Pilihan CEO Tampan

Pilihan CEO Tampan
Rumah Juna


__ADS_3

Rumah Juna bagaikan istana di negeri dongeng. Sejak gerbang di buka, Tiff tidak bisa berhenti membuka mulutnya, tanda takjub dan kagum. Juna memiliki rumah begitu luas dengan gaya bangunan eropa. Dia hanya pernah melihat rumah seperti ini di daftar 10 orang terkaya di dunia. Entah ada berapa banyak mobil di garasi dan juga kamar tidur di rumah berlantai 3 ini.


"Welcome home.." Jo membuka pintu untuk majikan dan pacarnya.


Juna hanya tersenyum kecil melihat Tiff yang begitu heran dengan rumah keluarga Liem. Para pembantu segera membawa tas yang di pegang Jo.


"Jun, kamu itu milyader ya?" Puji Tiff yang masih sibuk melihat ke sana kemari. Dia sampai meminta Jo saja yang memapah Juna ke kamar.


"Kamu baru tau? Makanya jangan di ajak makan ayam geprek." Sindir Jo.


"Sorry.. Sorry.."


Mereka bertiga masuk ke kamar di lantai 2 dengan menggunakan lift. Lagi-lagi Tiff hanya mampu menelan ludah. Dia tidak dapat mengendalikan jiwa miskinnya di sini untuk tidak kepo.


Juna membuka kamarnya dengan sidik jari. Tiff masuk lebih dulu. Dia, meneliti ke setiap sudut. Kamar ini begitu elegan, bersih, rapi dan wangi. Tiff lagi-lagi merasa gagal menjadi wanita karena ini berbanding terbalik dengan kamarnya.


Jo merebahkan Juna di ranjang.


"Saya permisi dulu karena harus mengurus kantor. Bapak istirahat saja dengan tenang."


"Jangan dong Jo.. nanti aku kehilangan Juna kalau dia istirahat dengan tenang." Sanggah Tiff.


Jo hanya tertawa, sedangkan Juna melotot mendengar Tiff karena Tiff mendeskripsikan tidur dengan tenang\=mati.

__ADS_1


"Sudah-sudah.. Nona, temani dulu ya pak Juna nya. Kamar di sini banyak, jadi anda bisa, tidur di mana saja." Ucap Jo santai. "Atau kalau mau tidur di sini juga boleh sih.."


Jo memilih kabur sebelum dia kena omel Tiff dan Juna yang seperti nya ingin istirahat.


Setelah Jo pergi, Tiff terduduk lemas di kursi sebelah ranjang Juna. Memapah Juna bukan hal yang mudah, badan nya sangat berat.


"Makasi ya Tiff.." Suara Juna menyadarkan Tiffany.


"Istirahat saja Jun.." Tiff memegang tangan Juna. Dia menatap kekasihnya sambil tersenyum.


"Aku ingin tidur lagi."


"Iya, pasti kamu capek."


"Kamu tinggal sendiri?"


"Ya.. Selama lebih dari 15 taun."


Tiff tidak heran kenapa Juna begitu dingin dan kaku. Ternyata harta dan rumah yang besar ini tidak seindah yang Tiffany bayangkan. Dia jadi kasihan pada Juna.


"Ayo bobo sayang ku.. Besok aku bikinkan bubur ya.." Tiff menepuk-nepuk lengan Juna layaknya sedang bicara pada adiknya yang masih kecil.


"Thank you Tiff,, I love you." Juna tersenyum senang. Wajahnya tampak semakin tampan jika dia sedang tersenyum seperti ini.

__ADS_1


"Me too.." Tiff mengelus kepala Juna.


Melihat Juna seperti ini Tiff merasa kasihan pada Juna. Sejak kecil dia juga kehilangan orang tuanya. Pasti sangat berat untuk dilalui sendiri. Tiff merasa hidupnya masih lebih baik, karena ada ketiga adik nya yang bisa menghibur.


Tidak butuh waktu yang lama supaya Juna bisa tertidur. Tiffany perlahan melepaskan tangan nya. Dia berjalan untuk melihat-lihat kamar Juna. Sama sekali tidak ada foto di dinding. Dia berjalan ke ruang ganti dan juga melihat meja kerja Juna.


Pandangan Tiff terhenti ketika melihat sebuah foto yang terselip di bawah laptop. Tiff ragu ketika ingin mengambilnya, tapi dia penasaran juga.


Tiff akhirnya mengambil foto itu. Foto Juna kecil bersama dengan ayahnya. Juna begitu mirip dengan ayahnya. Ayahnya tampak gagah dan juga tampan.


Tiff lalu membalik foto itu. Ada tulisan tangan Latin yang tintanya sudah mulai pudar.


'Juna.. mungkin saat melihat ini, Dad sudah tidak ada. Kamu perlu ingat pesan Dad. Kamu tidak boleh jatuh cinta pada seseorang.


Kamu perlu tau, tentang hidup tragis Mom..Mom mu meninggal dan bahkan Dad tidak bisa menemukan jasadnya sampai sekarang.


Dad yakin kamu bisa hidup sendiri. Dad juga minta kamu jangan mencari saudara mu itu.'


Tiffany tidak terlalu mengerti akan pesan di foto itu. Kenapa Juna tidak boleh jatuh cinta? Lalu apa hubungannya dengan cerita ibu Juna? Juna sama sekali tidak pernah bercerita tentang ibunya. Apakah maksudnya ibu Juna meninggal karena musuh ayahnya? Apakah begitu mengerikan seperti itu? Dan mencari saudara? Apa Juna punya saudara?


Satu persatu pertanyaan mulai muncul di benak Tiff.


Dia mengembalikan foto itu pada tempat semula, lalu dia kembali duduk di samping Juna.

__ADS_1


"Juna.. aku tidak tau kita akan berakhir seperti apa, tapi yang jelas sekarang aku akan temani kamu." Tiff memegang tangan Juna sambil memandangi wajahnya. Dan entah berapa lama Tiff memandang Juna sampai akhirnya dia tertidur di pinggir ranjang.


__ADS_2