
Tiffany segera masuk ke kamar begitu mereka sampai di rumah. Juna bingung, kenapa Tiffany jadi sering sekali menangis. Apakah dia masih marah karena Jessica?
Juna duduk di pinggir ranjang, dengan posisi yang sama seperti tadi malam, membelakangi Juna.
"Sayang,, kenapa kamu seperti ini? Kamu sakit?" tanya Juna sambil membelai rambut Tiffany.
"Aku ingin sendiri, Jun." kata Tiffany dengan nada tidak jelas karena hidungnya mampet.
Juna menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia lalu beranjak dari ranjang. Dia tidak mengerti banyak tentang wanita, tapi sepertinya Tiff menjadi sensitif karena menjelang datang bulan.
"Junaaaaaaaa..." teriak Tiff begitu melihat Juna yang hendak pergi. "Kenapa kamu pergi?"
"Lho, katanya aku disuruh pergi?" Juna kembali mendekati Tiffany.
Tiffany menarik Juna, lalu memeluknya dengan erat. "Kalau pergi artinya jangan pergi."
"Oke,, sudah jangan menangis." Juna mencoba menenangkan Tiffany.
Butuh waktu setengah jam sampai Tiffany benar-benar tenang. Dan seperti biasa, kemeja Juna jadi korban ingus dari Tiffany.
"Sekarang, beritau aku, kenapa kamu menangis?" Juna mulai mengintrogasi Tiffany sembari melepaskan kemejanya.
Tiffany menatap Juna dari atas ke bawah. Suami nya begitu sempurna. Badannya sangat proporsional, latar belakangnya adalah keluarga Sultan, dan Juna memiliki wajah yang jauh lebih muda dari usianya, 35 tahun.
"Aku menangis karena aku merasa minder." aku Tiff tanpa mengalihkan pandangan dari Juna.
Juna terperangah. Dia mendekati Tiffany dan berjongkok tepat di depannya.
__ADS_1
"Kenapa minder?"
"Jessica begitu cantik dan pintar. Kalian sungguh sangat cocok ketika bersama. Sedangkan, aku cuma wanita biasa yang tidak mengerti apa-apa." keluh Tiffany.
"Nyonya, dengar." Juna menjepit pipi Tiffany dengan kedua tangannya. "Kamu itu istri dari Juna Liem." "Itu artinya kamu itu wanita yang luar biasa, karena bisa menaklukan seorang Juna."
Perkataan Juna itu sedikit memberikan angin segar untuk Tiffany. Dia tentu saja bangga bisa memiliki seorang Juna."Tapi, kamu akan bertemu orang-orang seperti Jessica.. aku takut kalau kamu akan tergoda." kata Tiffany lagi.
Juna mencium Tiffany tepat di bibirnya, membuat Tiffany kehilangan akal. Dia begitu menikmati setiap kali Juna menyentuhnya.
Dengan satu tangan, Tiffany mendorong Juna hingga dia terjatuh ke ranjang.
"Mana bisa aku tergoda jika aku memiliki istri yang begitu pengertian?" goda Juna.
*
*
*
"Tiff, kamu tidak tidur?" Juna membuka satu matanya.
"Aku masih memikirkan yang tadi, Jun."
"Yang baru saja kita lakukan?" Juna tersenyum genit.
"Bukaaan.. kamu jangan mesum. Aku takut kalau kamu selingkuh." kata Tiff terus terang.
__ADS_1
Juna yang masih mengantuk terpaksa membuka matanya. Dia melihat Tiffany yang menunjukan wajah sedih.
"Aku lebih takut lagi kalau ada orang yang mencelakai kamu." Juna mengelus pipi Tiffany yang kenyal seperti pipi bayi. Ancaman dari musuh-musuhnya belum 100% aman.
"Aku juga tidak pergi-pergi kan..kamu tenang saja."
"Justru kamu harus punya kegiatan." saran Juna.
Dia paham kalau Tiffany biasa bekerja. Jika menganggur, dia pasti akan sangat bosan.
"Apa yang aku miliki, itu milik mu juga. Minta sopir temani kamu belanja. Aku akan berikan kartu unlimited."
"Benar boleh belanja apapun?"
"Tentu saja Tuan Putri. Kalau kamu ingin mall nya pun aku belikan." ucap Juna dengan gaya sombongnya.
"Suami ku memang luar biasa." Tiff memeluk tubuh Juna yang masih bertelanjang dada itu.
Juna hanya menepuk punggung Tiffany sambil mencium rambutnya yang bau lavender.
"Jangan pernah berpikir seperti itu lagi,oke?" ingat Juna.
"Awas saja kalau kamu selingkuh, kamu akan tau akibatnya." Tiff menggigit Juna dengan keras, membuat Juna berteriak kesakitan.
"Tiffany Liem!" Teriak Juna kesal.
Sudah dapat di pastikan Tiffany tidak akan selamat melewati malam ini.
__ADS_1