
"Silakan masuk." Tim membuka rumah sekaligus ruang kerjanya. Tiffany melangkah masuk. Dia melihat ke sekeliling ruangan yang cukup luas itu. Ada sofabed di pojok, ada meja dengan banyak layar komputer, ada papan whiteboard yang masih berisi coretan, ada lemari berisi peralatan, dan yang menarik Tiffany adalah rak pakaian milik Tim. Tiffany membuka satu persatu pakaian yang tergantung. Ada pakaian pelayan, satpam, pilot, guru dan masih banyak lagi.
"Kamu beneran detektif?" tanya Tiffany tidak percaya. Tim baru memberitahu Tiffany tentang jati dirinya 5 menit yang lalu. Sekarang melihat ruang kerja Tim, Tiffany jadi percaya. Dia pikir detektif hanya ada di film saja, tapi ternyata ada juga detektif swasta seperti Tim.
"Keren kan?" Tim memuji dirinya sendiri.
Alih-alih menjawab ocehan Tim, Tiffany memlih duduk di kursi putar yang terlihat sangat nyaman.
Tim mengikuti Tiffany, mengambil bangku lainnya supaya dapat duduk di dekat gadis itu.
Ini pertama kali mereka bertemu sejak kembali dari Jepang. Tiff terlihat sangat ceria di saat semua orang sedang menghujatnya. Dia gadis yang kuat. Tidak salah Tim memilih Tiffany untuk menjadi partnernya.
"Oh iya, muka kamu kenapa? Kok babak belur?" Sejak tadi Tiffany terlalu kagum pada kerjaan barunya sampai dia lupa bertanya pada Tim kenapa wajahnya penuh luka lebam.
"Biasalah, cowok." jelas Tim santai. Dia malas untuk menjelaskan pada Tiffany jika dia terlibat dalam batalnya pernikahan Reno dan Ericka.
"Kamu gimana dengan Juna?"
"Gimana apanya?"' tanya Tiffany bingung. Dia sengaja mematikan ponselnya karena tidak ingin melihat atau mendengar komentar dari para nitizen. Meskipun hal itu berat untuk seorang Tiffany yang tidak bisa lepas dari media sosial, tapi cara itu paling ampuh. Selama seminggu ini Tiffany hanya beristirahat dan bersih-bersih rumah. Tiff sama sekali tidak mendengar kabar Juna. Yang dia tau hanya Juna putus dengan Marsha.
"Kamu pacaran dengan Juna?" ucap Tim to the point.
Tiffany seketika tertawa. "Tim, tolong di kondisi kan kalau bercanda." "Sudah cepat bilang apa kerjaan aku."
Tim kembali teringat kerjaannya. Dia membuka sebuah amplop coklat besar yang tergeletak di samping meja komputer.
"Jadi kita mulai dari kasus Pak Adam." Tim memulai penjelasannya. Dia menunjukan sebuah foto seorang laki-laki botak dengan perut gendut yang menggunakan jas hitam.
"Anaknya curiga kalau istri Pak Adam ini selingkuh dan mereka merencanakan membawa kabur harta milik Pak Adam."
Tim memberikan dua foto. Satu foto perempuan berambut sebahu yang umurnya cukup jauh dari Pak Adam, dan yang satu foto laki-laki blesteran yang tampan.
"Jadi, tugas kamu adalah untuk mencari bukti perselingkuhan mereka." Jelas Tim.
"Gampang aja sih.."
"Tapi, istrinya itu atlet sumo." Lanjut Tim.
Tiffany menelan ludah. Dia membayangkan jika ketahuan dirinya bisa remuk di banting ke lantai.
Tim tertawa melihat Tiff yang sudah pucat dan panik.
__ADS_1
"Itu prank.. Istrinya tentu saja ibu rumah tangga."
Mendengar hal itu membuat Tiff bisa bernafas lega.
"Malam ini kita pergi ke hotel Diamond. Aku dapat info mereka akan makan malam di situ. Kamu yang masuk, dan aku menunggu di mobil." "Kamu perlu hati-hati karena laki-laki bule itu punya kedudukan yang penting. Jadi dia pasti membawa banyak bodyguard."
Tiffany mengangguk tanda memahami ucapan Tim. "Tim, kenapa kamu kerja seperti ini?" Tiffany bertanya karena Tim terlihat sangat semangat meskipun pekerjaannya ini beresiko tinggi.
"Wah, itu pertanyaan yang bagus.." Tim membuka kaleng kopi di depannya. Dia memasang wajah serius. "Jadi..." ucapan Tim terhenti. Dia sengaja membuat Tiffany penasaran. Tim tidak akan memberitahu siapapun tentang alasannya menjadi detektif. Cerita itu hanya Tim yang tau, dan pastinya itu berhubungan dengan kisah masa lalunya yang cukup kelam.
