Pilihan CEO Tampan

Pilihan CEO Tampan
Kejadian di tempat parkir


__ADS_3

Malam ini Juna datang ke Hotel Emerald. Dia datang sendiri karena Jo sedang sedikit kurang enak badan. Juna naik ke lantai teratas, menuju restoran di rooftop.


Seperti biasa, Marsha tampil cantik dengan dress hitam. Dia sudah menunggu Juna bersama dengan Ken.


"Hai Jun.." Marsha senang ketika Juna datang.


Ken menarik kursi untuk Juna.


"Aku sudah pesan makanan."


Juna tidak menjawab. Seperti biasa, dia mengecek ponselnya.


"Urusan kerjaan?"


"Hmm.." jawabnya malas.


Momen kecanggungan mereka berakhir ketika pelayan datang membawa pesanan Marsha dan juga sebotol champagne. Juna menatap makanan yang baru saja ditaruh pelayan di depannya. Makanan yang sama ketika dia bersama Tiffany.


"Kamu pasti suka makanan ini." ucap Marsha sambil tersenyum penuh arti.


Juna membalas Marsha dengan sebuah senyum kecil. Meski mereka baru saja pacaran selama satu tahun, tapi Juna tahu persis karakter Marsha. Tidak mungkin Marsha melakukan ini tanpa maksud tujuan.


Marsha mulai makan tanpa banyak bicara lagi. Begitu juga Juna. Dia lapar karena seharian belum makan.


Ken selalu keheranan dengan majikannya. Setiap bertemu, mereka bagaikan 2 orang asing. Ingin rasanya Ken memukul Juna karena perlakuan Juna kepada Marsha.


"Kamu sewa orang untuk awasi aku?" tanya Juna di tengah keheningan.


Marsha berhenti memotong steak yang ada di depannya. Sebisa mungkin Marsha berusaha menutupi rasa terkejutnya.


"Untuk apa?" "Apa kamu menyembunyikan sesuatu Jun?" Marsha balik bertanya.


Juna mengambil air putih di depannya dengan mata yang masih menatap tajam Marsha. Dia yakin kalau orang yang mengikutinya pasti suruhan Marsha, tapi sekarang gadis itu tampak sangat santai.


"Musuh mu banyak. Kamu harus nya tanya pada mereka." Marsha melanjutkan makannya.


Semua yang Marsha katakan benar. Sejak dulu Juna punya banyak sekali saingan bisnis. Orang tua nya bukan hanya mewariskan harta yang berlimpah, tapi juga musuh yang berlimpah. Di tambah lagi dengan sifat Juna yang kejam dan kadang tidak punya perasaan, sudah pasti daftar orang yang tidak menyukai nya semakin banyak.

__ADS_1


Ini tidak terpikirkan oleh Juna sebelumnya.


Ponsel Juna berdering. Pesan masuk dari nomer tidak dikenal.


'Kalau anda ingin kekasih anda selamat, anda harus cepat datang.'


Juna segera berdiri. "Ken, jaga Marsha." pesan Juna, lalu dia segera berlari keluar dari restoran. Beberapa pelayan sampai bingung kenapa Juna berlari seperti orang yang di kejar debt collector.


5 menit kemudian Juna sudah sampai dalam mobilnya. Dia menyalakan maps di mobilnya mencari lokasi EO Gold.


***


"Gue balik dulu ya.. Lo balik sendiri gak apa2?" Aeris menggunakan jaket nya buru-buru. Tidak jauh darinya, Reno melambaikan tangan ke Tiff.


"Hadeh.. Bucin.. Bucin deh.."


Tanpa mengunggu jawaban Tiff, Aeris sudah berlari ke arah Reno. Pertanyaan tadi hanya formalitas saja.


Tiff orang terakhir yang pulang. Jam sudah menunjukan pukul 11 malam. Tempat parkir sudah sepi. Pulang di jam 11 bukan yang pertama kali untuk Tiffany, jadi ini bukan masalah besar.


"Hey, kalian siapa?" Tiff melihat 2 orang sedang berjongkok di motornya, entah sedang melakukan apa. Orang yang menggunakan topi itu menengok. Mereka membawa tang di tangannya.


"Jangan macam-macam." pekik Tiffany. Dia sebenarnya takut, tapi di sini sama sekali tidak ada orang.


"Kita habisin aja." 2 orang itu menyergap Tiffany. Tiffany meronta memukul sekuat tenaganya sambil berteriak minta tolong. Tapi tenaga nya kalah jauh melawan 2 orang tadi.


"Jangan berisik." kata pria itu sambil menarik rambut Tiffany. "Kamu cantik juga."


Tepat saat pria itu memegang wajah Tiffany, seseorang datang, lalu menendangnya dengan kencang. Orang tadi tersungkur sehingga dekapan nya pada Tiffany terlepas.


Tiffany menengok ke belakang. Dia terkejut saat melihat orang yang menolongnya.


"Ju.. na.." kata Tiffany terbata.


Tiffany mendorong Juna ke depan untuk melawan 2 orang tadi. Dia bersyukur karena Juna datang.


"Hey, kamu mau apa?" tanya Juna bingung.

__ADS_1


"Udah lawan aja.. tolongin aku." Tiffany bersembunyi di belakang Juna.


Mereka menatap Juna sambil mengepalkan tangan. Juna tersenyum sinis. Dia memegang tangan Tiffany, lalu selanjutnya Juna berlari membawa Tiffany.


Tiffany mau tidak mau berlari mengikuti langkah Juna.


Orang-orang tadi mengejar Juna Tiffany sambil berteriak.


Juna berlari ke arah taman. Dia sudah kelelahan. Akhirnya Juna menarik Tiffany ke semak-semak. Lagi-lagi Tiffany terjatuh di badan Juna. Dia sudah akan berdiri, tapi Juna mendekap badan mungil Tiff, dengan tangan kanannya, sedangkan tangan satu nya membekap mulut Tiffany.


"Udah diem dulu." bisik Juna.


Tiffany masih coba berbicara, tapi Juna malah mengencangkan tangannya. Akhir nya Tiffany memutuskan untuk tidak melawan daripada Juna semakin membuat dia sesak.


"Gimana dia hilang?" suara itu mulai terdengar di sekitar mereka.


"Udah lah,, yang penting kita sudah potong kabel rem nya. Sesuai permintaan bos."


"Oke lah.. kita pergi saja.."


Juna Tiffany sedikit bisa bernafas lega. Keadaan kembali tenang karena orang-orang itu sudah pergi.


"Pak Juna.."


"Tidak usah berterima kasih.." Juna melepaskan pelukannya.


"Anda sakit jantung ya?" Tiffany berdiri dari badan Juna.


Juna juga berdiri sambil membersihkan baju nya yang kotor. Untuk kedua kali atau lebih tepatnya setiap bertemu Tiffany, dia pasti mengalami luka-luka.


"Sudah lah.. buang motor mu itu. Jangan pakai lagi" ucap Juna yang kesal. Dia kesal karena Tiffany bukannya berterima kasih, malah mengejeknya sakit jantung. Juna jalan dengan terpincang-pincang.


Tiffany yang sedikit shock hanya mampu melihat Juna pergi.


***


Juna sudah sampai di mobilnya. Dia mengecek jantungnya yang memang sejak tadi berdegup kencang. Dia lalu beralih pada kaki nya yang sakit.

__ADS_1


"Sial." Juna melihat betis kanan nya yang berdarah. Ini pasti karena benda tajam yang menggores kakinya sewaktu jatuh bersama Tiffany tadi.


__ADS_2