Pilihan CEO Tampan

Pilihan CEO Tampan
Penyelesaian


__ADS_3

"Marsha Lee!"


Juna tidak dapat menahan emosinya ketika melihat Marsha bersama Tiffany.


Ken langsung pasang badan di depan Marsha sebelum Juna melangkah maju.


Marsha berdiri, lalu tersenyum manis pada Juna. Dia tidak menyangka Jika Juna akan menemukan keberadaanya dengan Tiffany.


"Halo Jun.."


"Kenapa kamu culik dia? Apa kamu sudah tidak waras?" Teriak Juna dengan nada yang meningkat 3 oktaf.


"Justru aku menyelamatkannya." kata Marsha santai.


"Apa maksud mu?"


Ken menjelaskan peristiwa yang sebenarnya pada Juna. Dia tidak boleh menyalahkan Marsha karena apa yang dikatakan Marsha itu benar.


"Lihat kan? Istrimu sungguh sangat beruntung." Marsha cukup bangga dengan dirinya karena dia masih dapat berempati pada Tiffany yang notabene adalah istri mantan pacarnya.


Tiffany melangkah ke arah Juna untuk segera memeluknya. Juna membiarkan Tiffany karena dia masih sibuk mencerna kejadian yang tiba-tiba ini. "Sorry Mars.." ucap Juna akhirnya.


"Jun, untung Marsha menolong ku, kalau tidak aku bisa jadi perkedel." lapor Tiff pada Juna.


Juna melepaskan Tiffany. Dia menatap wanita yang membuatnya seperti orang gila hari ini. Perasaannya sungguh lega karena Tiffany aman dan baik-baik saja.


"Kamu jangan bertindak seperti ini lagi." ucap Juna lembut. Dia kembali memeluk Tiffany sambil mengelus rambutnya.


"Drama Korea deh.. Sudah lah, aku pergi." Marsha yang jengah melihat mantan nya yang bisa juga bersikap romantis, akhirnya memilih undur diri. Dia memberi kode pada Ken untuk segera mengikutinya.


'Bruk' Marsha menabrak seseorang yang akan masuk ke ruangan.

__ADS_1


Ken dengan sigap menangkap Marsha yang limbung ke belakang.


"Kamu!" ucapan Marsha terhenti ketika melihat Boy.


"Kalau jalan pakai mata." omel Boy.


"Heh, mana ada orang jalan pakai mata, yang ada pakai kaki." balas Marsha tak kalah ketus.


"Dasar aneh." Boy berlalu karena tidak ingin berdebat dengan Marsha. Dia berjalan menemui Juna yang masih beradegan mesra dengan Tiffany.


"Ken, lain kali kalau dia menabrak ku lagi, hajar saja." pesan Marsha.


Ken mengangguk. Padahal yang salah itu adalah Marsha, bukan Boy. Marsha yang sepertinya melamun, entah memikirkan apa. Tapi dasar wanita. Sudah pasti Marsha tidak mau disalahkan.


*


*


*


Tiffany baru saja selesai mandi, sedangkan, Juna sedang berada di balkon. Tiff perlahan menghampiri Juna. Dia tau Juna sangat kesal dan kecewa karena Tiffany berbohong padanya.


"Jun..aku minta maaf." ucap nya lirih.


Juna berbalik. Dia meletakan kopinya di meja, lalu duduk di kursi gantung favoritnya.


Tiffany bergerak untuk duduk di sebelah Juna.


"Salah satu alasan Dad tidak ingin aku menikah atau berkeluarga, salah satunya adalah karena dia takut kehilangan orang yang dia sayang." "Dia trauma karena kehilangan Mom, jadi dia tidak ingin aku mengalami hal yang sama."


Tiffany mengangguk dan tidak mampu bicara.

__ADS_1


"Kenapa aku mau mencari Megan atau menikah sama kamu?" tanya Juna sambil merangkul Tiffany.


"Karena kamu sayang kami."


Juna mengangguk dan memainkan rambut Tiffany. "Sangat." jawabnya setengah berbisik di telinga Tiffany.


"Ini keputusan yang terbesar dalam hidupku. Aku harus bertanggung jawab pada kalian dan calon anak ku nanti." "Jadi aku mohon Tiff, kamu harus selalu ada dalam pengawasan ku. Dan jangan bertindak sembarangan seperti tadi."


"Siap Bos." Tiffany memberi hormat pada Juna.


"Makasih ya Jun,, meskipun kamu memang sedikit sombong, tapi kamu yang terbaik." Tiffany memeluk Juna erat.


"Kalau gitu, sekarang kamu harus di hukum." Juna berdiri, lalu menggendong Tiffany. Wajah Tiffany sudah memerah karena Juna pasti akan melakukan kegiatan itu. Hukuman seperti itu tidak akan jadi soal untuk Tiffany. Dia akan dengan senang hati melakukannya.


Juna mulai melepas kemejanya. Dia tidur dengan posisi tertelungkup.


"Cepat pijit."


"Pijit?" tanya Tiffany bingung. Dia membatalkan diri untuk melepas piyamanya.


"Badanku sakit. Kamu tidak tau seberapa keras suami mu mencari uang?"


"Ya sudah jangan cari uang. Kamu kan tidak akan jatuh miskin sampe 7 turunan." Tiff mulai memijit punggung Juna yang tampak begitu keras.


"Kasihan turunan ke 8." jawab Juna lagi.


"Juna Liem, kamu begitu pintar menjawab."


"Tapi cinta kan?" Juna membalikan tubuhnya. Dia tidak ingin membuat Tiffany kelelahan. Ini hanya trik saja supaya Tiffany kesal. Karena yang Juna inginkan memang membuat Juna Junior.


"Kenapa tidak jawab?"

__ADS_1


"Tentu saja cinta.. I love you Juna Liem, suamiku yang tampan."


Juna tersenyum senang. Dia mematikan lampu, karena dia sudah tidak tahan lagi untuk menyentuh Tiffany.


__ADS_2