Pilihan CEO Tampan

Pilihan CEO Tampan
Juna-Timothy


__ADS_3

Tim kembali ke kamar. Tiffany sudah bersandar di ranjang sambil menatap ponselnya. Tim melihat layar ponsel Tiffany, Juna calling. Dia merebut ponsel Tiff dengan kasar untuk menjawab telepon Juna.


"Tolong jangan kasih tau Juna.." pinta Tiff saat Tim akan menekan tombol yes.


"Halo Tiff, kenapa?" tanya Juna panik.


"Halo Jun.."


"Tim? Kenapa kamu yang angkat telepon Tiffany? Mana gadis itu?!" suara Juna mulai meningkat 3 oktaf.


"Aku baru saja mengantar Tiffany. Dia meminta aku mengangkat teleponnya." jelas Tim yang ikut emosi karena nada Juna terdengar tidak enak.


"Cepat berikan teleponnya!" Kini suara Juna sudah terdengar membentak.


Tim mengusap telinga nya yang sakit. Dia sudah tidak dapat melakukan apapun selain memberikan teleponnya pada Tiffany.


"Jun.. sorry aku sedang di toilet tadi.." bohong Tiff.


"Tiff, kenapa kamu bisa dengan Tim di jam seperti ini?"


"Kerjaan kami baru saja selesai Jun." Tiff mengatakan kebohongan kedua.


"Tiff.. sudah puluhan kali aku bilang,, jangan bekerja dengan Tim. Apa perlu kita besok menikah?" omel Juna dengan suara mulai melunak.


Tiffany tertawa kecil. "Jun, kamu ajak nikah seperti ajak main."


"Aku serius Tiff.. kapan pun kamu siap menikah, aku akan segera siapkan itu."


"Ya, aku percaya, Mr. Juna yang tampan." "Kenapa handphone kamu tidak aktif?" Tiffany balik bertanya.

__ADS_1


"Aku baru saja kembali dari rumah Megan."


"Tapi, kamu betul tidak apa-apa kan? Kamu baru saja menangis?" Juna segera mengalihkan perhatian Tiffany.


Tiffany terdiam sesaat. Dalam waktu 5 menit, dia sudah mengatakan 3 kebohongan. "Ya, aku baik-baik saja. Aku lelah dan ingin istirahat Jun."


"Okey, tidur yang nyenyak sayang.. I love you."


"Love you too."


Tiff kembali menatap layar ponselnya setelah mematikan telepon. Dia memikirkan perkataan Juna tadi. Menikah? Juna bahkan tidak dapat memilih antara dirinya dengan Megan.


"Tiff, kamu tidur dulu,, aku keluar sebentar."


Tim menyadarkan Tiffany. Tiffany mengangguk lemah. Tidak mungkin juga Tim tidur di sini.


"Makasi sekali lagi Tim.. aku ga tau bagaimana jadinya kalau aku diculik." jawab Tiff dengan pandangan nanar. Dia ingin menangis ketika ingat kejadian yang menakutkan tadi.


Tim segera pergi, tepat saat ponselnya berdering.


Juna calling.. "Ya, aku tunggu di cafe."


***


Cafe Rainbow


Juna dapat dengan mudah menemukan Timothy. Pria itu sudah sampai lebih dulu dan duduk sambil minum kopi.


Juna menarik kursi dengan kasar. Dia tidak percaya ketika Tiffany mengatakan baik-baik saja. Jadi untuk memastikan, Juna menelepon Tim. Dan Tim memang ingin menemui Juna.

__ADS_1


"Tiff baik-baik saja. Aku sudah mengantar dia." ucap Tim sebelum Juna bertanya.


"Tiff berhenti. Aku akan bayar kerugian kontraknya." ucap Juna kesal. Dia sudah tidak tahan lagi melihat Tim dengan Tiffany bekerja berdua.


"Tidak bisa. Sampai Tiff bisa membeli rumah yang baru."


"Rumah baru?"


"Ya, dia ingin membeli rumah baru. Apa dia tidak cerita?" sindir Tim.


Juna terdiam, lebih tepatnya tersadar. Gadis itu memang tidak pernah bercerita tentang kehidupannya. Sekarang Juna harus menerima kenyataan jika Tim lebih memahami Tiffany daripada dia.


"Kamu betul-betul menyukai Tiffany?" tanya Tim tiba-tiba.


"Kamu suka dia?" selidik Juna.


Tim tertawa. "Juna.. juna.." "Apa kamu tau persamaan kita?" Dia lalu memasang wajah serius sambil menatap Juna. "Untuk membangun sebuah keluarga, kita perlu berpikir ribuan kali. Kehidupan kita tidak mudah."


Lagi-lagi Juna hanya terdiam. Ucapan Tim mengingatkan Juna tentang pesan ayahnya.


"Aku memang tertarik dengan Tiffany, tapi dia lebih memilih kamu, Jun. Dia begitu sayang sama kamu." ucap Tim dengan yakin. "Tapi, kamu harus hati-hati,, seperti nya Tiff cemburu dengan Megan."


Kali ini Juna bereaksi. Dia balik menatap Tim dengan intens. "Kamu tidak perlu khawatir. Besok malam aku akan umumkan hubungan ku dengan Megan. Tiffany akan segera tau."


Tim cukup terkejut mendengar kata-kata Juna. Tapi sedetik kemudian dia tersenyum.


"Itu bagus.. Tiffany pasti lega."


Tim bangun dari kursinya. Dia merasa sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi dengan Juna. Tapi, baru selangkah berjalan, Juna menahan Timothy.

__ADS_1


"Jika aku tidak bisa melindungi Tiffany, tolong jaga dia."


Tim hanya menunjukan ekspresi datar dan pergi dari Juna.


__ADS_2