Pilihan CEO Tampan

Pilihan CEO Tampan
Identitas Tiffany


__ADS_3

"Wah, tidurnya seperti orang mati.” Jo memandangi Bos nya yang tertidur di sofa sambil memeluk bantal. “Bos,, bangun bos..” Jo menguncang-guncang lengan bosnya.


Juna segera sadar. Dia menatap Jo dengan mata yang terbuka satu.


“Jam berapa ini Jo?”


“Jamilah kurang seksi.” Omel Jo. Semalam Jo tidak bisa menelepon Juna, jadi dia menelepon Reno, dan Reno pun bilang kalau Bos nya menginap di salah satu kamar di hhotelnya


Juna yang tidak mendapatkan jawaban dari Jo, akhirnya bangun dan menilik jam tangan nya. Jam 6. Itu artinya kemarin Juna ketiduran.


“Kemarin check in sama siapa?” Tanya Jo tiba-tiba. Saat masuk, Jo melihat ada dua piring di meja makan, dan sebotol champagne yang sudah terbuka.


Juna tersadar. Kemarin dia sedang menunggu laundry, lalu ketiduran. Juna bangkit mengecek ke seluruh ruangan. Wanita itu tidak ada.


Jo cekikikan sambil berdiri di Pojok ruangan. Bukan karena apa, tapi Juna masih menggunakan boxer. Pemandangan yang langka. Sudah pasti kemarin Juna check in dengan seseorang.


"Cari siapa sih?"


"Tukang ojek." Jawabnya singkat. Dia kembali duduk, tapi mata nya menatap paper bag di meja. Juna mengambil paperbag itu. Isi nya kaos warna kuning dengan gambar sponge boob dan celana pendek.


'Maaf baju anda saya buang. Ini ada baju yang lebih pantas untuk anda, tapi ini pakai uang saya dulu..Jadi anda berhutang banyak, Mr.Juna.’ Juna menemukan surat yang di tulis oleh Tiff.


"Jun, lo minum kan kemarin?" tanya Jo curiga.


Juna tidak menjawab, membuat Jo yakin kalau pasti dugaan Jo benar. Tukang ojek?


"Jun, kamu masih normal kan? kenapa ajak tukang ojek?" Jo menutup mulut dengan tangannya.


Juna yang kesal melemparkan bantal ke arah Jo. "Lo mau mati?"


Ponsel Jo berdering kembali. Jo menunjukan ponselnya pada Juna dari jarak jauh. Juna melihat nama Marsha Lee di layar ponsel itu.

__ADS_1


"Hey, cepat pulang, Marsha telepon lebih dari 100x. Aku bisa gila." ucap Jo kesal. Dia menjadi korban dari Juna karena Marsha selalu menerornya.


Juna mengambil ponselnya untuk menelepon Marsha. Dia memang sudah menghindari Marsha selama satu minggu ini.


“Halo,, aku ketiduran..” ucapnya sambil menguap.


“Ooo.. ya udah..”


Juna menatap ponselnya, lalu menatap Jo bergantian. Dia tidak salah memencet nomer Marsha. Tapi kenapa wanita itu tidak berteriak dan memarahinya?


"Kenapa?" tanya Jo dengan bahasa isyarat.


Jo merebut ponsel dari tangan Juna dan menekan tombol loudspeaker.


"Nona.. Juna ada dengan saya jadi anda tenang saja."


"Oh, Oke.." jawab Marsha singkat.


Jo memberikan isyarat lagi pada Juna jika Marsha pasti marah. Juna tidak peduli juga, dia melengos ke arah lain.


“Are you serious? Oke.. aku siap-siap sekarang.” kata Marsha Senang.


"Oke, sampai nanti nona."


Masalah selesai. Jo tersenyum dengan bangga karena dia sangat berbakat dalam menyelesaikan masalah dengan Marsha. Dalam hitungan detik, Jo bisa mengubah mood seorang wanita tanpa harus memohon-mohon.


"Jo, gaji mu bulan ini akan aku potong 10 persen."


Juna merebut ponselnya dari tangan Jo. Dia tidak habis pikir kenapa Jo begitu bodoh. Menemani Marsha jalan-jalan adalah bencana.


“Cepet ambil baju gue di rumah.”

__ADS_1


“What?” “Ini ada.. ngapain sih bolak balik? Rumah anda itu utara dan selatan sama hotel ini.” Protes Jo sambil memegang paperbag berisi baju.


“Bos nya siapa?”


“Anda. Tapi saya akan mengundurkan diri sekarang juga kalau cuma di suruh ambil baju.” Ancamnya.


Juna berpikir lagi, lalu menyambar pakaian yang sudah ditinggalkan oleh Tiffany.


"Jun.. aku janji ga akan ceritakan ini ke Marsha." Jo mencegah Juna yang akan masuk ke kamar mandi. Dia menepuk pundak bosnya sambil tersenyum geli.


'Dasar stress.' ucap Juna dalam hati. Dia memandang dirinya pada cermin di kamar mandi. Badannya sakit dan kepalanya juga berdenyut.


Juna meneliti seluruh bagian wajahnya dan pandangannya berhenti pada lehernya yang merah dan lecet di beberapa bagian.


Juna ingat jika semalam gadis itu mencekik nya cukup kuat.


"Dasar gadis gila." umpat nya. Pasti Jo salah paham dengan tanda di leher Juna ini.


"Halo Ren, pacar lo kerja di EO Gold kan?" Juna menelepon Reno karena hanya Reno yang bisa memberikan informasi tentang gadis semalam.


"Ya, kenapa?"


"Apa lo tau ada temen pacar lo yang punya tahi lalat kecil di pipi kirinya? Badannya kecil, tapi tenaganya seperti badak."


"Tunggu dulu, sepertinya itu Tiffany, teman Aeris." "Kenapa tiba-tiba lo tanyain dia? Lo jangan macem-macem ya." Reno teringat ketika Juna meminta untuk memesan kamar suite tadi malam.


"Lo perlu cuci otak, Ren." "Kemarin dia numpahin whiskey ke baju gue terus celana gue sobek." jelas Juna.


"Astaga.. terus lo ga bawa dia ke kamar kan?"


"Sudah lah..." Juna mengakhiri teleponnya karena tidak mau banyak bicara soal kemarin.

__ADS_1


Tiffany? Aku harus awasi dia..


"Jun, cepat.. Marsha bilang sudah siap." Jo mengetuk pintu kamar mandi hingga menyadarkan lamunan Juna.


__ADS_2