Pilihan CEO Tampan

Pilihan CEO Tampan
Menemui Tiffany


__ADS_3

Tiffany memegangi pipinya yang merah. Meskipun kejadian itu sudah 3 jam lalu, tapi sakitnya masih terasa. Baru kali ini Tiff merasa dirinya begitu bodoh. Dia hanya bisa diam karena dia tidak ingin menambah masalah Juna dan Marsha.


Bel pintu kamar Tiffany berbunyi, lamunan Tiffany. Dia bangun dari ranjang, dan membuka pintu tanpa melihat siapa yang datang.


Tiff hanya terdiam melihat Juna berdiri di depan pintu dengan penampilan acak-acakan.


Juna Liem. Setiap ada Juna, pasti ada kejadian buruk yang menimpanya. Dan Tiffany sudah tau, apa maksud Juna datang ke sini.


Juna masuk ke dalam tanpa dipersilahkan, lalu menutup pintunya. Dia mendekati Tiffany hingga Tiffany mundur dan menabrak lemari. Juna sedikit menunduk sehingga jarak mereka hanya tinggal beberapa centi saja. Juna meneliti Tiffany seakan Tiffany adalah barang antik.


"Gue bisa jelasin.. Tapi tolong jangan apa-apain gue.." Kata Tiffany memelas. Dia takut Juna akan melakukan sesuatu yang di luar batas karena dia emosi.


"Apa aku terlihat sejahat itu?" Ucap Juna sambil tertawa.


Tiffany menatap Juna dengan bingung. Ini diluar dugaannya. Dalam sekejap Juna sudah memeluk Tiffany. Tiffany merasakan kehangatan menjalar ke tubuhnya yang sedang kedinginan.


"Aw" Tiffany berteriak ketika Juna mengeratkan pelukannya.


Juna melepaskan pelukannya. Dia melihat siku Tiffany. Ada luka lebam dan darah yang sudah mengering. Tiffany menarik tangannya dan menyembunyikan di belakang tubuhnya.


"Mana lagi yang terluka?" Tanya Juna khawatir.


Dia melihat pipi Tiffany yang merah, tapi Tiff segera menutupi nya dengan kedua tangannya.


"Maaf Pak.. Sebaiknya anda pergi sekarang.


Seharusnya anda berada di kamar kekasih anda, bukan di sini." Tiff yang sempat terlena dengan perhatian Juna, mencoba kembali ke jalan yang benar.

__ADS_1


"Kita ke rumah sakit sekarang." Ajak Juna. Dia memegang pergelangan tangan Tiff. Tapi Tiff menepis nya.


"Tidak perlu.."


"Ini sudah malam Pak, lebih baik anda pergi." Usir Tiff.


Juna tidak bergeming sedikit pun. Kenapa susah sekali untuk membujuk Tiffany. Dia persis seperti Megan yang keras kepala.


"Kalau kamu tidak mau ke rumah sakit, aku saja yang obati." Kata Juna akhirnya. Dia mengajak Tiff untuk duduk di tepi ranjang.


Ada banyak sekali pertanyaan dalam benak Tiffany. Begitu juga dengan Juna.


"Bagaimana dengan Megan?" Tanya Tiff lirih.


Juna yang sedang menelepon Jo untuk membelikan obat-obatan segera menutup teleponnya.


Tiff mengangguk. "Kenapa kamu ga jaga Megan saja di sana?"


"Ada suaminya yang mengurusnya." Ada nada yang tidak menyenangkan dalam ucapan Juna.


"Kalau Marsha? Dia sangat kecewa tadi karena anda pergi begitu saja."


"Dia tidak akan kenapa-kenapa." "Sudahlah, kenapa ngurusin orang lain. Bagaimana dengan kamu?" Juna mencoba mengalihkan pembicaraan.


Tiffany tersenyum getir. "Yah, seperti yang terlihat, selalu kena sial setiap kali ketemu anda."


Bukannya menyesal, Juna malah tertawa. Wanita ini benar. Semua orang yang dekat dengannya tidak akan hidup tenang. Tiffany orang pertama yang mengakuinya.

__ADS_1


"Terima kasih sudah jujur."


Sejak menjadi penerus usaha keluarga Liem, Juna sudah terbiasa dengan sandiwara orang di sekitarnya. Mereka sangat baik jika berada di depan Juna, sedangkan di belakang, mereka akan mengumpati Juna bahkan merencanakan hal yang jahat untuknya. Tapi Tiffany berbeda. Dia selalu mengutarakan apa yang dia ingin katakan tanpa memandang siapa itu Juna.


"Saya minta maaf soal kemarin Pak Juna." ucap Tiff menyesal.


"Kenapa? Memang lebih baik kalau kita jaga jarak. Saya takut kamu celaka."


Juna terdiam cukup lama. Dia kemudian berdiri dan seperti kebiasaannya, Juna menatap keluar jendela untuk memandangi langit malam kota Tokyo.


Juna lalu menceritakan tentang hal yang mengganggu nya selama ini. Dia sendirian tapi dia tidak bisa memiliki banyak teman. Alasannya hanya 2. Yang pertama adalah Juna benci dengan orang yang hanya ingin memanfaatkan nya saja, dan yang kedua karena dia takut sahabatnya itu bisa celaka karena orang-orang yang mengincarnya.


"Jadi, tidak apa-apa kalau kamu menghindar dari aku." kata Juna di akhir ceritanya.


"Jun.." panggil Tiffany.


"Aku baik-baik saja, Tiff." jawab Juna tanpa menengok.


"Jun.." panggil Tiffany lagi.


Juna akhirnya menengok. Dia melihat Tiffany sedang memegang ponsel Juna sambil menunjukan layarnya ke depan wajah pria yang masih tampak sedih itu. Jo calling..


Sejak tadi Tiffany sebenarnya mencoba bicara pada Juna karena Jo sudah menelepon lebih dari 5 kali. Tapi, Juna tampak sangat sedih dengan ceritanya.


Juna mengambil ponselnya dengan kesal. Dia pikir Tiffany ingin memberi kata penghiburan, tapi ternyata dia ingin memberitahu telepon dari Jo.


"Jo sudah di depan. Kamu buka pintu nya."

__ADS_1


suruh Juna. Dia sudah kembali pada sifat bossy nya hanya dalam waktu beberapa menit saja.


__ADS_2