"Aku ga akan menjawabnya."
"Yaaaaaah..penonton kecewa." keluh Tiffany. "Oh iya, satu lagi." "Apakah kamu tau siapa yang mau mencelakakan aku dan Megan?"
"Sudah pasti Marsha." Jawab Tim terus terang.
"Mana mungkin dia mau menghancurkan acaranya sendiri?"
"Sudahlah.. Lagipula hubungan mereka sudah berakhir. Biar saja masalah ini selesai."
Tiff mengerucutkan bibirnya. Dia selalu penasaran dengan Juna. Kemarin bahkan Tiff memimpikan Juna. Tanpa di sadari, Tiff sangat merindukan pelukan Juna.
Bagaimana pria itu sekarang? Apakah dia sudah bersama Megan? Tapi Megan sudah punya suami. Apakah kehidupan orang kaya serumit ini?
Kantor Juna
Jo sedikit khawatir pada Juna karena sejak Megan pulang, Juna hanya diam. Dia bahkan tidak menyentuh dokumen di depannya dan membiarkan ponsel miliknya berdering.
"Pak Juna, anda belum makan dari siang tadi." ingat Jo.
Sekarang sudah jam 5 sore, dan Juna belum makan apapun.
Jo memutar otak untuk mencari pembicaraan lain. Juna tidak mau kerja dan makan.. jadi apa yang dia inginkan?
"Anda ingin bertemu Tiffany?" ucap Jo lirih.
Juna bereaksi mendengar kata Tiffany. Sejak tadi dia memang memikirkan gadis itu. Tiffany pasti sudah bertemu Tim dan bekerja dengan nya. Apa dia bisa melakukan pekerjaan yang tidak masuk akal ini? pertanyaan itu yang mengganggu Juna seharian ini.
"Daripada galau, kita ke rumah nya saja pak."
"Siapkan mobil.. dan belikan kue yang enak." kata Juna akhirnya.
__ADS_1
"Siap komandan." Jo tampak senang. Dia lebih senang jika Jo bersikap normal seperti ini. Menyuruhnya melakukan ini itu dan mengomel.
***
Jo menghentikan mobil di rumah Tiffany yang sudah gelap. Mereka turun dengan membawa 2 tas besar berisi roti dan makanan.
'Tok.. tok.. '
Tak lama pintu terbuka. Adik Tiff muncul dengan celemek dan sutil di tangannya. Dia cukup terkejut melihat 2 pria berjas yang berdiri di depan pintu tanpa ekspresi apapun.
"Apa kabar?" tanya Juna canggung.
"Eh, baik.. siapa ya?"
"Saya teman kakak mu, Tiffany."
"Oh iya, orang kaya itu.. Masuk pak.. saya matikan kompor dulu." akhirnya adik Tiffany mengingat Juna. Pria dengan mobil mewah yang membuat heboh para tetangga nya.
Juna dan Jo masuk dan duduk di kursi yang tampak kecil untuk mereka. Sedangkan adik Tiffany kembali ke dalam.
"Ini untuk kamu dan adik-adikmu." Juna menyerahkan makanan yang di bawanya ketika adik Tiffany kembali ke ruang tengah.
"Wah, terimakasih ya Pak.. Bapak baik sekali.." adik Tiff sangat terharu, bahkan sampai meneteskan air mata.
Jo dan Juna jadi bingung. Kenapa dia malah menangis? Jo buru-buru mengambil tisu di meja dan menyodorkan pada Adik Tiff.
"Kenapa kamu nangis?" tanya Jo penasaran.
"Ya, aku senang karena ada yang sayang sama kak Tiff. Sejak dulu Kak Tiffany selalu bekerja keras untuk kami. Dia bahkan tidak memikirkan dirinya sendiri." ucap nya sambil terisak.
"Tenang saja.. kami akan selalu memikirkan kakak mu." Hibur Jo. "Ya kan Pak Juna?" dia menepuk pundak Juna sambil tersenyum lebar.
Juna menatap tajam pada Jo. Ingin sekali Juna menendang tumit Jo yang saat ini sedang cekikan.
"Di mana kakakmu?"
"Dia pergi ke Hotel Diamond. Katanya mau menjalankan misi. Tapi dia berdandan cantik sekali."
"Baiklah, kami pamit dulu. Jaga dirimu baik-baik." Juna berdiri, dan segera menyeret Jo keluar.
"Jun,, kenapa si? kenapa buru-buru?" protes Jo karena dia hampir tersandung saat Juna menariknya.
__ADS_1
"Ambil mobil mu, lalu pergi ke hotel diamond secepatnya." Juna menyerahkan sebuah kunci mobil pada Jo, lalu dia segera masuk dan menjalankan mobilnya sendiri.