Pilihan CEO Tampan

Pilihan CEO Tampan
Pasangan baru


__ADS_3

Juna bercak pinggang karena menerima hadiah dari Reno. Dia sudah ratusan kali menelepon pria itu, tapi tidak diangkat. Dia lalu beralih menelepon Sam.


"Wah.. selamat ya pengantin baru.." teriak Sam di ujung sana. "Kenapa kamu telepon? Kamu ga bersenang-senang dengan Tiffany?"


"Mana Reno?" tanya Juna yang bahkan tidak mendengarkan ucapan Sam.


"Dia di kamarnya lah.. Masa iya, bikin Reno Junior ajak gue?" Sam tertawa senang. "Kenapa, Jun?"


Juna tidak menjawab dan malah menutup teleponnya. Dia memandang Tiffany yang sedang tertidur sambil membelakanginya.


Ya, malam pertama yang Juna bayangkan tidak berjalan sesuai dengan apa yang dia inginkan, karena hadiah dari Reno.


Reno memberi Juna motor Harley. Seharusnya itu bukan soal besar, tapi melihat motor Harley, Tiff ingin membonceng Juna. Masalahnya, Juna tidak tidak bisa naik motor. Jangankan motor Harley, motor matic saja dia tidak bisa.


Dan karena tidak mau menuruti Tiffany, kini istrinya itu marah dan tidak mau bemesraan 'dengan Juna.


"Tiff.." panggil Juna sambil memeluk istrinya dari belakang.


"Singkirkan tangan mu." Tiffany memukul tangan Juna yang memegang bagian tubuhnya.


"Kenapa persoalan kecil saja di permasalahkan." ucap Juna frustasi.


"Masalah kecil?" Tiff menengok ke belakang. "Kalau hal kecil saja tidak mau kamu turuti, bagaimana dengan hal besar?" Tiff kembali ke posisinya semula, membelakangi Juna.


"Tiff, kamu tidak kasihan pada suami mu ini?" rayu Juna lagi.


Tiffany tetap teguh pada pendiriannya. Dia tidak bergeming sedikitpun.


"Baiklah, aku akan minum Whisky. Jangan salahkan apa yang akan terjadi nanti." Ancam Juna. Dia beranjak dari ranjang, lalu berjalan menuju meja kerjanya.


Tim memberikan kado sebotol whisky dari Perancis. Jadi, ini sangat tepat.


Kali ini Tiffany bereaksi. Dia buru-buru berlari untuk mengambil botol whisky itu. Akan sangat gawat jika Juna sampai mabuk.


"Cepat berikan." Juna mencoba merebut botol yang kini ada di tangan Tiffany.


Tiffany menyembunyikan botol itu di belakang badannya. "Kamu tidak boleh minum, Jun."


"Tidak apa-apa. Kita sudah suami istri kan." ingat Juna. Dia kembali merebut Botol itu setelah Tiffany lengah. Akhirnya Juna berhasil mendapatkan botol itu.

__ADS_1


"Juuun.. please.." Tiffany berjinjit untuk merebut kembali botolnya. Tapi karena badan Juna lebih tinggi, ditambah dia mengangkat botolnya, Tiff tidak akan bisa mengambilnya.


"Sayang... aku ga akan ngambek lagi. Janji." Tiffany memohon pada Juna.


"Terlambat." Juna membuka botolnya.


Tiff terpaksa mencium Juna. Dan trik nya berhasil karena fokus Juna teralihkan. Dia meletakkan Botol itu tanpa melepaskan Tiffany.


Wanita itu merasakan tubuhnya melayang karena Juna sudah menggendongnya menuju ranjang.


"Tunggu dulu, Jun." tahan Tiffany.


"Apalagi, hmmm?" Juna mulai melepaskan kemejanya dan membuang sembarangan.


Tiffany memandang luka jahitan panjang di dada Juna. Itu adalah luka kecelakaan yang lalu. Tangan Tiff menyentuh dada Juna. Entah kenapa, melihatnya saja membuat Tiffany merasa nyeri.


"Pasti sakit ya?"


"Bukan masalah besar." Juna tersenyum.


Tiffany melingkarkan tangannya pada leher Juna.


"Bolehkah?" tanya Juna sambil membelai rambut Tiffany.


Kali ini Tiffany tidak banyak bicara lagi. Dia mematikan lampu, lalu melakukan apa yang sudah Juna inginkan sejak tadi.


*


*


*


Juna membuka mata nya. Dia tersenyum melihat Tiffany yang masih memeluknya dengan erat. Juna bersyukur karena dia orang pertama yang menyentuh Tiffany. Pasti akan sangat sulit mendapatkan wanita baik-baik seperti Tiffany, meskipun otaknya sedikit gesrek.


"Jun.." Tiffany mulai membuka matanya. Dia bergerak untuk mengecup bibir Juna, memberikan morning kiss. "Pagi suamiku.."


"Lap dulu iler mu sayang.." Juna mengelap air liur Tiffany yang masih menempel di sudut bibir dengan tangannya.


"Ish,, kamu ga romantis sekali."

__ADS_1


"Kamu mau ulangi yang tadi malam?" goda Juna. Mereka belum menggunakan apapun sekarang, jadi mudah saja untuk mengulangi lagi.


"Silakan saja.. karena aku sudah jadi milik mu kan, Tuan Juna yang tampan?"


Juna cukup terkejut dengan Tiffany. Tapi dia senang karena tidak perlu repot-repot merayunya. Istri gesrek nya ini malah justru mempersilakan.


*


*


*


Tiffany sedang mengeringkan rambutnya, dan Juna sudah bersiap ke kantor. Tiffany tidak menyangka kalau Juna begitu semangat sekali ke kantor. Ini bukan hal yang buruk, tapi biasanya pasangan yang baru menikah akan honeymoon atau setidaknya akan bersantai dulu setelah menikah.


"Kamu istirahat saja sayang. Kamu pasti lelah dan masih sakit. Aku akan pulang cepat." pamit Juna. Dia mengecup dahi Tiffany, lalu mengacak-acak rambutnya.


"Jun.." panggil Tiff.


Juna berhenti melangkah, lalu berbalik. Tiffany pasti ingin mendapat lebih dari ciuman di dahi saja.


"Jangan lupa, latihan motor." Tiff melemparkan kunci motor Harley kepada Juna dan ditangkap sempurna oleh suaminya. "Atau malam ini tidak akan ada jatah."


"Astaga, kamu sudah cocok sekali menjadi Keluarga Liem." omel Juna. Baru satu hari menikah Tiff sudah tertular sifat Juna.


Juna yang tidak mau banyak berdebat lagi akhirnya memutuskan untuk pergi. Dia harus segera menyuruh Jo untuk melenyapkan hadiah Reno itu.


Sementara itu, Tiffany mengambil ponselnya untuk menelepon Jo.


"Halo Jo, Juna baru saja pergi ke kantor. Apa ada yang urgen?"


"Sorry Tiff, tapi ada meeting dadakan dengan klient."


"Ooo.. tolong kabari kalau Juna sudah sampai, Jo."


Jo tidak menjawab. Tapi Tiffany bisa dengan jelas mendengar dia sedang berbicara dengan seseorang.


"Nona Jessica..kenapa anda datang ke sini? Pak Juna sedang dalam perjalanan.."


Tiffany mematikan ponselnya setelah mendengarkan Jo.

__ADS_1


"Siapa Jessica?" tanya Tiff dalam hati.


__ADS_2