Pilihan CEO Tampan

Pilihan CEO Tampan
Kebenaran


__ADS_3

Juna sudah sampai di hotel. Dia berjalan dengan cepat menuju lift. Tak lama, lift terbuka dan Juna melihat Tim berada di dalam lift. Dia masuk dan menekan tombol ke lantai 25.


"Kamar Marsha di lantai 22.." kata Tim yang sedang bersandar pada belakang Lift.


Juna hanya diam. Dia tau, Tim adalah asisten Reno. Tapi dia tidak ingin berurusan dengan Tim.


"Bagaimana dengan Megan?"


Kali ini Juna menengok. Telinganya begitu sensitif mendengar ada yang menyebut kata 'Megan'.


"Apa maksud anda?"


"Juna Liem, saya tau rahasia anda."


Kali ini Juna berbalik menghadap Tim. Dia tidak pernah bertemu dengan Tim, atau jangan-jangan..


"Kamu suruhan Marsha." Tebaknya.


Tim tidak menjawab. Dia hanya menunjukan foto 2 anak kecil di ponselnya.


Juna spontan menarik kerah kemeja Tim. Wajahnya memerah karena menahan marah.


"Dari mana foto itu?"


"Tenang saja tuan muda.. saya ga akan kasih tau siapapun.."

__ADS_1


"Cari mati kamu." Juna sudah siap menghajar Tim, tapi tangan nya terhenti karena Tim menahan tangannya.


"Kamu mau tau apa yg terjadi tadi?"


Juna menekan ego nya karena ingin tau apa yang sebenarnya terjadi. Juna berencana pergi ke kamar Tiffany untuk meminta penjelasan dari gadis itu. Dia pikir Tiffany yang mendorong Megan seperti yang terlihat, tapi Juna masih ragu karena Tiffany tidak punya motif untuk melakukan itu. Pasti ada orang lain.


Tim membenarkan kemeja nya. Dia membisikan sesuatu di telinga Juna. Tepat saat itu, pintu lift terbuka. "Urusan kita soal Megan belum selesai." ucap Juna sembari dia keluar dengan langkah gontai.


Tim menghela nafas panjang. Ini baru lantai 22. Tadi Juna bilang ingin pergi ke kamar Tiffany, sekarang dia turun di kamar Marsha.


***


Kamar Marsha


Marsha menerima air mineral yang di berikan oleh Ken. Hari ini begitu melelahkan. Di tambah kejadian, di mana Marsha melihat dengan mata kepalanya sendiri Juna menggendong Megan. Semua semakin jelas sekarang.


"Kenapa?" Marsha memutar duduknya sehingga dapat memandang bodyguard kepercayaannya itu.


"Tiffany.." jawab Ken singkat.


Marsha tersenyum. "Dia tampak baik-baik saja."


Ken tidak bicara lagi. Dia sudah bekerja dengan Marsha sejak gadis itu masih duduk di bangku SMA. Jadi Ken paham betul dengan cara kerja Marsha. Ya, semua ini adalah kerjaan Marsha. Marsha mendengar bahwa Juna pergi ke Jepang, dan dia segera meminta orang untuk melakukan misi nya. Mendorong Megan. Rencana itu tampak nya berhasil. Marsha bahkan tau, siapa yang menjadi prioritas Juna. Dia sudah salah mengira bahwa Juna memiliki hubungan spesial dengan Tiffany.


"Kenapa kamu tiba-tiba tanya Tiffany? Apa kamu suka dia?" giliran Marsha yang bertanya pada Ken.

__ADS_1


"Tidak nona.. saya cuma memikirkan keluarga nya saja." jawab Ken dengan jujur.


Ken merasa kasihan pada Tiffany. Dia bingung, kenapa Tiffany tidak menceritakan kejadian yang sesungguhnya atau membela diri.


'Ting tong..' bel kamar Marsha berbunyi. Ken menengok untuk melihat siapa yang datang.


"Tuan Juna, nona."


"Buka Ken." perintah Marsha.


Juna menyeruak masuk dan langsung datang menemui Marsha yang masih duduk dengan santai.


"Bagaimana dengan Megan?" ucap Marsha dengan nada menyindir.


"Kamu tau kesalahan kamu?" Juna tidak peduli dengan pertanyaan Marsha.


"Kalau kamu jelaskan sejak pertama, aku tidak akan melakukan ini."


Marsha berdiri, lalu meneliti Juna. Dia melihat pria itu tampak berantakan dalam balutan Jas Hitamnya. Marsha membantu Juna untuk sedikit merapikan kemeja Juna, tapi Juna menangkap tangan Marsha.


"Kamu hampir celakai dia, Mars." Juna sedikit menekankan kata 'dia'. Maksud Juna adalah Tiffany. Tadi Tim berkata jika kekacauan tadi adalah ulah Marsha. Tidak hanya itu, Tim juga memberitahu bahwa Marsha yang menyuruh orang pada kejadian Rem motor Tiffany.


"Jun, semua wanita akan lakukan hal yang sama kalau kekasih nya selingkuh." bela Marsha.


"Kamu memang gila." "Kalau sampai kamu mencelakai Megan atau Tiffany, kamu pasti tau akibatnya." ancam Juna. Ada kilatan amarah dalam matanya. Kali ini Juna benar-benar emosi. Marsha tau ini bukan saatnya merengek dan juga mengejar Juna.

__ADS_1


'Siapa yang akan kamu pilih Jun, kita akan lihat nanti.'


__ADS_2