
Juna sudah mulai beraktifitas di kantor setelah menjalani pemulihan selama 2 bulan.
Dia kembali menjadi Juna yang dingin, dan gila kerja. Jo bahkan tidak diijinkan cuti atau sekedar pulang ke rumahnya. Seperti hari ini, jam sudah menunjukan pukul 10 malam dan Juna tidak ada tanda-tanda untuk beristirahat.
"Pak, anda perlu istirahat, saya juga." Jo memberanikan diri untuk menghadap Juna.
Juna melirik sesaat, lalu mengecek dokumen nya lagi. "Kamu tidur saja Jo. Aku masih memeriksa berkas."
"Baiklah, maafkan saya pak, saya sudah tidak sanggup lagi menemani anda malam ini." Jo berjalan menuju sofa panjang di sudut ruangan. Dia segera tertidur pulas begitu kepalanya menyentuh Sofa.
Juna mengambil ponselnya. Dia menatap wallpaper dengan foto Tiffany sedang duduk di taman bunga.
Pandangan Juna akan foto Tiff, terbuyarkan karena telepon masuk. Marsha calling.. Akhir-akhir ini Marsha selalu muncul dihadapan Juna. Juna sebenarnya sangat malas meladeni Marsha, tapi dia sangat berterima kasih karena Marsha membantu Juna untuk mengurus dalang di balik kejadian Megan-Tiffany.
"Jun..kamu belum tidur? Istirahat lah Jun.." oceh Marsha begitu teleponnya diangkat oleh Juna.
"Ya,, aku akan tidur sambil bekerja." jawab Juna asal.
"Bagaimana kalau besok kita jalan-jalan Jun?"
"Aku sibuk. Ada rapat dan meeting di luar."
"Ayo lah Jun.. kita sudah lama tidak pergi bersama.." rengek Marsha dengan gaya manja nya yang khas.
__ADS_1
Jika orang lain yang mendengar itu, mereka akan langsung meleleh. Tapi ini Juna Liem. Telinganya bahkan langsung sakit mendengar Marsha bermanja-manja.
"Mars, kita itu sudah tidak ada hubungan apapun. Kita itu Man-Tan." tegas Juna.
"Ya, tapi usaha juga ga salah kan, Jun?" canda Marsha.
Juna mematikan teleponnya karena ada telepon lain yang masuk. Kali ini Megan.
"Halo Meg.."
"Jun, kamu bisa datang ke sini?"
"Kenapa?"
"Bobby pergi, dan aku sendirian."
"Baiklah Jun. Kamu jangan lupa istirahat." ucap Megan dengan nada kecewa.
Juna menyandarkan badan di kursi direkturnya. Setelah sembuh, Juna jarang bertemu Megan. Megan pun harus mengerti jika Juna sibuk dengan pekerjaan yang menumpuk karena dia sakit.
Dan, saat ini Juna tidak ingin dipusingkan dengan urusan Megan. Dia sudah memberi pilihan pada wanita itu untuk segera tinggal di rumahnya, tapi Megan belum juga bertindak. Juna mencoba mengenyahkan pikirannya tentang Megan, dan kembali pada Tiffany.
"Sedang apa dia?" Juna kembali mengambil ponselnya. Dia mencari kontak dengan nama 'sial', lalu menekan tombol telepon.
__ADS_1
"Bagaimana kabarnya?" tanya Juna to the point.
"Dia sedikit sakit."
"Apa?! cepat bawa dokter. Aku tidak mau tau." katanya setengah berteriak.
"Sabar bro... Dia cuma pilek."
"Tetap saja itu virus.. Cepat bawa dokter sekarang." ulang Juna.
"Kalian berdua sungguh aneh."
"Tim, tidak usah banyak bicara." "Apakah paket nya sudah sampai?"
"Hari ini sampai. Nanti aku akan berikan padanya. Sekarang Tiff masih tidur."
Juna melihat kembali jam tangannya. Saat ini di California jam 8 pagi, dan Tiff masih tidur. "Okey, jangan lupa kirim foto nya." pesan Juna sebelum mematikan telepon.
Ya, Juna membayar Tim untuk mengurus Tiffany selama berada di California. Dia juga selalu meminta informasi tentang Tiffany secara diam-diam, tanpa ada yang tau, termasuk Jo.
Hanya ini cara satu-satu nya cara Juna untuk menjaga Tiffany.
Tim mengirimkan sebuah foto. Dia spontan tertawa melihat foto Tiffany yang sedang tidur sambil melongo. Yang Juna maksud adalah foto hadiah untuk Tiffany, tapi pria itu malah mengirim Foto Tiffany yang sedang tidur. Tapi, Juna merasa senang hanya dengan melihat foto Tiffany.
__ADS_1
"Miss you so much, Tiff."
***