Pilihan CEO Tampan

Pilihan CEO Tampan
Bertemu kembali dengan Juna


__ADS_3

Apa yang ditakutkan Tiffany terjadi. Saat ini, Tiffany sudah merasa dikuliti oleh pria yang sejak tadi tidak mengalihkan pandangan dari dirinya.


Tiffany menengok ke samping. Meja di sekitarnya begitu riuh. Orang semeja asyik mengobrol dan bertukar cerita. Tapi tidak dengan meja Tiffany. Dia duduk bersama dengan Juna, Jo, Megan, Bobby dan Jason. Semua tampa canggung dan tidak ada yang ingin memulai pembicaraan.


"Senang bertemu anda, Juna Liem. Saya Jason."


akhirnya Jason berinisiatif untuk membuka suaranya. Dia mengulurkan tangan pada Juna yang tampak sinis sejak tadi. Jason jelas mengenal sosok pria angkuh di depan Tiffany. Juna Liem adalah pengusaha muda yang sukses, yang namanya tidak hanya terkenal di dalam, tapi juga luar negeri.


Juna tidak bergeming sama sekali. Dia malah menyilangkan tangannya di dada.


"Saya, Jo.. asisten Juna.." Jo menjabat tangan Jason yang tidak disambut Juna.


"Anda sangat penuh karisma, Tuan Juna." tambah Jason yang sedikit menyindir kesombongan Juna.


"Apa kabar Tiff?" Megan juga mulai membuka suaranya.


"Baik, seperti yang terlihat." jawab Tiff tanpa tersenyum. "Bagaimana anak mu?"


"Mereka sangat lucu."


"Mereka?"


"Ya, aku melahirkan anak kembar. 2 anak laki-laki." ucap Megan senang.


"Wah, selamat ya.." Tiffany menyalami Megan.


Percakapan mereka berlanjut ketika Megan memperlihatkan foto anak-anaknya pada Tiffany.


Interaksi kedua nya yang sangat akrab membuat 4 pria lainnya diam dan menonton mereka yang layak nya sahabat akrab yang sudah lama tidak bertemu.


"Wah, mirip sekali dengan Juna. Semoga sifatnya tidak ikut uncle nya." kata Tiff keceplosan.


Pernyataan Tiff itu jelas membuat satu meja tertawa, kecuali Juna. Mood nya hancur berantakan tidak bersisa karena hinaan dari Tiffany.

__ADS_1


"Kita mau acara lempar bunga sekarang yaaa.." "Yuk yang jomblo.. Siap-siap di depan."


Suara MC menyadarkan mereka semua.


"Yuk, Tiff, kita ke depan." ajak Jason. Dia menggengam tangan Tiffany dan membantu nya berdiri.


Juna menggebrak meja, membuat yang lain terkejut. Dia berjalan maju ke depan dengan langkah gontai.


"Dia kenapa?" tanya Jason bingung.


"Sudah biarkan saja. Mungkin dia sedang sakit."


Seolah menantang maut, Jason mengajak Tiffany untuk berdiri di samping Juna. Tiffany mencuri pandang pada Juna yang tampak sangat tampan.


"Aduh.." Tiff tersandung ketika beberapa wanita mendekat pada Juna.


Juna menengok, dia melihat Tiffany sudah ditolong oleh Jason.


"1... 2....3.." Aeris dan Reno melempar bunganya. Dan bunga itu jatuh ke tangan Juna. Juna spontan menangkapnya, lalu dia melempar pada Jo yang tepat di sampingnya.


Melihat Juna tidak mau menerima bunganya, MC segera menghampiri Juna untuk mengobrol dengan pria tampan itu.


Dasar Juna, dia tidak meladeni MC, malah memilih keluar dari kerumunan. Rasanya Juna tidak bisa lagi menahan amarahnya. Dia hanya melirik pada Tiffany sekilas, lalu kembali berjalan melewatinya.


"Jo, dia kenapa?" bisik Tiff pada Jo.


"Aduh, Tiff.. seharusnya setelah kembali dari America, otak mu bisa berkembang. Tapi ternyata sama saja." omel nya. "Jelas saja dia cemburu.."


*


*


*

__ADS_1


"Jun..." panggil Tiff. Dia memutuskan untuk mengejar Juna. Tapi karena memakai high heels, Tiff tidak dapat berjalan dengan cepat. Juna bahkan semakin menjauh.


Juna mendengar Tiffany, tapi dia tidak peduli dan tetap berjalan menuju ke parkiran.


"Juun.." panggil Tiffany lagi. Kali ini dia terpaksa berlari meskipun kaki nya sakit. Usaha Tiffany tidak sia-sia karena dia bisa menyusul Juna.


Dia menangkap lengan pria itu, sehingga Juna berhenti.


"Kenapa kamu pergi?" ucap Tiff sambil terengah-engah.


"Bukankah kamu yang lebih dulu pergi?" tanya Juna bingung. Tadinya Juna sangat senang menyambut kepulangan Tiffany, tapi ternyata Tiffany malah datang bersama pria lain.


"Baiklah.. Tapi peluk aku dulu sebelum kamu pergi."


Juna berbalik. Dia menatap Tiffany yang menunjukan wajah memelas.


Karena tak kunjung bergerak, akhirnya Tiffany segera mendekap Juna dengan erat. Dia sangat merindukan sosok itu. Dada bidang dan bau parfum Juna membuat Tiff nyaman untuk berlama-lama dalam dekapan Juna.


Tidak beda jauh dengan Tiff, emosi Juna menguap seketika ketika Tiffany memeluknya.


Dia mengusap punggung Tiff dengan lembut.


"Maafkan aku Tiff.." bisiknya tepat di telinga Tiffany.


"Diam dulu Jun." Tiffany mendekatkan telinganya pada dada Juna. "Aku ingin mengecek apakah kamu masih punya penyakit jantung?"


Juna tertawa. Fix, hanya Tiffany yang dapat menaklukan seorang Juna Liem. Moodnya bisa berubah seketika hanya dengan satu kalimat konyol dari Tiffany.


"Jadi bagaimana?" tanya Juna penasaran.


"Ya, jantung mu sepertinya akan melompat keluar."


"Kamu harus bertanggung jawab." goda Juna.

__ADS_1


"Jun,,Tiff,," panggil seseorang di belakang mereka.


__ADS_2