Pilihan CEO Tampan

Pilihan CEO Tampan
H-1


__ADS_3

H-1


Juna Liem adalah pria kejam dan tidak berperasaan. Dia hampir membuat Jo masuk ke ruang ICU. Semalaman Jo tidak tidur karena dia harus menjadi WO dadakan. Dia sudah menghubungi beberapa WO ternama, dan mereka menolak untuk membantu Jo mempersiapkan pesta pernikahan Juna. Tentu saja tidak ada yang mau, karena permintaan Juna terlalu mustahil.


Pagi ini, Jo sudah selasai mengurus surat-surat mereka dan mendaftarkan mereka di catatan sipil. Setelah itu, Jo menyewa fotografer sekaligus desainer terkenal dan membawa pasukan itu ke rumah Juna.


Rumah Juna yang biasanya sepi, kini menjadi studio foto dadakan dan juga butik seadanya.


Semua sudah siap. Sementara menunggu Juna yang masih dalam perjalanan dari Bandung, Jo menelepon percetakan untuk mencetak beberapa undangan.


'Tin..tin..'


Jo mengintip dari balik tirai. Mobil rolls royce Juna yang baru sudah berhenti di depan pintu.


Jo memberi kode supaya mereka semua bersiap.


"Apa semua sudah siap, Jo?" Juna muncul dengan menggandeng Tiffany.


"Siap Pak." jawab Jo semangat. Padahal dalam dirinya, dia sudah sangat lelah dan ingin tidur. Dia bahkan tidak yakin kalau dirinya masih hidup karena saat ini tubuhnya seperti melayang.


"Kamu luar biasa, Jo." Tiffany mengacungkan jempolnya melihat semua sudah siap di rumah.


"Hai Tiff,, selamat ya... Aku sangat terkejut mendengar kamu mau menikah dengan Juna." Jo memberi selamat dengan menjabat tangan Tiffany.


"Cepat, kamu ganti baju dan pakai sedikit make up." Juna melepaskan tangan Tiffany dari Jo, lalu mendorong wanita itu untuk pergi ke dalam kamarnya. "Tidak usah mandi, Tiff." teriak Juna.


"Tapi kita mau foto kan?" Tiffany melongokan kepalanya di sela pintu.


"Mereka tidak akan tau kita sudah mandi atau belum." "Waktu kamu cuma 10 menit." Juna melihat jam mewah dipergelangan tangannya.


Tiffany masuk sambil mengomel.


"Malang sekali nasibnya." ucap Jo prihatin. Baru kali ini Jo melihat pasangan yang begitu otodidak.


Tidak lama, Tiffany keluar dengan menggunakan kemeja putih. Dia melihat Juna sudah duduk di depan layar bewarna biru.


"Rambut mu sudah disisir belum?" Juna mengomel karena rambut Tiff acak-acakan.


"Aish,, kamu memang sungguh tidak waras." Tiffany menyisir rambutnya dengan tangan.


"Okey.. Kita ambil fotonya yaa..."

__ADS_1


Fotografer mengangkat tangan dan memberi aba-aba pada mereka.


"1...2..."


"Tunggu!" teriak Tiffany. Dia merasakan ada yang tertinggal. Dia menengok pada Juna yang memasang wajah seperti kanebo kering.


"Senyum dong sayang." Tiffany mencoba melobby Juna. "Aku tau kamu memang kejam, tapi ini hanya sekali seumur hidup."


"Cepat foto saja." ucap Juna pada fotografer yang tertawa karena ucapan Tiffany.


"Aku tidak akan menikah dengan mu jika kamu tidak mau senyum." ancam Tiffany.


"Rupanya kamu sudah pandai bernegosiasi."


"Kan belajar dari kamu sayang.." jawab Tiffany santai.


Juna menengok, lalu menunjukan senyumnya pada Tiffany.


"Nah, gitu kan ganteng." Tiffany puas karena Juna menurutinya.


Dan setelah perdebatan yang cukup panjang itu, mereka akhirnya mendapatkan foto yang bagus.


*


*


*


Tiffany lebih bersemangat pada bagian ini. Dia senang sekali untuk mencoba satu persatu gaun yang pasti harganya tidak murah itu.


Juna membiarkan Tiffany memilih lebih dulu, karena dia hanya perlu memadukan jasnya saja.


Gaun Tiffany yang pertama begitu anggun dan sangat pas di tubuh Tiffany yang mungil.


"Bagaimana?" tanya nya pada Juna.


"Ganti. Aku tidak suka."


"Tapi ini pas dan bagus."


Juna hanya memberi kode supaya mereka menutup tirainya. Setelah tirai tertutup, Juna bisa bernafas lega. Gaun tadi memang cantik, tapi itu membuat lekuk tubuh Tiffany terlihat jelas. Juna saja tidak bisa memalingkan wajahnya, apalagi nanti orang yang melihat Tiffany.

__ADS_1


Di sela-sela kegiatan fitting baju, Jo mendekati Juna untuk menanyakan para tamu undangan.


"Kita undang siapa saja Pak?" tanya Jo sambil menatap Tabletnya.


"Terserah kamu saja, Jo. Reno dan Sam sedang berada di luar negri. Undang yang penting-penting saja." jawab Juna setengah tidak peduli.


Ya, yang terpenting baginya adalah menikah dengan Tiffany. Dia tidak mempermasalahkan siapa yang hadir. Lagipula ini hanya acara di catatn sipil dan rumah ibadah.


"Baiklah. Saya urus ini dulu."


Tiffany kembali keluar. Kali ini gaun nya lebih tertutup dengan model helter neck dengan payet di bagian bawah gaun.


"Oke yang ini saja." jawab Juna cepat.


"Yang mau pakai kan aku, Jun." protes Tiffany. Dia sebenarnya tidak suka dengan gaun ini karena akan membuatnya terlihat semakin pendek.


"Cepat putuskan Tiff, kamu juga harus istirahat."


Juna bangun dari sofa, lalu merangkul pinggang Tiffany.


"Tahan 1 hari lagi." Tiffany mendorong kepala Juna yang sudah mendekat ke wajahnya.


"Aku coba satu lagi, dan kalau tidak cocok, aku pakai ini saja." akhirnya Tffany harus mengalah.


Juna kembali ke sofa dengan raut wajah kecewa.


"Jo, wanita itu susah sekali di taklukan." curhat Juna pada Jo yang kini duduk di sebelahnya.


"Ya, anda beruntung karena bisa mendapat gadis baik-baik seperti Tiffany." Jo menepuk pundak Juna.


Sembari mereka melepaskan lelah, Tiffany akhirnya selesai dengan gaun ketiga. Model yang ketiga adalah model off shoulder dengan bagian bawah yang mengembang.


"Anda cantik sekali, Tiff." puji Jo.


"Ehem." Juna memberi pada Jo supaya dia diam. Seharusnya, Juna yang mengatakan itu. "Kamu suka yang ini?" Tanya Juna.


Tiffany mengangguk. Gaun ini tidak terlalu seksi, tapi tampak sangat indah di badannya.


"Okey, sekarang kita istirahat." Juna tampak lega karena sesi ini berakhir juga.


Juna menarik satu jas dari gantungan dan memberikan pada desainer yang menunggu Tiffany berganti baju. Dia tidak mencoba, karena mereka sudah tau ukuran Juna.

__ADS_1


"Aku bagaimana, Jun?" protes Jo. Masih banyak yang harus dia kerjakan, tapi Juna tampak tidak peduli.


"Sampai besok, Jo. Ingat, jangan lakukan kesalahan." Juna melambaikan tangan sambil masuk ke dalam kamar.


__ADS_2