utama di balik lampu kaca bertimbal paling kreatif dan berharga.


__ADS_2