Pilihan CEO Tampan

Pilihan CEO Tampan
Kejadian di pesawat


__ADS_3

Tiffany sudah sangat lelah ketika Juna membawanya masuk ke dalam pesawat. Juna sudah memesan tiket pesawat kelas vip supaya Tiffany lebih nyaman istirahat.


Sedangkan Jo, dia sudah bagaikan mayat hidup. Dia sudah tidak merasakan berpijak di tanah.


Mereka bertiga sudah duduk manis dalam pesawat. Juna bersebelahan dengan Tiffany, sedangkan Jo di belakang mereka.


Jo langsung tertidur, begitu juga dengan Tiffany. Hanya Juna yang masih terlihat segar. Dia memang kerap mengalami insomnia. Jika seperti ini, Juna menggunakan waktunya untuk berpikir.


Dia sudah membulatkan tekad untuk menyelesaikan hubungan nya dengan Marsha.


"Eemm.." Tiffany menggeliat.


Juna beranjak dari bangkunya, untuk menengok ke bangku di sebelahnya. Tiffany terlihat begitu nyenyak. Dia memberanikan diri untuk menyentuh pipi Tiffany yang sudah sempat di kompres tadi.


Tiff yang merasakan sentuhan di pipinya sedikit bergerak. Tapi, setelah itu, dia menarik tangan Juna, dan mendekapnya seolah tangan Juna adalah guling. Juna otomatis terjatuh dan sekarang mereka duduk bersama dalam bangku itu.


"Hey.." panggil Juna yang menjadi risih karena Tiffany saat ini sudah mulai menyenderkan kepalanya di badan Juna. Mungkin Tiffany mengira badan Juna adalah bantalnya.


"Tiffany.." panggil Juna. Tapi gadis itu tidak bergeming.


Juna kini terjepit karena kursi nya pas sekali untuk mereka berdua.


"Tuan, saya bantu untuk ubah posisinya.." Seorang pramugari yang lewat dan melihat Juna kesulitan segera menawarkan bantuan.


Juna merasa lega karena dia akhirnya bisa bebas dari Tiff.


"Terimakasih."


Tapi harapan Juna pupus sudah. Bukannya membantu Juna menyingkirkan badan Tiffany, pramugari ini membantu Juna menekan tombol di kursi supaya kursi mereka lebih kebelakang 45 derajat sehingga mereka bisa tidur dengan nyaman.


"Anda romantis sekali, tidur berdua." "Selamat istirahat tuan.."


Juna hanya bisa pasrah. Dia harus bersabar semalaman dengan posisi Tiffany yang memeluknya.

__ADS_1


'Kenapa gue yang jadi sial ketemu sama dia?' batin Juna sedih.


***


Jo terbangun. Dia merasakan energinya sudah kembali 50%. Dia berdiri untuk mengecek Juna dan Tiffany. Bangku Juna kosong. Dia lalu menengok ke samping dan...


Juna memberi kode supaya Jo diam. Jo mengangguk sambil melongo. Dia lalu mengeluarkan ponsel untuk mengambil Foto Juna dan Tiffany yang tidur dalam satu bangku.


"Bantu aku cepat." ucap Juna lirih.


Jo buru-buru menolong Juna. Juna menyingkirkan tangan Tiffany perlahan, lalu dia memegang tangan Jo supaya menarik nya berdiri.


Setelah berhasil, Juna menarik nafas lega. Dia kembali ke bangku nya dengan perasaan senang.


"Lo pinter banget cari kesempatan." goda Jo.


"Sana lo yang cobain. Bisa patah badan lo."


"Beneran boleh?" tanya Jo lagi. Dia sudah bersiap untuk menuju bangku Tiffany.


"Modus lo. Bilang aja ga boleh." Jo kembali ke bangku nya untuk melanjutkan tidurnya.


Begitu juga dengan Juna. Dia bisa tidur dengan nyaman sekarang.


***


"Jun.. " Panggil Tiff yang baru terbangun.


"Ya?"Ada masalah?" tanya Juna yang sudah terbangun lebih dulu.


"Ini enak banget.. Baru pertama kali naik seperti ini."


Juna tertawa. 'Jelas saja enak..gulingnya mahal.' batin Juna.

__ADS_1


Tiff wanita yang tidak malu mengungkapkan perasaannya. Meskipun sedikit kampungan, tapi itu bukan soal yang besar. Ini saja baru naik pesawat orang lain, bagaimana reaksi nya kalau Juna menggunakan pesawat pribadi.


"Setelah ini kamu kerja di mana?" Tanya Juna mengalihkan pembicaraan.


"Entah lah..boleh ku minta uang yang kemarin lagi?" Canda Tiff.


"Kalau kamu butuh.."


Kini giliran Tiffany yang tertawa. "Ini gila.."


"Kenapa?" Juna tampak bingung dengan Tiff.


"Kamu punya 2 orang pacar dan sekarang justru pergi sama orang asing. Mana mau kasih uang lagi."


"2 pacar?"


"Marsha.. Megan.." Ucap Tiff sambil menghitung dengan jarinya.


Juna hanya diam dengan wajah yang tidak terbaca. Kecanggungan mereka berakhir ketika pramugari datang memberikan sarapan. Tiff yang sejak kemarin kelaparan begitu senang melihat makanan mewah yang terhidang di depannya.


"Sayang Aeris pulang lebih dulu." Tiffany mengingat sohibnya yang entah di mana sekarang.


"Hey.. Aeris pulang pakai pesawat pribadi Reno. Kamu ga perlu khawatir."


Tiffany tersedak seketika. Matanya melotot tidak percaya perkataan Juna.


"Telan dulu.. Baru bicara.." Juna geleng-geleng melihat mulut Tiff penuh dengan makanan.


"Memang sekaya apa Reno?"


"Dia hampir jadi pewaris keluarga Tan. Kamu bisa browsing saja di internet."


Tiff menelan ludah. Aeris mendapatkan tambang emas. Sekarang di depan nya juga ada Juna. Dia juga tambang emas yang memberikan dia uang 1 M kemarin.

__ADS_1


"Makan lah lagi." Ucap Juna yang merasa risih karena sejak tadi Tiff memandangnya sambil bengong.


__ADS_2