Pilihan CEO Tampan

Pilihan CEO Tampan
Pergi


__ADS_3

"Semua baik-baik saja. Anda tidak perlu khawatir. Anaknya aman." jelas Dokter pada Juna dan Bobby yang sejak tadi menunggu di depan pintu kamar.


"Kakak ipar, kamu tidak ingin masuk?" tanya Bobby yang melihat Juna berdiri saja mendengar penjelasan dari dokter.


"Aku menyusul." Ucap Juna lemah.


Dia terduduk lemas di bangku depan kamar sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Tadi dia begitu marah pada Tiffany, dan sekarang dia menyesal.


"Jun, kenapa?" tanya Jo sambil mengatur nafasnya. Begitu mendengar kabar Tiffany-Juna, Jo segera kembali dari kampung halamannya untuk menemui Juna.


"Megan dan Tiffany bertengkar." jawab Juna singkat.


"What? Siapa yang menang?" "Emm, maksudnya bagaimana keadaan mereka?" Jo mengutuki mulutnya yang selalu saja keceplosan.


"Megan di dalam dan baik-baik saja."


"Lalu, Tiffany? Mana dia?" Jo menengok kanan kiri. Dia tidak menemukan keberadaan Tiffany. Jo malah melihat seorang bodyguard di samping Juna.


"Siapa dia?" tanya Jo bingung.


"Bodyguard yang ku sewa untuk Megan."


"Kenapa Jun? Apa saja yang terjadi selama aku ga ada?" Jo duduk di sebelah Juna. Dia tidak lupa memberi kode pada bodyguard itu untuk pergi.


"Jo, malam ini aku berencana mengadakan konferensi pers untuk kasih tau kalau aku dan Megan itu saudara kembar."


"Whaaaaaaaaaat?!" Jo berteriak sangat keras sampai seluruh orang yang lewat menengok ke arah mereka.


"Jun,, jadi..." Jo sampai tidak dapat melanjutkan kata-katanya. "Tiffany sudah tau?"


Juna menggeleng lemah.


"Sekarang di mana dia?"


"Entahlah..Tadi aku meninggalkan dia dengan Tim." Juna menatap layar ponselnya dengan wallpaper foto Tiffany. Tadi Juna melihat Dahi Tiff yang di perban. Tiffany juga terluka. Tapi, Juna malah tidak mempedulikannya.

__ADS_1


"Sinih ponsel lo." Jo merebut ponsel dari tangan Juna. Dia menghubungi Tiffany. Hanya terdengar nada pesan suara.


Lalu, Jo beralih menelepon Tim. Tidak diangkat.


Jo mencoba beberapa kali, sampai akhirnya seseorang mengangkat teleponnya.


"Halo, Timothy, ini Jo."


Diam sesaat. "Jo, bagaimana Megan?" tanya Tim.


"Dia baik-baik saja. Mana Tiffany?"


Lagi-lagi Tim terdiam cukup lama. Ada suara helaan nafas berat di ujung sana.


"Sampaikan pada Juna, Kami akan pergi jauh. Dia bisa lebih tenang mengurus Megan."


"Apa maksud kamu Tim? Pergi ke mana?"


"Satu lagi, pecat bodyguard yang Juna sewa itu. Dia yang menyerang Tiffany kemarin." pesan Tim.


Sambungan telepon terputus.


"Jun, mereka akan pergi."


Juna terkejut. Dia tidak menyangka perbuatannya berdampak besar pada Tiffany. Juna kembali mencoba menelepon Tim. Nomornya sudah tidak aktif.


"Jo, cepat suruh Sam lacak mereka."


*


*


*


Sementara Itu, Tim baru saja selesai melakukan boarding pass. Dia menatap Tiffany yang sedang duduk menunggu nya dengan beberapa koper di sampingnya. Tim merasakan masa lalunya terulang kembali, di mana dia membawa kabur anak orang yang tidak ada hubungan apapun dengannya. Bedanya, yang satu pergi dari America ke Indonesia dan yang satu pergi dari Indonesia ke America.

__ADS_1


"Tiff, kamu yakin untuk pergi?" tanya Tim sambil berjongkok di depan Tiffany.


"Ya.. Apa yang aku harapkan lagi Tim?"


Tim meraih tangan Tiffany. Dia menghela nafas berat. "Tiff.. kamu harus tau dulu.. hubungan Juna dengan Megan."


Tiffany tidak menjawab.


"Megan itu saudara kembar Juna."


"Apa?" Tiff terkejut untuk sesaat. Tapi, detik berikutnya Tiff kembali memasang wajah masamnya.


Reaksi Tiff di luar dugaan Timothy. Dia pikir Tiffany akan berlari ke tempat Juna, atau setidaknya menelepon Juna.


"Kita akan tetap pergi." ucap Tiff lemah.


"Kenapa?"


"Tim.. apapun hubungan mereka, tidak akan mengubah apapun. Juna akan tetap memilih Megan. Aku tidak ada artinya." jelas Tiff sambil mengusap kembali air matanya yang jatuh.


"Baiklah, kalau begitu." "Tadi Juna menelepon dan mengatakan Megan baik-baik saja."


Tiffany mengangguk. Dia lega mendengar kabar Megan, tapi keputusan Tiffany sudah bulat. Dia tetap akan pergi. Tiff sudah menitipkan adiknya di rumah tante mereka di kota lain. Jadi, adik Tiffany aman.


"Wanita memang aneh dan sulit dimengerti." keluh Juna.


"Tim, untuk bisa menemukan cinta sejati itu tidak bisa seperti indomie alias instan. Itu butuh waktu. Aku belum yakin dengan Juna, dan Juna pun begitu." Tiffany memberi penjelasan pada Tim. Lagipula dia juga tidak akan selamanya bersembunyi dari Juna.


"Ya,kalau Juna masih hidup." ucap Tim dengan sangat lirih.


"Kenapa Tim?"


"Enggak-enggak.. kita pergi saja."


Tim menarik koper miliknya dan Tiffany. Ini akan jadi perjalanan yang panjang. Apalagi saat ini Tim membawa Tiffany bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2